Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banyak Anak Alami Cemas dan Depresi, Psikolog Imbau Orangtua Sediakan Waktu Khusus

Kompas.com, 16 Maret 2026, 18:05 WIB
Devi Pattricia,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

Konsultasi Tanya Pakar Parenting

Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel

Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com

KOMPAS.com - Hasil skrining kesehatan yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan ratusan ribu anak di Indonesia mengalami gejala kecemasan dan depresi.

Temuan tersebut diperoleh setelah sekitar 7 juta anak mengikuti pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada periode 2025–2026. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak menunjukkan gejala kecemasan (anxiety disorder). 

Baca juga: Ratusan Ribu Anak Indonesia Terdeteksi Alami Cemas dan Depresi, Waspadai Tandanya

Sementara itu, sekitar 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak lainnya menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Melihat kondisi tersebut, para psikolog menilai orangtua memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental anak. Salah satu cara yang disarankan adalah menyediakan waktu khusus untuk membangun kedekatan dengan anak.

Pentingnya membangun kedekatan dengan anak

Psikolog klinis anak dan remaja Lydia Agnes Gultom, M.Psi. mengatakan, salah satu langkah sederhana namun penting yang dapat dilakukan orangtua adalah membangun kedekatan emosional melalui waktu khusus bersama anak.

“Rekomendasi realistis yang sering saya sampaikan dan ajak ke orang tua biasanya adalah membangun bonding dengan special time,” jelas dia saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).

Menurut Lydia, waktu khusus tersebut tidak harus berlangsung lama. Orangtua hanya perlu menyediakan waktu singkat, tetapi berkualitas untuk berinteraksi dengan anak.

“Biarkan anak yang me-lead aktivitas atau kegiatannya, bisa bermain, membuat sesuatu atau hanya misalnya ngobrol,” ujarnya.

Psikolog anak dan remaja Gloria Siagian, M.Psi. juga menekankan, kehadiran orangtua dalam kehidupan sehari-hari anak sangat penting untuk membangun koneksi emosional.

“Biasakan untuk punya waktu buat anak. Sibuk kerja boleh, tapi paling tidak setiap hari punya waktu,” kata Gloria.

Dengan kehadiran orangtua yang konsisten, anak akan merasa diperhatikan dan memiliki ruang untuk mengekspresikan perasaannya.

Baca juga: Banyak Anak Indonesia Alami Gejala Cemas dan Depresi, Psikolog Jelaskan Penyebabnya

Cukup 10 hingga 20 menit setiap hari

Lydia menjelaskan bahwa waktu khusus bersama anak tidak perlu berlangsung lama. Bahkan, waktu sekitar 15 hingga 20 menit setiap hari sudah dapat memberikan dampak positif bagi hubungan orangtua dan anak.

Special time ini tanpa disambi oleh kegiatan lain dan bebas distraksi. Tahan juga keinginan untuk menasehati atau memberikan koreksi ke anak,” ujar Lydia.

Dalam waktu tersebut, orangtua dianjurkan untuk benar-benar hadir dan fokus pada anak. Aktivitas yang dilakukan juga sebaiknya mengikuti keinginan anak agar mereka merasa didengarkan dan dihargai.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau