TANGERANG, KOMPAS.com – Industri furnitur dan kerajinan kayu nasional kembali diuji oleh gejolak geopolitik global yang makin tak menentu.
Hal ini menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Namun, alih-alih menarik diri, para pelaku industri justru memasang target ekspansi yang lebih agresif dalam ajang Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 yang resmi dibuka di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Kamis (5/3/2026).
Baca juga: Cara Merawat Furnitur Kayu agar Tetap Awet dan Tampak Baru
Pameran ke-11 yang dihelat oleh Dyandra Promosindo bersama Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) ini menjadi palagan bagi Indonesia untuk membuktikan resiliensinya sebagai pemain kompetitif di pasar global.
Meski Amerika Serikat masih mengukuhkan posisi sebagai pasar utama dengan kenaikan serapan dari 54 persen menjadi 58 persen, Indonesia mulai mengalihkan pandangan secara serius ke zona-zona baru.
Langkah diversifikasi ini diambil sebagai respons atas ketidakpastian di Timur Tengah akibat tensi geopolitik.
Pemerintah dan asosiasi sepakat untuk tidak lagi menaruh seluruh "telur" dalam satu keranjang yang sama.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Dirjen Agro Kemenperin), Putu Juli Ardika, menegaskan, industri furnitur kini tengah membidik pasar Asia yang sedang bertumbuh pesat, terutama India dan kawasan ASEAN.
Baca juga: Furnitur Rotan dan Anyaman, Apa Bedanya?
“Sebenarnya Timur Tengah salah satu tujuan (market), tapi dengan adanya persoalan geopolitik, kami akan fokus ke negara India dan ASEAN,” ujar Putu di sela pembukaan pameran.
Senada dengan Putu, Ketua Umum HIMKI, Abdul Sobur, menyatakan optimisme serupa.
Menurutnya, IFEX 2026 adalah momentum untuk menjangkau negara-negara yang selama ini belum tergarap maksimal.
“Selebihnya, IFEX menyasar pasar di zona Uni Eropa dan Asia, termasuk ASEAN dan juga Australia,” kata Sobur.
Ia menambahkan bahwa untuk menghadapi gejolak global, HIMKI mendorong peningkatan nilai tambah produk dengan menggandeng desainer internasional demi memenuhi selera pasar dunia tanpa kehilangan identitas lokal.
Di Hall 1 hingga Hall 10 ICE BSD, optimisme tersebut diterjemahkan melalui lebih dari 5.000 produk unggulan dari 500 peserta pameran (exhibitor).
Koleksi tahun ini menonjolkan perpaduan elegan antara kayu premium dengan narasi budaya Indonesia yang kental.