Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perbedaan Kupat Tahu dan Tahu Kupat, Jangan Sampai Salah Kaprah!

Kompas.com, 28 Maret 2026, 18:32 WIB
Afif Khoirul Muttaqin,
Wahyu Adityo Prodjo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kuliner berbahan dasar tahu memang punya banyak variasi di Indonesia. 

Dua yang sering bikin orang bingung adalah kupat tahu dan tahu tek (sering juga disebut tahu kupat di beberapa daerah). 

Sekilas tampak mirip, tapi sebenarnya punya perbedaan yang cukup jelas mulai dari sejarah, bahan, hingga cita rasa.

Melansir Antara, kupat tahu merupakan salah satu kuliner tradisional yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. 

Hidangan ini bahkan dikenal sebagai makanan yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, dari bangsawan hingga masyarakat biasa.

Karena sejarah panjangnya, kupat tahu banyak berkembang di wilayah Jawa dengan berbagai variasi daerah. 

Sementara itu, tahu tek (yang dalam beberapa konteks disebut juga tahu kupat oleh masyarakat awam) berasal dari Jawa Timur, khususnya Surabaya. 

Nama “tek” sendiri berasal dari bunyi gunting saat pedagang memotong tahu dan lontong “tek, tek, tek” yang kemudian menjadi ciri khas penamaannya. 

Baca juga: Resep Kupat Tahu Magelang Lengkap dengan Sausnya

Tahu tek dan kupat tahu sama-sama menggunakan bahan dasar tahu, lontong atau ketupat, serta sayuran, namun ada perbedaan dalam bahan penyajiannya, khas Jawa Timur.

Tahu tek umumnya terdiri dari tahu goreng, lontong, kentang goreng, tauge, telor dadar, dan timun yang disiram bumbu petis.

Bumbu petis ini menjadi kunci kelezatan tahu tek yang membedakan dari makanan tahu lain. 

Petis adalah pasta udang yang kental dan berwarna hitam yang memberikan rasa gurih dengan aroma khas.

Di sisi lain, kupat tahu biasanya disajikan dengan ketupat, tahu, tauge, kol, dan potongan kacang panjang. Kupat tahu biasanya dibaluri bumbu kacang yang memiliki cita rasa yang lebih manis karena menggunakan gula merah.

Menurut artikel dari Kompas.com (07/09/2025), perbedaan mendasar lain yang pertama ada pada penamaan dan asal daerahnya. 

Kalau kamu sedang di Solo, menu ini disebut tahu kupat. Jika kamu bergeser ke arah barat, tepatnya di Magelang, warga lokal menyebutnya kupat tahu.


Meski keduanya sama-sama menggunakan ketupat, tahu goreng, kol, tauge, mi, dan bakwan sebagai isian, sensasi di lidah bakal terasa beda karena racikan bumbunya.

Baca juga: 7 Resep Kupat Tahu Sederhana, Menu Masakan ala Kampung Halaman

Kuah manis vs gurih kacang

Inilah sepiring tahu kupat Pak Gombloh yang disajikan dengan kuah kecap kental plus kuah air bawang di Jalan Perintis Kemerdekaan No 62, Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah. KOMPAS.com/MUHLIS AL ALAWI Inilah sepiring tahu kupat Pak Gombloh yang disajikan dengan kuah kecap kental plus kuah air bawang di Jalan Perintis Kemerdekaan No 62, Laweyan, Kota Solo, Jawa Tengah.
Inilah perbedaan paling mencolok yang sering jadi perdebatan pecinta kuliner.

Tahu kupat solo, ciri khas utamanya adalah kuah kecap manis yang kental dan berwarna cokelat gelap. 

Kuahnya cenderung bening tapi kaya rasa rempah dengan sentuhan rasa manis-gurih yang segar.

Uniknya lagi, tahu kupat solo biasanya ditaburi dengan kacang tanah goreng yang masih utuh dan irisan daun seledri.

Kupat tahu magelang menggunakan bumbu kacang yang ditumbuk kasar (mirip bumbu pecel tapi lebih cair). 

Rasanya cenderung lebih gurih, legit, dan biasanya ada sedikit sentuhan pedas dari ulekan cabai langsung di piringnya. Selain itu, tahu yang digunakan seringkali adalah tahu kuning.

Dilansir dari Kompas.com, sejarah ketupat sendiri ternyata sangat panjang, bahkan sudah ada jauh sebelum pengaruh Islam masuk, yang dikenal dengan nama tipat di masyarakat Jawa dan Bali kuno.

Khusus untuk Tahu Kupat Solo, ada versi yang menyebutkan bahwa kuliner ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. 

Versi lain menceritakan bahwa penjual tahu kupat pertama berasal dari Tawangsari, Sukoharjo, yang kemudian menyebar ke wilayah Surakarta dan sekitarnya hingga jadi ikon kuliner Solo seperti sekarang.

Baca juga: Kupat Tahu Gempol, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1965

 
 
 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Foodplace (@my.foodplace)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau