Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ahli Ungkap Pentingnya Membersihkan Dinding Sebelum Mengecat Rumah

Kompas.com, 31 Oktober 2025, 22:27 WIB
Esra Dopita Maret

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat bersiap mengecat ruangan di rumah, banyak dari kita yang mengabaikan langkah pertama dan paling penting, yakni membersihkan dinding. 

Bahkan para DIYer yang teliti sekali pun tergoda melewatkan langkah ini ketika dinding tampak bersih dan dalam kondisi prima. 

Baca juga: Jangan Gunakan 4 Warna Cat Ini di Ruang Keluarga

Padahal, langkah ini sangat penting untuk kualitas keseluruhan pekerjaan pengecatan, dari hasil pengecatan yang lebih halus, warna lebih nyata, hingga daya tahan cat

"Sangat disarankan untuk membersihkan dinding terlebih dulu sebelum pengecatan karena kita tidak tahu cat yang digunakan sebelumnya kualitasnya seperti apa, usianya sudah berapa lama," ucap Husodo Hoe, Head of Marketing PT Jotun Indonesia, salah satu produsesn cat terkemuka, kepada Kompas.com, dalam acara Global Colour Collection 2026 “Soulful Spaces” Jotun, Jumat (31/10/2025). 

Husodo menambahkan apabila cat sebelumnya tidak dibersihkan tuntas atau cat yang sebelumnya kualitasnya kurang begitu bagus atau sudah menempel cukup lama, hal itu berisiko membuat cat baru sulit menempel meski cat baru sudah premium atau paling bagus sekalipun. 

"Cat baru bisa tetap terkelupas meski yang digunakan premium atau paling bagus sekalipun karena lapisan cat sebelumnya sudah tidak kuat," imbuhnya. 

Baca juga: 5 Warna Cat Eksterior yang Banyak Dilihat Agen Properti Saat Ini

Maka itu, Husodo menyarankan membersihkan dinding sebelum mulai pengecatan meski dinding tidak diaplikasi cat sebelumnya agar memberikan hasil pengecatan lebih maksimal. 

Selain cat, dinding rumah yang sudah lama dapat menumpuk kotoran, debu, noda minyak, hingga sidik jari. Semua hal ini juga harus dibersihkan terlebih dulu dari dinding sebelum pengecatan. 

"Tanpa dibersihkan, kontaminan ini akan bertindak sebagai penghalang antara cat baru dan permukaan dinding, yang menyebabkan pengelupasan dini, goresan, gelembung, atau warna tidak merata," jelas pelukis ahli Tom Curre. 

Untuk pembersihan sendiri, secara umum, air sabun hangat biasanya merupakan pendekatan terbaik. Isi ember dan gosok dinding dengan lembut menggunakan spons, dari bagian dasar dan lanjutkan ke atas.

Hal ini menghilangkan sebagian besar debu dan kotoran, yang akhirnya menghasilkan permukaan yang jauh lebih halus untuk mengaplikasikan cat. 

Baca juga: 5 Warna Cat Kamar Tidur yang Dapat Merusak Istirahat

Jotun kenalkan tren warna 2026 

Sejalan dengan tren global yang kini banyak menekankan kedekatan dengan alam serta pencarian ketenangan, Jotun memperkenalkan Global Colour Collection 2026 “Soulful Spaces”.

Koleksi ini dirancang untuk mendukung kesejahteraan emosional dan menghadirkan suasana harmonis untuk berbagai gaya hunian di Indonesia, termasuk ruang keluarga multifungsi dan interior modern yang berkembang di kota-kota besar.

Arun Kumar, President Director PT Jotun Indonesia, mengatakan warna adalah bahasa universal yang menerjemahkan perasaan menjadi pengalaman visual dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Global Colour Collection 2026, Jotun menghadirkan palet warna yang selaras dengan kebutuhan masyarakat global, termasuk Indonesia, akan rumah yang lebih nyaman, menenangkan, dan mencerminkan karakter penghuninya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau