Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hutan Mangrove Bisa Kekurangan Oksigen akibat Pemanasan Global

Kompas.com, 13 Maret 2026, 08:18 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Hutan mangrove semakin terancam oleh kenaikan suhu air laut, menurut peneliti dari Universitas Gothenburg di Swedia yang mengamati 23 lokasi mangrove di dunia.

Air di hutan mangrove selalu berubah seiring pasang surutnya laut. Saat air surut, kadar oksigen menurun, sedangkan kadar karbon dioksida meningkat sehingga ikan dan makhluk laut lainnya menjadi lebih sulit untuk bernapas.

Baca juga: 

Hanya hewan yang sudah beradaptasi dengan lingkungan mangrove yang bisa bertahan dalam kondisi ini, dilansir dari Phys.org, Kamis (12/3/2026).

Ketika pasang, air laut yang segar membawa lebih banyak oksigen dan menurunkan kadar karbon dioksida

Pada waktu inilah spesies yang lebih sensitif, termasuk ikan-ikan yang penting bagi perdagangan, masuk ke dalam hutan mangrove untuk mencari makan atau berlindung.

Pemanasan global pengaruhi hutan mangrove

Ikan di hutan mangrove bisa kesulitan bernapas

Hutan mangrove semakin terancam oleh kenaikan suhu air laut, khususnya terkait kadar oksigen dan karbon dioksida yang berdampak pada ikan. Hutan mangrove semakin terancam oleh kenaikan suhu air laut, khususnya terkait kadar oksigen dan karbon dioksida yang berdampak pada ikan.

Pemanasan global yang meningkatkan suhu lautan di seluruh dunia pada akhirnya turut memengaruhi hutan mangrove.

Dengan menggunakan berbagai perkiraan iklim, para peneliti mempelajari bagaimana air di hutan mangrove akan berubah akibat lautan yang semakin panas dan kadar karbon dioksida yang terus meningkat.

Dalam semua skenario yang dipelajari, kondisi buruk menjadi semakin parah dan bertahan lebih lama sehingga mengurangi waktu bagi ikan dan makhluk laut lainnya untuk berlindung di hutan mangrove.

Dalam beberapa kasus, kondisinya bisa mencapai titik ketika banyak ikan akan benar-benar kesulitan untuk bernapas.

Untuk memahami seberapa sering perubahan pasang surut ini menciptakan kondisi buruk bagi kehidupan laut, kadar oksigen dan karbon dioksida di hutan mangrove seluruh dunia diukur secara bersamaan untuk pertama kalinya.

Studi yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters ini mengungkapkan adanya pola gangguan lingkungan yang terjadi secara global.

"Saya terkejut melihat banyak sistem mangrove ternyata sudah mengalami kondisi yang sangat ekstrem," kata ahli kimia kelautan di Universitas Gothenburg dan penulis utama studi ini, Gloria Reithmaier.

"Terutama di wilayah tropis yang hangat, terdapat periode panjang ketika kadar oksigen rendah dan karbon dioksida tinggi sehingga menyisakan sedikit waktu bagi ikan-ikan yang sensitif untuk masuk ke dalam hutan mangrove," tambah dia. 

Baca juga:

Hutan mangrove semakin terancam oleh kenaikan suhu air laut, khususnya terkait kadar oksigen dan karbon dioksida yang berdampak pada ikan.KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR Hutan mangrove semakin terancam oleh kenaikan suhu air laut, khususnya terkait kadar oksigen dan karbon dioksida yang berdampak pada ikan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau