Penulis
KOMPAS.com - Penggunaan media sosial ternyata tidak memberikan dampak yang sama terhadap kesehatan mental.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa Instagram dan TikTok dinilai lebih berdampak buruk dibandingkan WhatsApp dan Facebook.
Temuan ini disampaikan dalam World Happiness Report yang dikutip dari The Guardian (19/3/2026).
Baca juga: “Brain Rot” Ramai di Media Sosial, Pakar Ungkap Dampaknya bagi Otak
Laporan tersebut menjelaskan bahwa media sosial yang mengandalkan sistem algoritma, seperti Instagram dan TikTok, cenderung lebih berdampak negatif.
Aplikasi ini membuat pengguna terus melihat konten secara berulang tanpa henti. Kondisi ini dapat memicu rasa tidak puas dan memengaruhi kesehatan mental.
Sebaliknya, platform seperti WhatsApp dan Facebook lebih fokus pada komunikasi dengan orang lain. Hal ini membuat dampaknya terhadap kesejahteraan mental dinilai lebih baik.
Studi di 17 negara di Amerika Latin menunjukkan bahwa penggunaan WhatsApp dan Facebook berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi.
Sementara itu, penggunaan Instagram, TikTok, dan X berkaitan dengan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah serta munculnya masalah kesehatan mental.
Baca juga: Menjaga Waras di Dunia yang Tak Stabil: Makna Hari Kesehatan Mental
Ilustrasi bermain media sosial. Penggunaan Instagram dan TikTok ternyata berkaitan dengan penurunan kesehatan mental, sementara WhatsApp justru menunjukkan dampak yang lebih positif, menurut studi global terbaru.Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan berdampak besar pada anak muda.
Banyak anak muda di berbagai negara merasa kurang bahagia akibat penggunaan media sosial. Dampak ini lebih terasa di negara-negara berbahasa Inggris dan wilayah Eropa Barat.
Penelitian lain di Timur Tengah dan Afrika Utara juga menemukan bahwa aplikasi yang bersifat visual dan pasif, terutama yang dipenuhi konten dari influencer, lebih berisiko bagi kesehatan mental.
Baca juga: Dokter Jelaskan Manfaat Jalan Kaki untuk Kesehatan Mental, Bantu Redakan Stres
Selain jenis aplikasi, lama penggunaan media sosial juga memengaruhi kondisi mental.
Direktur Wellbeing Research Centre di University of Oxford, Prof Jan-Emmanuel De Neve, menjelaskan bahwa penggunaan dalam jumlah sedang justru lebih baik.
“Ada keseimbangan yang perlu dijaga, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Penggunaan dalam jumlah sedang bisa memberikan hasil terbaik,” ujar De Neve.
Ia menyebutkan bahwa penggunaan sekitar satu jam per hari berkaitan dengan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi. Namun, rata-rata penggunaan dalam penelitian mencapai sekitar dua setengah jam per hari.
De Neve menekankan bahwa media sosial seharusnya digunakan untuk berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain.
“Kita perlu mengembalikan fungsi sosial dari media sosial, baik dari sisi pengguna maupun penyedia platform,” ujarnya.
Temuan ini juga menjadi perhatian di tengah kebijakan di beberapa negara, seperti Australia, yang melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.
Baca juga: Jalan Kaki Bantu Tingkatkan Mood dan Kesehatan Mental, Ini Kata Dokter
Laporan tersebut juga menegaskan bahwa kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh media sosial.
Faktor lain seperti kondisi ekonomi, kecemasan terhadap masa depan, dan peluang kerja juga berperan besar. Hal ini terutama dirasakan oleh anak muda.
Karena itu, penggunaan media sosial perlu dilihat sebagai salah satu dari banyak faktor yang memengaruhi kesehatan mental secara keseluruhan.
Baca juga: 5 Rutinitas Pagi Sebelum Jam 07.00 yang Dukung Kesehatan Mental dan Jantung
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya