Penulis
Adopsi teknologi tersebut menjadi bagian dari perubahan perilaku finansial yang lebih luas, di mana digitalisasi memengaruhi cara generasi muda mengakses, memahami, dan menilai peluang investasi.
Baca juga: Pakar Ungkap, Gen Z dan Milenial Mudah Burnout karena Kehilangan Harapan
Meski terlihat lebih aktif di pasar investasi, pendekatan Gen Z tidak sepenuhnya didorong oleh optimisme terhadap sistem keuangan tradisional.
WEF menekankan, faktor kepercayaan memainkan peran penting dalam membentuk perilaku investasi generasi ini. Sekitar satu dari lima Gen Z yang tidak berinvestasi menyebutkan alasan utama mereka adalah kurangnya kepercayaan terhadap lembaga keuangan.
Namun, gambaran kepercayaan ini tidak bersifat hitam-putih. Berdasarkan Edelman Trust in Financial Services Barometer, tingkat kepercayaan Gen Z terhadap perusahaan jasa keuangan sebenarnya relatif setara dengan generasi lain.
Meski demikian, secara keseluruhan terjadi penurunan kepercayaan terhadap institusi tradisional, baik keuangan maupun teknologi, dalam dua tahun terakhir.
Baca juga: Gen Z, Siapkah Hadapi Peluang Karier dan Investasi di Tahun Kuda Api 2026?
Ilustrasi Gen Z Situasi ini menunjukkan adanya paradoks. Di satu sisi, Gen Z lebih aktif berinvestasi dan terbuka terhadap inovasi finansial.
Namun, di sisi lain, mereka juga menunjukkan sikap skeptis terhadap institusi yang telah lama menjadi pilar sistem keuangan.
Lingkungan digital yang membentuk pengalaman hidup Gen Z turut memengaruhi pola pengambilan keputusan finansial mereka.
Generasi ini tumbuh bersama kemunculan perusahaan teknologi besar dan platform media sosial, yang kini menjadi sumber utama informasi investasi.
Baca juga: Gen Z dan Tantangan Awal Karier: Lowongan Turun, Persaingan Naik
Penelitian WEF sebelumnya menunjukkan, Gen Z hampir lima kali lebih mungkin mencari nasihat keuangan melalui media sosial dibandingkan individu berusia di atas 41 tahun.
Fenomena munculnya “finfluencer” alias influencer yang memberikan edukasi atau rekomendasi finansial menjadi bagian dari lanskap baru dalam industri investasi ritel.
Perubahan ini turut mendorong perusahaan jasa keuangan untuk menyesuaikan strategi komunikasi dan pendekatan layanan mereka.
Selain itu, kemajuan teknologi memungkinkan personalisasi layanan keuangan, termasuk melalui pemanfaatan AI yang dapat memberikan rekomendasi berbasis data dan preferensi pengguna.
Baca juga: Survei: BNPL Kian Diminati Gen Z dan Milenial, Bank Hadapi Tantangan Loyalitas
Perilaku investasi Gen Z juga dipengaruhi oleh nilai dan prioritas yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
WEF menyoroti generasi muda semakin memperhatikan tujuan investasi yang tidak hanya berfokus pada keuntungan finansial, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan.