Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Haruskah Mematikan Lampu saat Meninggalkan Ruangan?

Kompas.com, 12 April 2025, 18:56 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Kebiasaan mematikan lampu setiap kali meninggalkan ruangan sudah menjadi aturan tidak tertulis di banyak rumah tangga. 

Hal ini biasanya bertujuan untuk menghemat energi dan menekan tagihan listrik bulanan. Namun, dengan berkembangnya teknologi pencahayaan, aturan lama tersebut tidak sepenuhnya relevan lagi. 

Mematikan lampu tidak selalu menghemat listrik 

Ilustrasi saklar lampuUnsplash/Heeren Darji Ilustrasi saklar lampu

Banyak orang percaya bahwa semakin lama lampu menyala, semakin besar energi yang terbuang, sehingga biaya listrik pun membengkak. Secara teori, ini memang terdengar masuk akal. 

Baca juga: 5 Tanda Sakelar Lampu Sudah Rusak dan Perlu Diganti

Namun, melansir Real Simple, Sabtu (12/4/2025), US Department of Energy (DOE) menjelaskan bahwa selain konsumsi listrik, umur bohlam juga dipengaruhi oleh frekuensi pemakaian, terutama berapa kali lampu dinyalakan dan dimatikan. 

Semakin sering siklus on/off terjadi, semakin pendek masa pakai bohlam tertentu, terutama untuk jenis CFL.

Jika bohlam sering rusak karena terlalu sering dimatikan, maka alih-alih menghemat listrik, kamu justru membutuhkan biaya pembelian bohlam baru.

Baca juga: Cara Memilih Lampu Kamar Mandi yang Aman dan Estetik

Jenis bohlam dan efesiensi penggunaannya 

Setiap jenis bohlam memiliki karakteristik berbeda dalam hal efisiensi energi dan ketahanannya terhadap siklus nyala-mati. 

Pemahaman akan jenis lampu yang digunakan sangat penting agar kamu tahu kapan sebaiknya lampu dimatikan dan kapan dibiarkan menyala.

Bohlam pijar: Ini adalah jenis lampu tradisional yang paling boros energi. Lebih dari 90% energi yang dikonsumsi lampu pijar berubah menjadi panas, bukan cahaya. 

Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk selalu mematikannya begitu tidak digunakan. Selain itu, umur lampu ini cukup pendek, sehingga sangat tidak efisien dalam jangka panjang.

Baca juga: Warna Lampu Terbaik dan Terburuk untuk Tidur

Bohlam halogen: Meskipun merupakan versi yang sedikit lebih efisien dari lampu pijar, bohlam halogen tetap bekerja dengan prinsip yang sama.

Konsumsi energinya lebih rendah, tetapi tidak seefisien CFL atau LED. Jika kamu menggunakan jenis lampu ini, disarankan untuk mematikannya saat tidak digunakan, terutama jika ruangan akan kosong dalam waktu lama.

Bohlam CFL (Compact Fluorescent Lamp): CFL adalah alternatif hemat energi dari lampu pijar dan halogen. Namun, umur bohlam ini dipengaruhi oleh seberapa sering dinyalakan dan dimatikan. 

DOE menyarankan agar lampu CFL tetap menyala jika kamu hanya meninggalkan ruangan dalam waktu kurang dari 15 menit. Jika durasi lebih lama, lebih baik kamu mematikannya agar efisiensinya tetap terjaga.

Baca juga: 6 Ide Desain Lampu Cermin yang Estetik

Bohlam LED (Light-Emitting Diode): Inilah jenis bohlam paling efisien saat ini. LED menggunakan energi jauh lebih sedikit, menghasilkan panas minimal, dan tidak terpengaruh oleh seberapa sering dinyalakan dan dimatikan.

Bahkan, jika dibiarkan menyala selama beberapa jam, dampaknya terhadap tagihan listrik sangat kecil. Oleh karena itu, mematikan lampu LED bukanlah keharusan kecuali kamu akan meninggalkan rumah untuk waktu lama.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau