KOMPAS.com - Karya sastra bukan sekadar hiburan tetapi juga dapat memberikan manfaat kepada pembacanya.
Mengutip penjelasan dari situs Badan Bahasa, Effendi (1982:232—238) menyebut sastra sebagai “kenikmatan dan kehikmahan”, yaitu kenikmatan dalam arti sastra memberi hiburan yang menyenangkan dan kehikmahan dalam arti sastra memberi sesuatu atau nilai yang berguna bagi kehidupan.
Jakarta International Literary Festival (JILF) kembali hadir di tahun 2025 pada tanggal 13 hingga 16 November bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat dengan berbagai karya sastra dari penulis dalam dan luar negeri.
JILF kali ini mengangkat tema kemanusiaan yang dituangkan menjadi Homeland in Our Bodies atau Tanah Air dalam Tubuh Kita.
Baca juga: Siswa Terlibat Judol dan Pinjol, Pemerintah Diminta Perkuat Pendidikan Karakter dan Literasi Digital
Direktur Eksekutif JILF, Avianti Armand menuturkan festival ini bukan hanya berguna untuk memperkenalkan sastra Indonesia di panggung global.
Tetapi juga memperkuat diplomasi budaya Indonesia, membentuk identitas sastra Indonesia, dan membangun ekosistem sastra yang berkelanjutan.
Kurator tahun ini ada tiga orang. yakni Evi Mariani (jurnalis), Kiki Sulistyo (sastrawan), dan Ronny Agustinus (pendiri Marjin Kiri).
"Tahun ini ada 31 penulis dari seluruh Indonesia dan mancanegara. Lima di antaranya dari mancanegara, lalu ada lima komunitas yang terlibat, dan 13 kolaborasi dengan komunitas-komunitas lainnya. Programnya ada berbagai macam," kata Avianti saat konferensi pers di TIM, Kamis (13/11/2025).
Programnya antara lain Bincang Penulis (Authors’ Forum), Baca Kata (Reading Night), Merambat (Live Mural), Program Kolaborasi (Fringe Events), Pasar Kata (Community Showcase), Pasar Buku (Bazaar), dan Pentas Kata (Performance).
Baca juga: Rajut Tradisi Literasi Lintas Generasi, Majalah Mata Air Resmi Luncurkan Semua Membacanya 2025
Kiki melanjutkan, kata kemanusiaan cukup sering dilontarkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.
"Kita (kurator) kemudian melihat situasi di hari-hari belakangan ini, kemanusiaan tampaknya tidak dijadikan penting banget gitu. Tidak menentukan keputusan atau tindakan-tindakan besar," ucap Kiki.
"Kemudian kami juga menyimpulkan bahwa krisis kemanusiaan yang kita lihat belakangan ini, itu lebih banyak disebabkan oleh keputusan-keputusan politik di berbagai negara termasuk di negara kita. Untuk dimensi politik itu kami catat juga sebagai kata kunci," imbuhnya.
Baca juga: Rayakan Semangat Literasi, Festival Literasi Perpusnas Beri Penghargaan Nugra Jasa Dharma Pustaloka
Jakarta International Literary Festival 2025 didukung oleh lembaga-lembaga pemerintah meliputi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Serta ada Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi DKI Jakarta, hingga Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta.
Pengunjung tidak dipungut biaya namun disarankan untuk reservasi kehadiran di www.loket.com/event/JILF2025.
Baca juga: Wamendikdasmen: Aktivitas Literasi Dapat Bantu Pulihkan Kesehatan Mental Siswa
Pemikiran para penulis dapat dibaca dalam Buku Program melalui tautan jilf.id/program-book. Informasi lebih lanjut kunjungi website www.jilf.id atau Instagram @jild.indo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang