Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

150 Hektar Lahan Pertanian Padi Sawah di Simalungun Terlantar Akibat Pengalihan Sumber Mata Air

Kompas.com, 31 Maret 2026, 23:00 WIB
Teguh Pribadi,
Novita Rahmawati

Tim Redaksi

Padahal sebelumnya, dari 15 rante sawah yang ia kelola dapat menghasilkan gabah paling sedikitnya 80 goni dengan hasil senilai Rp.10 juta dari masa tanam 4 bulan.

Baca juga: Banjir Akibat Tanggul Jebol Rendam Sawah di Pekalongan, Gubernur Dorong Normalisasi Sungai

“Kalau harapan kami bagaimana agar air masuk ke persawahan seperti semula. Kalau tanam jagung nggak bisa karena kemarau,” tambahnya.

Di sisi lain, beberapa petani lainnya berinisiatif menanam padi dengan memanfaatkan air seadanya, berujung hasil pertaniannya gagal dan muncul penyakit dan hama.

Ada lagi petani yang nekat mengganti tanaman dari padi ke jagung, namun mengalami kekeringan akibat kemarau.

Padi sawah seluas 10 rante yang ditanami Hotmaida Sitinjak pada Desember 2025, hasilnya jauh dari untung. Biasanya ia dapat 50 goni gabah, kali ini jumlahnya turun drastis.

Baca juga: Koster Akui Lahan Sawah di Bali Terus Berkurang, Sisa 68 Ribu Hektar

“Masa tanam seharusnya Oktober 2025 dan panen bulan Maret tahun ini. Ini karena ada air hujan dan sisa air kemarin kita tanami padi Desember lalu,” ucap Hotmaida.

“Sankin nggak ada air banyak tikus. Padi nya mati satu hari dan banyak penyakit,” sambung anggota Kelompok Tani Pitopit Mujur ini.

Ia mengatakan, satu bulan yang lalu para petani dan aparat desa meminta pihak pemerintah kecamatan untuk mencari solusi atas persoalan ini. Namun hingga kini belum ada jalan keluarnya.

“Kami nggak punya pekerjaan sampingan. Kami semua hidup dari hasil pertanian ini. Sekarang kami terancam kehilangan pekerjaan," ucap dia.

Baca juga: Rute Sawah ke Tol Purwomartani Dihapus dari Google Maps, Pemudik Diarahkan ke Jalur Utama

Ditemui terpisah, Kabag Humas Perumda Tirta Uli Dorlim Pasaribu menyebut kekeringan lahan pertanian dipicu oleh banyak faktor, salah satunya tata guna lahan di hulu sumber mata air.

“Bangunan Reservoir atau waduk itu  tidak menghalangi aliran irigasi ke lahan pertanian. Jadi nggak ada masalah ke irigasi, karena air ke irigasi sumbernya dari bendar dan sebagian dari mata air,” kata Dorlim saat ditemui di ruang kerjanya.

Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Uli Arianto menjelaskan pemanfaatan sumber mata air Aek Nauli untuk air minum melalui penilaian Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera Utara.

Menurut Arianto, kekeringan ini disebabkan karena musim kemarau, yang dimana debit air di umbul berkurang sehingga pelayanan air minum pelanggan juga terganggu.

Baca juga: Dua Kali Ledakan Gegerkan Warga Tasikmadu, Korban Sempat Berlarian ke Sawah

Proses pemanfaatan air ini, kata dia, Perumda Tirta Uli menyurati Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk pemanfaatan sumber mata air Aek Nauli. Pemanfaatan air dimulai sejak Tahun 2014.

“Setelah mendapat izin pemerintah Kabupaten Simalungun baru kita bersurat ke BWS Provinsi Sumatera Utara, kemudian BWS Provinsi Sumut melakukan kajian ke lapangan. Setelah mendapatkan izin dr BWS Provinsi baru kita lakukan pembangunan,” kata Arianto saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sidang Korupsi Jalan Sumut, Topan Ginting Divonis 5 Tahun 6 Bulan Penjara
Sidang Korupsi Jalan Sumut, Topan Ginting Divonis 5 Tahun 6 Bulan Penjara
Medan
Respons Kejari Karo Usai Amsal Sitepu Divonis Bebas: Kami Pikir-pikir...
Respons Kejari Karo Usai Amsal Sitepu Divonis Bebas: Kami Pikir-pikir...
Medan
Selama Libur Lebaran 360 Ribu Wisatawan Berkunjung ke Sumut, Terbanyak ke Samosir
Selama Libur Lebaran 360 Ribu Wisatawan Berkunjung ke Sumut, Terbanyak ke Samosir
Medan
Tiga Kasus Jual Beli Bayi Terungkap di Sumatera, Terbaru Digagalkan di Tol Marelan
Tiga Kasus Jual Beli Bayi Terungkap di Sumatera, Terbaru Digagalkan di Tol Marelan
Medan
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Tak Ada Lagi Pejuang Ekonomi Kreatif yang Dikriminalisasi
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Tak Ada Lagi Pejuang Ekonomi Kreatif yang Dikriminalisasi
Medan
Tak Terbukti Korupsi, Ini Pertimbangan Hakim PN Medan Bebaskan Videografer Amsal Sitepu
Tak Terbukti Korupsi, Ini Pertimbangan Hakim PN Medan Bebaskan Videografer Amsal Sitepu
Medan
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Terima Kasih Bapak Presiden Prabowo...
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Terima Kasih Bapak Presiden Prabowo...
Medan
Dinyatakan Bebas dari Kasus Korupsi Video Profil Desa, Amsal Sitepu: Ini Air Mata Kemenangan
Dinyatakan Bebas dari Kasus Korupsi Video Profil Desa, Amsal Sitepu: Ini Air Mata Kemenangan
Medan
Tangis Videografer Amsal Sitepu Pecah Usai Divonis Bebas, Tak Terbukti Korupsi Video Profil Desa
Tangis Videografer Amsal Sitepu Pecah Usai Divonis Bebas, Tak Terbukti Korupsi Video Profil Desa
Medan
Puting Beliung Terjang Deli Serdang, 100 Rumah Rusak di 4 Kecamatan
Puting Beliung Terjang Deli Serdang, 100 Rumah Rusak di 4 Kecamatan
Medan
Hakim PN Medan Vonis Bebas Videografer Amsal Sitepu di Kasus Dugaan Korupsi Video Profil Desa
Hakim PN Medan Vonis Bebas Videografer Amsal Sitepu di Kasus Dugaan Korupsi Video Profil Desa
Medan
Terbongkarnya Sindikat Jual-beli Bayi Saat Transaksi di Pintu Tol Marelan, 6 Orang Ditangkap
Terbongkarnya Sindikat Jual-beli Bayi Saat Transaksi di Pintu Tol Marelan, 6 Orang Ditangkap
Medan
Kajari dan Kasi Pidsus Karo Diperiksa Terkait Kasus Videografer Amsal Sitepu
Kajari dan Kasi Pidsus Karo Diperiksa Terkait Kasus Videografer Amsal Sitepu
Medan
Link Live Streaming Sidang Vonis Kasus Dugaan Korupsi Videografer Amsal Sitepu Hari Ini di PN Medan
Link Live Streaming Sidang Vonis Kasus Dugaan Korupsi Videografer Amsal Sitepu Hari Ini di PN Medan
Medan
Topan Ginting, Eks Kadis PUPR Sumut Jalani Sidang Vonis Kasus Korupsi Jalan
Topan Ginting, Eks Kadis PUPR Sumut Jalani Sidang Vonis Kasus Korupsi Jalan
Medan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau