Padahal sebelumnya, dari 15 rante sawah yang ia kelola dapat menghasilkan gabah paling sedikitnya 80 goni dengan hasil senilai Rp.10 juta dari masa tanam 4 bulan.
Baca juga: Banjir Akibat Tanggul Jebol Rendam Sawah di Pekalongan, Gubernur Dorong Normalisasi Sungai
“Kalau harapan kami bagaimana agar air masuk ke persawahan seperti semula. Kalau tanam jagung nggak bisa karena kemarau,” tambahnya.
Di sisi lain, beberapa petani lainnya berinisiatif menanam padi dengan memanfaatkan air seadanya, berujung hasil pertaniannya gagal dan muncul penyakit dan hama.
Ada lagi petani yang nekat mengganti tanaman dari padi ke jagung, namun mengalami kekeringan akibat kemarau.
Padi sawah seluas 10 rante yang ditanami Hotmaida Sitinjak pada Desember 2025, hasilnya jauh dari untung. Biasanya ia dapat 50 goni gabah, kali ini jumlahnya turun drastis.
Baca juga: Koster Akui Lahan Sawah di Bali Terus Berkurang, Sisa 68 Ribu Hektar
“Masa tanam seharusnya Oktober 2025 dan panen bulan Maret tahun ini. Ini karena ada air hujan dan sisa air kemarin kita tanami padi Desember lalu,” ucap Hotmaida.
“Sankin nggak ada air banyak tikus. Padi nya mati satu hari dan banyak penyakit,” sambung anggota Kelompok Tani Pitopit Mujur ini.
Ia mengatakan, satu bulan yang lalu para petani dan aparat desa meminta pihak pemerintah kecamatan untuk mencari solusi atas persoalan ini. Namun hingga kini belum ada jalan keluarnya.
“Kami nggak punya pekerjaan sampingan. Kami semua hidup dari hasil pertanian ini. Sekarang kami terancam kehilangan pekerjaan," ucap dia.
Baca juga: Rute Sawah ke Tol Purwomartani Dihapus dari Google Maps, Pemudik Diarahkan ke Jalur Utama
Ditemui terpisah, Kabag Humas Perumda Tirta Uli Dorlim Pasaribu menyebut kekeringan lahan pertanian dipicu oleh banyak faktor, salah satunya tata guna lahan di hulu sumber mata air.
“Bangunan Reservoir atau waduk itu tidak menghalangi aliran irigasi ke lahan pertanian. Jadi nggak ada masalah ke irigasi, karena air ke irigasi sumbernya dari bendar dan sebagian dari mata air,” kata Dorlim saat ditemui di ruang kerjanya.
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Tirta Uli Arianto menjelaskan pemanfaatan sumber mata air Aek Nauli untuk air minum melalui penilaian Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera Utara.
Menurut Arianto, kekeringan ini disebabkan karena musim kemarau, yang dimana debit air di umbul berkurang sehingga pelayanan air minum pelanggan juga terganggu.
Baca juga: Dua Kali Ledakan Gegerkan Warga Tasikmadu, Korban Sempat Berlarian ke Sawah
Proses pemanfaatan air ini, kata dia, Perumda Tirta Uli menyurati Pemerintah Kabupaten Simalungun untuk pemanfaatan sumber mata air Aek Nauli. Pemanfaatan air dimulai sejak Tahun 2014.
“Setelah mendapat izin pemerintah Kabupaten Simalungun baru kita bersurat ke BWS Provinsi Sumatera Utara, kemudian BWS Provinsi Sumut melakukan kajian ke lapangan. Setelah mendapatkan izin dr BWS Provinsi baru kita lakukan pembangunan,” kata Arianto saat dikonfirmasi melalui pesan tertulis.