Penulis
Dalam konteks tekanan biaya hidup tersebut, fenomena pekerjaan sampingan (side job atau side hustle) menjadi semakin relevan.
Survei Deloitte mencatat sekitar sepertiga Gen Z dan milenial memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama mereka.
Alasan utamanya bersifat finansial: 37 persen Gen Z dan 41 persen milenial menyebut kebutuhan akan sumber pendapatan tambahan sebagai alasan utama.
Namun motivasinya tidak semata soal uang. Sekitar 30 persen dari kedua generasi menyatakan pekerjaan sampingan membantu mereka mengembangkan keterampilan dan relasi penting.
Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
Ilustrasi bekerja.Sebanyak 28 persen Gen Z dan 30 persen milenial menyebutnya sebagai hobi, dan 25 persen mengatakan pekerjaan sampingan memungkinkan mereka memberi dampak positif bagi komunitas atau masyarakat.
Temuan Deloitte mengenai fenomena side hustle juga menunjukkan tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi mendorong pekerja muda mencari diversifikasi pendapatan.
Di satu sisi, pekerjaan sampingan menjadi bantalan finansial.
Di sisi lain, pekerjaan sampingan juga menjadi ruang eksplorasi identitas dan pengembangan diri, terutama ketika pekerjaan utama belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan finansial maupun makna personal.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
Survei Deloitte merangkum dinamika ini dalam satu kerangka, yakni kebahagiaan pekerja muda bertumpu pada tiga pilar: money, meaning, dan well-being alias uang, makna, dan kesejahteraan.
Ketiganya saling terkait. Tanpa rasa aman finansial, responden cenderung memiliki tingkat kesejahteraan mental yang lebih rendah dan lebih sulit menemukan makna dalam pekerjaan.
Sebanyak 62 persen Gen Z dan 68 persen milenial yang puas dengan gaji dan tunjangan melaporkan kondisi mental yang baik. Sebaliknya, hanya 39 persen Gen Z dan 44 persen milenial yang tidak puas dengan gaji dan tunjangan yang melaporkan kondisi mental baik.
Kepuasan terhadap kompensasi juga berhubungan dengan persepsi makna. Sebanyak 63 persen Gen Z dan 69 persen milenial yang puas dengan gaji percaya pekerjaan mereka memungkinkan kontribusi bermakna bagi masyarakat.
Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
Angka ini turun menjadi 43 persen dan 44 persen pada kelompok yang tidak puas dengan kompensasi.
Ilustrasi Gen Z Kekhawatiran finansial juga tercermin dalam mobilitas karier yang tinggi. Hampir sepertiga Gen Z (31 persen) berencana berpindah perusahaan dalam dua tahun ke depan, sementara 17 persen milenial menyatakan hal serupa.