Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir diperkirakan menghapus capaian pertumbuhan ekonomi kawasan Arab yang telah dibangun selama lebih dari satu tahun terakhir.
Laporan terbaru dari United Nations Development Programme (UNDP) menyebutkan, dampak konflik tersebut berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi dalam skala besar, sekaligus meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran di kawasan.
Dalam rilis resmi yang diterbitkan Selasa (31/3/2026), UNDP memperkirakan bahwa eskalasi militer di kawasan Timur Tengah yang kini memasuki minggu kelima dapat memangkas Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan Arab sebesar 3,7 persen hingga 6,0 persen.
Baca juga: Jepang dan Indonesia Lakukan Upaya Redakan Ketegangan di Timur Tengah
Ledakan di salah satu bangunan Lebanon yang diserang Israel di Desa Abbasiyyeh, 13 Maret 2026. Israel menyerang Hizbullah di Lebanon dalam lanjutan perang Iran yang meluas di Timur Tengah.Kerugian tersebut setara dengan 120 miliar dollar AS hingga 194 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 2.036 triliun hingga Rp 3.291 triliun (asumsi kurs Rp 16.968 per dollar AS).
Nilai ini bahkan melampaui total pertumbuhan ekonomi kawasan yang dicapai sepanjang tahun 2025.
Selain itu, konflik juga diperkirakan menyebabkan lonjakan pengangguran hingga 4 poin persentase, dengan potensi kehilangan sekitar 3,6 juta lapangan kerja.
Angka ini lebih besar dibandingkan total pekerjaan yang berhasil diciptakan di kawasan tersebut sepanjang 2025.
Baca juga: Rupiah Anjlok Sentuh Rp 17.041 Per Dollar AS, Perang di Timur Tengah Jadi Biang Kerok
Dampak sosial dari konflik tidak kalah signifikan. UNDP memperkirakan hingga 4 juta orang di kawasan Arab dapat terdorong ke dalam kemiskinan akibat memburuknya kondisi ekonomi.
Laporan tersebut menyoroti bahwa guncangan ekonomi akibat konflik dapat dengan cepat memperburuk kondisi sosial, terutama di wilayah yang sudah memiliki tingkat kerentanan tinggi.
Citra satelit dari Planet Labs PBC memperlihatkan sisa kebakaran dari serangan Iran di Dubai, Uni Emirat Arab, Minggu (1/3/2026). Iran menargetkan pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah untuk membalas serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.“Temuan kami menunjukkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat kolaborasi regional guna mendiversifikasi ekonomi, melampaui ketergantungan pada hidrokarbon,” ujar Asisten Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Direktur Biro Regional Negara Arab UNDP, Abdallah AlDardari.
Ia menambahkan, kawasan perlu memperluas basis produksi, mengamankan sistem perdagangan dan logistik, serta memperluas kemitraan ekonomi untuk mengurangi paparan terhadap guncangan dan konflik.
Baca juga: Konflik Timur Tengah Semakin Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak
UNDP mencatat, dampak ekonomi konflik tidak terjadi secara merata di seluruh kawasan Arab. Besarnya dampak sangat bergantung pada struktur ekonomi masing-masing subwilayah.
Kerugian ekonomi terbesar diperkirakan terjadi di kawasan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) dan Levant, yang sangat bergantung pada perdagangan internasional dan stabilitas pasar energi.
Di kedua wilayah tersebut, PDB diperkirakan menyusut antara 5,2 persen hingga 8,5 persen di GCC dan 5,2 persen hingga 8,7 persen di Levant.
Penurunan ini dipicu oleh gangguan perdagangan, volatilitas harga energi, serta menurunnya investasi dan aktivitas ekonomi.
Baca juga: Wall Street Bergerak Variasi di Tengah Lonjakan Harga Minyak dan Konflik Timur Tengah