KOMPAS.COM - Suku Bajau dikenal luas sebagai penjelajah laut atau sea nomads yang kehidupannya sangat lekat dengan lautan.
Selama ratusan tahun, kelompok ini hidup berpindah-pindah di atas air, menjadikan laut sebagai rumah, sumber makanan, sekaligus identitas budaya mereka.
Keunikan gaya hidup ini membuat Suku Bajau menjadi salah satu komunitas paling menarik untuk dipelajari, bahkan hingga kini masih bisa ditemui di beberapa wilayah Indonesia.
Suku Bajau atau Bajau Laut merupakan kelompok etnis yang tersebar di wilayah perairan Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Mereka telah hidup di laut selama berabad-abad dan dikenal sebagai salah satu komunitas nomaden terakhir di dunia.
Menurut sumber dari Barefoot Cruising Indonesia, Bajau adalah “salah satu suku laut nomaden terakhir yang telah hidup di laut selama berabad-abad”.
Secara historis, mereka diyakini berasal dari migrasi Austronesia ribuan tahun lalu dan kemudian berkembang menjadi masyarakat yang sangat bergantung pada ekosistem laut.
Baca juga: Ada Libur 3 Hari Berturut Turut Bulan April 2026, Catat Tanggalnya!
Dulu, banyak anggota suku ini tinggal di perahu tradisional yang disebut lepa-lepa, berlayar dari satu wilayah ke wilayah lain selama berbulan-bulan. Namun saat ini, sebagian dari mereka mulai menetap di rumah-rumah panggung di atas laut atau di pesisir.
Salah satu hal paling menakjubkan dari Suku Bajau adalah kemampuan menyelam mereka. Mereka mampu bertahan di bawah air jauh lebih lama dibanding manusia pada umumnya.
Penelitian menunjukkan bahwa sebagian anggota Bajau bisa menyelam hingga belasan menit dan mencapai kedalaman puluhan meter tanpa alat bantu.
Foto dirilis Senin (7/9/2020), memperlihatkan pemandangan udara permukiman Suku Bajau Torosiaje yang berada di atas laut. Suku Bajau terkenal sebagai suku pengembara laut dan nelayan ulung dalam mencari ikan, yang kental menjaga budaya leluhur seperti tradisi, ritual dan pantangan.Kemampuan ini bukan hanya soal latihan, tetapi juga adaptasi biologis. Tubuh mereka diketahui memiliki respons menyelam yang lebih kuat, bahkan beberapa studi menemukan adanya adaptasi fisik seperti ukuran limpa yang lebih besar untuk menyimpan oksigen.
Tak heran jika mereka sering dijuluki sebagai “manusia amfibi” karena kemampuannya beraktivitas di dalam air, termasuk berburu ikan dan mengumpulkan hasil laut.
Baca juga: Kemeriahan Puncak Festival Mudik 2026, Balon Wonosobo Makin Mendunia
Bagi wisatawan atau peneliti budaya, ada beberapa lokasi di Indonesia yang dikenal sebagai tempat untuk bertemu langsung dengan komunitas Bajau.
Menurut Barefoot Cruising Indonesia, kawasan seperti Kepulauan Togean, Banggai, hingga wilayah Laut Banda menjadi tempat di mana suku ini masih bisa ditemui. Bahkan disebutkan bahwa “menjelajahi wilayah terpencil Indonesia memberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan sea nomads ini”.
Selain itu, wilayah sekitar Sulawesi—terutama pesisir dan pulau-pulau kecil—juga menjadi pusat populasi Bajau. Banyak dari mereka tinggal di desa-desa laut yang dibangun di atas karang atau perairan dangkal.
Kepulauan Banggai secara khusus sering disebut sebagai salah satu lokasi terbaik untuk melihat kehidupan asli Bajau Laut.
Meski terkenal dengan keunikan dan ketangguhannya, kehidupan Suku Bajau kini menghadapi berbagai tantangan serius.
Baca juga: Promo Tiket Kereta Api Lebaran 2026, Jakarta-Yogyakarta Mulai Rp 500.000
Perubahan iklim, penangkapan ikan berlebihan, serta tekanan modernisasi membuat banyak dari mereka mulai meninggalkan gaya hidup nomaden.
Beberapa anggota komunitas bahkan beralih profesi ke darat karena hasil laut yang semakin tidak menentu. Dalam laporan media, disebutkan bahwa “cara hidup unik mereka perlahan menghilang” akibat perubahan lingkungan dan ekonomi.
Selain itu, kebijakan pemerintah dan kebutuhan pendidikan juga mendorong mereka untuk menetap, mengubah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Meski banyak perubahan terjadi, Suku Bajau tetap mempertahankan identitas budayanya. Mereka masih memiliki tradisi musik, ritual, hingga keterampilan laut yang diwariskan secara turun-temurun.
Kehidupan mereka mencerminkan hubungan yang sangat erat antara manusia dan alam khususnya laut. Bahkan, banyak aspek budaya Bajau yang berakar pada kepercayaan terhadap roh laut dan keseimbangan alam.
Baca juga: Wajah-wajah Yogyakarta: dari Hiruk Pikuk Malioboro hingga Sunyi Masjid Jogokariyan
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang