KOMPAS.com – Divisi Google yang biasa fokus menghadirkan inovasi dalam teknologi dunia, Google Research memperkenalkan teknologi baru bernama TurboQuant.
Ini merupakan sebuah algoritma kompresi memori kecerdasan buatan (AI) yang diklaim sangat efisien tanpa mengorbankan performa.
Yang menarik, kemunculan teknologi ini langsung memicu candaan di internet. Banyak yang menyebut TurboQuant sebagai “Pied Piper”, merujuk pada startup fiktif di serial rilisan HBO, Silicon Valley.
Dalam serial tersebut, Pied Piper adalah perusahaan yang memiliki algoritma kompresi, di mana algoritma ini mampu mengecilkan ukuran file secara drastis tanpa kehilangan kualitas.
Kemiripan konsep inilah yang membuat TurboQuant dianggap seperti Pied Piper, tapi di dunia nyata, bukan serial fiktif.
Bedanya, jika Pied Piper fokus pada kompresi file umum, TurboQuant menyasar salah satu penghambat (bottleneck) utama dalam sistem AI modern, yaitu kinerja memori saat proses inferensi AI.
Kembali ke teknologi anyar Google Research tadi, TurboQuant dirancang untuk mengurangi penggunaan “working memory” AI, khususnya pada komponen yang disebut "KV cache" (memori sementara saat model memproses data).
Dengan teknik berbasis penyederhanaan sekumpulan angka dan data (vector quantization), teknologi ini diklaim mampu:
Peneliti mengklaim efisiensi yang dihasilkan bisa mencapai setidaknya 6 kali lebih hemat memori dibanding metode konvensional.
Baca juga: Stok RAM Laptop Sedunia Sisa 30 Persen, Harga Kulkas Bakal Naik
Ilustrasi cara kerja TurboQuant oleh Google Research.Google Research menyebut teknologi ini didukung dua pendekatan atau teknik utama, yaitu PolarQuant dan Quantization-aware Joint Learning (QJL).
PolarQuant akan bisa mengubah cara data direpresentasikan agar lebih efisien dan kualitas atau akurasinya tak berkurang ketika dikompres.
Sedangkan QJL adalah teknik yang akan melatih AI supaya "sadar" bahwa data yang hendak diproses akan dikompres, sehingga tak ada kekeliruan dalam proses akhirnya.
Sejumlah pelaku industri menilai TurboQuant sebagai terobosan penting. CEO Cloudflare, Matthew Prince, bahkan menyebutnya sebagai “momen DeepSeek” bagi Google.
Istilah ini merujuk pada efisiensi model AI asal China, DeepSeek, yang mampu bersaing dengan biaya pelatihan jauh lebih rendah dibanding rivalnya.
Baca juga: Krisis Memori Belum Reda, Diramal Berlanjut hingga 2030