JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Jepang resmi memperketat keran insentif untuk seluruh kendaraan roda empat listrik (electric vehicle/EV), yang berdampak langsung pada produsen asing seperti BYD.
Subsidi untuk mobil listrik raksasa asal China itu kini hanya sebesar 150.000 yen atau sekitar Rp 15 jutaan. Angka tersebut turun signifikan dari sebelumnya yang berada pada kisaran 350.000 yen hingga 400.000 yen, setara Rp 35 juta–Rp 40 jutaan.
Dikutip Carscoops, penyesuaian ini diambil seiring perubahan skema subsidi yang lebih menitikberatkan pada penggunaan komponen lokal, khususnya baterai.
Baca juga: Harga BBM Pertamina Resmi Tidak Naik 1 April 2026, Ini Daftarnya
Lepas L8, mobil listrik baru di IIMS 2026.Kendaraan dengan baterai produksi dalam negeri mendapatkan insentif lebih besar, sementara model dengan komponen impor mengalami penurunan nilai subsidi.
Kondisi tersebut membuat posisi BYD semakin tertekan, mengingat mereka masih mengandalkan baterai dari negaranya.
Sebaliknya, produsen lokal tetap diuntungkan. Toyota bZ4X mendapat subsidi hingga 1,3 juta yen atau sekitar Rp 130 jutaan, sementara Nissan Ariya berada di kisaran 1,29 juta yen atau Rp 129 jutaan.
Meski demikian, menariknya, Tesla justru memperoleh insentif sekitar 1,27 juta yen atau Rp 127 jutaan, yang dikaitkan dengan penggunaan baterai dari Panasonic.
Hal serupa juga terjadi pada merek Eropa seperti Audi serta pabrikan Korea Selatan, Hyundai, yang sempat menikmati kenaikan subsidi.
Namun, pemerintah Jepang memastikan bahwa sebagian insentif tersebut hanya bersifat sementara dan akan kembali disesuaikan mulai tahun depan.
Presiden BYD Jepang, Atsuki Tofukuji, mengakui ketimpangan tersebut membuat persaingan menjadi semakin berat.
Baca juga: Masyarakat Jangan Dibebani Kenaikan Tarif Angkutan Umum
Toyota bZ4X Touring“Kami berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Selisih dengan perusahaan seperti Toyota bisa mendekati 1 juta yen (sekitar Rp 100 juta). Dengan insentif 350.000 yen saja kami sudah sulit bersaing,” ujarnya.
Dengan perbedaan insentif yang kian lebar dibanding produsen seperti Toyota Motor Corporation, ruang gerak BYD di pasar Jepang diperkirakan semakin terbatas, terutama di tengah penetrasi kendaraan listrik yang masih rendah di negara tersebut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang