Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Instagram dan TikTok Disebut Lebih Buruk untuk Kesehatan Mental, Ini Temuan Studi Global

Kompas.com, 20 Maret 2026, 14:39 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Penggunaan media sosial ternyata tidak memberikan dampak yang sama terhadap kesehatan mental.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa Instagram dan TikTok dinilai lebih berdampak buruk dibandingkan WhatsApp dan Facebook.

Temuan ini disampaikan dalam World Happiness Report yang dikutip dari The Guardian (19/3/2026).

Baca juga: “Brain Rot” Ramai di Media Sosial, Pakar Ungkap Dampaknya bagi Otak

Aplikasi dengan sistem algoritma lebih berisiko

Laporan tersebut menjelaskan bahwa media sosial yang mengandalkan sistem algoritma, seperti Instagram dan TikTok, cenderung lebih berdampak negatif.

Aplikasi ini membuat pengguna terus melihat konten secara berulang tanpa henti. Kondisi ini dapat memicu rasa tidak puas dan memengaruhi kesehatan mental.

Sebaliknya, platform seperti WhatsApp dan Facebook lebih fokus pada komunikasi dengan orang lain. Hal ini membuat dampaknya terhadap kesejahteraan mental dinilai lebih baik.

Studi di 17 negara di Amerika Latin menunjukkan bahwa penggunaan WhatsApp dan Facebook berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.

Sementara itu, penggunaan Instagram, TikTok, dan X berkaitan dengan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah serta munculnya masalah kesehatan mental.

Baca juga: Menjaga Waras di Dunia yang Tak Stabil: Makna Hari Kesehatan Mental

Anak muda paling terdampak

Ilustrasi bermain media sosial. Penggunaan Instagram dan TikTok ternyata berkaitan dengan penurunan kesehatan mental, sementara WhatsApp justru menunjukkan dampak yang lebih positif, menurut studi global terbaru.Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi bermain media sosial. Penggunaan Instagram dan TikTok ternyata berkaitan dengan penurunan kesehatan mental, sementara WhatsApp justru menunjukkan dampak yang lebih positif, menurut studi global terbaru.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berdampak besar pada anak muda.

Banyak anak muda di berbagai negara merasa kurang bahagia akibat penggunaan media sosial. Dampak ini lebih terasa di negara-negara berbahasa Inggris dan wilayah Eropa Barat.

Penelitian lain di Timur Tengah dan Afrika Utara juga menemukan bahwa aplikasi yang bersifat visual dan pasif, terutama yang dipenuhi konten dari influencer, lebih berisiko bagi kesehatan mental.

Baca juga: Dokter Jelaskan Manfaat Jalan Kaki untuk Kesehatan Mental, Bantu Redakan Stres

Durasi penggunaan perlu diperhatikan

Selain jenis aplikasi, lama penggunaan media sosial juga memengaruhi kondisi mental.

Direktur Wellbeing Research Centre di University of Oxford, Prof Jan-Emmanuel De Neve, menjelaskan bahwa penggunaan dalam jumlah sedang justru lebih baik.

“Ada keseimbangan yang perlu dijaga, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Penggunaan dalam jumlah sedang bisa memberikan hasil terbaik,” ujar De Neve.

Ia menyebutkan bahwa penggunaan sekitar satu jam per hari berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Namun, rata-rata penggunaan dalam penelitian mencapai sekitar dua setengah jam per hari.

Pentingnya kembali ke fungsi awal media sosial

De Neve menekankan bahwa media sosial seharusnya digunakan untuk berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain.

“Kita perlu mengembalikan fungsi sosial dari media sosial, baik dari sisi pengguna maupun penyedia platform,” ujarnya.

Temuan ini juga menjadi perhatian di tengah kebijakan di beberapa negara, seperti Australia, yang melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Baca juga: Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Mood dan Kesehatan Mental, Ini Kata Dokter

Kesehatan mental dipengaruhi banyak faktor

Laporan tersebut juga menegaskan bahwa kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh media sosial.

Faktor lain seperti kondisi ekonomi, kecemasan terhadap masa depan, dan peluang kerja juga berperan besar. Hal ini terutama dirasakan oleh anak muda.

Karena itu, penggunaan media sosial perlu dilihat sebagai salah satu dari banyak faktor yang memengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan.

Baca juga: 5 Rutinitas Pagi Sebelum Jam 07.00 yang Dukung Kesehatan Mental dan Jantung

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau