Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Narasi Gaya Hidup Hijau Dinilai Berisiko Alihkan Tanggung Jawab Korporasi atas Krisis Iklim

Kompas.com, 31 Maret 2026, 17:04 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Narasi gaya hidup ramah lingkungan yang kerap digaungkan dalam berbagai kampanye dinilai berpotensi mengalihkan tanggung jawab atas krisis iklim dari korporasi kepada individu. Padahal, persoalan lingkungan bersifat sistemik dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui perubahan perilaku personal.

Dosen Universitas Teknologi Bandung, Erni Nurjanah, mengatakan bahwa narasi tersebut seharusnya dipahami sebagai redistribusi tanggung jawab, bukan pengalihan sepenuhnya dari perusahaan ke individu.

“Yang terpenting adalah memastikan peran individu tidak menggantikan, tetapi melengkapi tanggung jawab perusahaan,” ujar Erni dalam webinar "Greenwashing; Digital Transparency & ESG Data Importance", Selasa (31/3/2026).

Menurut dia, perubahan perilaku individu memang penting, tetapi dampak signifikan terhadap lingkungan tetap sangat bergantung pada peran perusahaan sebagai produsen dan pelaku utama dalam rantai ekonomi.

“Masalah lingkungan itu bersifat sistemik, jadi luas, bukan hanya tentang saling menyalahkan individu atau institusi,” kata Erni.

Pandangan serupa disampaikan dosen MILA University, Malaysia, Mimi Suriaty Abdul Rani. Ia menilai, menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama, namun dalam praktiknya, porsi tanggung jawab terbesar tetap berada pada perusahaan.

Terutama dalam kasus *greenwashing*, yakni praktik menciptakan kesan ramah lingkungan secara tidak jujur.

“Kalau bicara krisis lingkungan, memang tanggung jawabnya bersama. Tapi yang utama tetap perusahaan, karena merekalah yang memproduksi dan menentukan prosesnya,” ujar Mimi.

Komodifikasi Nilai Keberlanjutan

Erni menyoroti bahwa dalam praktik bisnis tertentu, nilai keberlanjutan kerap dikomodifikasi menjadi bagian dari strategi pasar.

Dalam konteks ini, keberlanjutan tidak sepenuhnya diposisikan sebagai nilai guna (use value) yang berdampak nyata pada lingkungan, melainkan sebagai nilai tukar (exchange value) untuk meningkatkan daya tarik produk.

“Nilainya jadi transaksional, untuk meningkatkan daya tarik di pasar. Itu realitas yang tidak bisa dihindari,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai praktik seperti greenwashing tidak sepenuhnya berdampak negatif. Dalam beberapa kasus, fenomena ini justru meningkatkan perhatian publik dan pasar terhadap isu keberlanjutan.

“Ada sisi skeptis, tetapi tidak mutlak buruk. Praktik ini juga bisa mendorong perhatian pasar terhadap sustainability,” kata Erni.

Tantangan Transisi dan Biaya Tinggi

Saat ini, Indonesia dinilai sedang berada dalam fase transisi, di mana nilai keberlanjutan berada di antara dua kepentingan: sebagai nilai moral dan sebagai nilai ekonomi.

Tantangannya adalah memastikan bahwa nilai ekonomi dari produk ramah lingkungan tetap didukung oleh manfaat nyata bagi lingkungan, melalui transparansi, akuntabilitas, dan regulasi yang kuat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau