Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terkenal Sebagai Penjelajah Laut, Ini Lokasi untuk Bertemu Suku Bajau

Kompas.com, 29 Maret 2026, 19:28 WIB
Afif Khoirul Muttaqin,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

KOMPAS.COM - Suku Bajau dikenal luas sebagai penjelajah laut atau sea nomads yang kehidupannya sangat lekat dengan lautan. 

Selama ratusan tahun, kelompok ini hidup berpindah-pindah di atas air, menjadikan laut sebagai rumah, sumber makanan, sekaligus identitas budaya mereka.

Keunikan gaya hidup ini membuat Suku Bajau menjadi salah satu komunitas paling menarik untuk dipelajari, bahkan hingga kini masih bisa ditemui di beberapa wilayah Indonesia.

Suku Bajau, manusia laut dari Asia Tenggara

Suku Bajau atau Bajau Laut merupakan kelompok etnis yang tersebar di wilayah perairan Indonesia, Malaysia, dan Filipina. Mereka telah hidup di laut selama berabad-abad dan dikenal sebagai salah satu komunitas nomaden terakhir di dunia.

Menurut sumber dari Barefoot Cruising Indonesia, Bajau adalah “salah satu suku laut nomaden terakhir yang telah hidup di laut selama berabad-abad”.

Secara historis, mereka diyakini berasal dari migrasi Austronesia ribuan tahun lalu dan kemudian berkembang menjadi masyarakat yang sangat bergantung pada ekosistem laut.

Baca juga: Ada Libur 3 Hari Berturut Turut Bulan April 2026, Catat Tanggalnya!

Dulu, banyak anggota suku ini tinggal di perahu tradisional yang disebut lepa-lepa, berlayar dari satu wilayah ke wilayah lain selama berbulan-bulan. Namun saat ini, sebagian dari mereka mulai menetap di rumah-rumah panggung di atas laut atau di pesisir.

Salah satu hal paling menakjubkan dari Suku Bajau adalah kemampuan menyelam mereka. Mereka mampu bertahan di bawah air jauh lebih lama dibanding manusia pada umumnya.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian anggota Bajau bisa menyelam hingga belasan menit dan mencapai kedalaman puluhan meter tanpa alat bantu. 

Foto dirilis Senin (7/9/2020), memperlihatkan pemandangan udara permukiman Suku Bajau Torosiaje yang berada di atas laut. Suku Bajau terkenal sebagai suku pengembara laut dan nelayan ulung dalam mencari ikan, yang kental menjaga budaya leluhur seperti tradisi, ritual dan pantangan.ANTARA FOTO/ADIWINATA SOLIHIN Foto dirilis Senin (7/9/2020), memperlihatkan pemandangan udara permukiman Suku Bajau Torosiaje yang berada di atas laut. Suku Bajau terkenal sebagai suku pengembara laut dan nelayan ulung dalam mencari ikan, yang kental menjaga budaya leluhur seperti tradisi, ritual dan pantangan.

Kemampuan ini bukan hanya soal latihan, tetapi juga adaptasi biologis. Tubuh mereka diketahui memiliki respons menyelam yang lebih kuat, bahkan beberapa studi menemukan adanya adaptasi fisik seperti ukuran limpa yang lebih besar untuk menyimpan oksigen.

Tak heran jika mereka sering dijuluki sebagai “manusia amfibi” karena kemampuannya beraktivitas di dalam air, termasuk berburu ikan dan mengumpulkan hasil laut.

Baca juga: Kemeriahan Puncak Festival Mudik 2026, Balon Wonosobo Makin Mendunia

Di mana bisa bertemu Suku Bajau?

Bagi wisatawan atau peneliti budaya, ada beberapa lokasi di Indonesia yang dikenal sebagai tempat untuk bertemu langsung dengan komunitas Bajau.

Menurut Barefoot Cruising Indonesia, kawasan seperti Kepulauan Togean, Banggai, hingga wilayah Laut Banda menjadi tempat di mana suku ini masih bisa ditemui. Bahkan disebutkan bahwa “menjelajahi wilayah terpencil Indonesia memberi kesempatan untuk bertemu langsung dengan sea nomads ini”.

Selain itu, wilayah sekitar Sulawesi—terutama pesisir dan pulau-pulau kecil—juga menjadi pusat populasi Bajau. Banyak dari mereka tinggal di desa-desa laut yang dibangun di atas karang atau perairan dangkal.

Kepulauan Banggai secara khusus sering disebut sebagai salah satu lokasi terbaik untuk melihat kehidupan asli Bajau Laut. 

Meski terkenal dengan keunikan dan ketangguhannya, kehidupan Suku Bajau kini menghadapi berbagai tantangan serius.

Baca juga: Promo Tiket Kereta Api Lebaran 2026, Jakarta-Yogyakarta Mulai Rp 500.000

Perubahan iklim, penangkapan ikan berlebihan, serta tekanan modernisasi membuat banyak dari mereka mulai meninggalkan gaya hidup nomaden. 

Beberapa anggota komunitas bahkan beralih profesi ke darat karena hasil laut yang semakin tidak menentu. Dalam laporan media, disebutkan bahwa “cara hidup unik mereka perlahan menghilang” akibat perubahan lingkungan dan ekonomi.

Selain itu, kebijakan pemerintah dan kebutuhan pendidikan juga mendorong mereka untuk menetap, mengubah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Meski banyak perubahan terjadi, Suku Bajau tetap mempertahankan identitas budayanya. Mereka masih memiliki tradisi musik, ritual, hingga keterampilan laut yang diwariskan secara turun-temurun.

Kehidupan mereka mencerminkan hubungan yang sangat erat antara manusia dan alam khususnya laut. Bahkan, banyak aspek budaya Bajau yang berakar pada kepercayaan terhadap roh laut dan keseimbangan alam.

Baca juga: Wajah-wajah Yogyakarta: dari Hiruk Pikuk Malioboro hingga Sunyi Masjid Jogokariyan

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau