Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Perdebatan mengenai generasi muda di dunia kerja kembali mencuat dalam beberapa tahun terakhir.
Gen Z dan milenial kerap disebut lebih mudah mengalami burnout dibanding generasi sebelumnya.
Mereka juga sering mendapat stigma sebagai pekerja yang kurang tahan tekanan, terlalu menuntut keseimbangan hidup, atau kurang loyal terhadap pekerjaan.
Baca juga: Gen Z, Siapkah Hadapi Peluang Karier dan Investasi di Tahun Kuda Api 2026?
Ilustrasi Gen Z di tempat kerjaNamun, profesor praktik manajemen di New York University (NYU) sekaligus penulis bisnis, Suzy Welch, melihat fenomena tersebut dari sudut pandang berbeda.
Menurut dia, generasi muda tidak mengalami burnout karena bekerja lebih keras, melainkan karena mereka kehilangan keyakinan bahwa kerja keras akan membawa hasil yang sepadan.
Pandangan tersebut muncul dalam percakapan Welch di podcast Masters of Scale yang kemudian dilaporkan oleh Fortune. Ia menilai perbedaan utama antara generasi muda dan generasi sebelumnya terletak pada tingkat harapan terhadap masa depan karier dan kehidupan ekonomi.
Welch menjelaskan, intensitas kerja sebenarnya bukan faktor utama yang membedakan generasi muda dengan generasi sebelumnya.
Baca juga: Survei: BNPL Kian Diminati Gen Z dan Milenial, Bank Hadapi Tantangan Loyalitas
Banyak pekerja pada generasi baby boomer atau generasi X juga menjalani jam kerja panjang ketika mereka berada di usia 20-an.
Dalam percakapan di podcast tersebut, Welch bahkan menceritakan pengalamannya sendiri ketika masih muda. Ia mengatakan pernah bekerja hampir tanpa henti selama masa awal kariernya.
Namun, ia merasa pekerjaan tersebut tetap memberi kepuasan karena ada keyakinan bahwa kerja keras akan membawa kemajuan.
Zodiak yang Rentan Burnout di KantorMenurut Welch, perbedaan mendasar muncul ketika ia berdialog dengan seorang pekerja lepas berusia 25 tahun. Pekerja muda itu meminta Welch membuat lebih banyak konten tentang kelelahan kerja yang dialami generasi muda.
Baca juga: Survei Glassdoor: 68 Persen Gen Z Tak Tertarik Jadi Manajer
Welch menjawab, ketika ia berada di usia yang sama, ia juga bekerja hampir setiap hari dalam seminggu dan bahkan menikmati ritme tersebut.
Respons yang ia terima dari pekerja muda itu justru mengubah perspektifnya. Pekerja tersebut menjawab singkat: “Tapi Anda memiliki harapan.”
Welch kemudian mengakui bahwa pernyataan tersebut benar.
Ia mengatakan, “Dan saya memiliki harapan. Kita semua memiliki harapan."
Baca juga: Studi Randstad: Gen Z Hanya Bertahan 1,1 Tahun di Pekerjaan Pertama
Menurutnya, generasi sebelumnya percaya bahwa kerja keras akan membawa hasil nyata, seperti promosi, kestabilan finansial, atau kemampuan membeli rumah.
“Kami percaya bahwa jika Anda bekerja keras, Anda akan mendapatkan imbalannya. Dan di sinilah letak kesenjangannya,” kata Welch.
Ia menilai kesenjangan harapan inilah yang menjadi penyebab utama munculnya burnout di kalangan generasi muda.
Welch menyebut kondisi ini sebagai “krisis harapan”. Menurutnya, banyak pekerja muda tidak lagi yakin bahwa upaya yang mereka lakukan akan menghasilkan kehidupan yang lebih baik.
Baca juga: Gen Z Jadi Akselerator Pertumbuhan E-wallet
Perasaan tersebut muncul dari berbagai tekanan ekonomi dan sosial yang mereka hadapi saat memasuki dunia kerja.
Salah satu faktor yang sering disebut adalah biaya hidup yang terus meningkat. Harga perumahan dan kebutuhan dasar meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan.
Ilustrasi burnout.Dalam kondisi tersebut, banyak pekerja muda merasa bahwa kerja keras tidak lagi menjamin stabilitas finansial atau mobilitas ekonomi.
Situasi ini membuat generasi muda memandang masa depan dengan lebih skeptis dibandingkan generasi sebelumnya.
Baca juga: Survei: 46 Persen Gen Z Pilih Stabilitas Finansial Ketimbang Cinta
Pandangan Welch juga didukung sejumlah data mengenai kondisi psikologis pekerja muda.
Survei Gallup pada 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 31 persen pekerja di bawah usia 35 tahun yang merasa “berkembang” atau thriving dalam hidup mereka.