Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bagaimana Tawas Bisa Menjernihkan Air Keruh di Rumah?

Kompas.com, 11 Maret 2026, 23:03 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Tawas sering digunakan masyarakat untuk menjernihkan air yang keruh, terutama air sumur atau air sungai. Bahan ini dikenal ampuh membantu mengendapkan kotoran di dalam air sehingga tampak lebih bersih.

Dalam pengolahan air, tawas berfungsi sebagai koagulan, yaitu bahan yang membantu partikel-partikel halus di dalam air saling menempel. Partikel kecil seperti tanah, lumpur, dan bahan organik biasanya terlalu ringan untuk mengendap sendiri.

Sederhananya, koagulan adalah zat kimia yang digunakan dalam pengolahan air dan limbah untuk menetralkan muatan partikel koloid, menyebabkan kotoran halus menggumpal menjadi flok yang lebih besar dan mudah diendapkan.

Cara kerja tawas untuk menjernihkan air

Menjernihkan air dengan tawas sebenarnya cukup sederhana. Proses penjernihan dengan metode koagulan inilah yang juga banyak digunakan perusahaan PDAM di seluruh dunia.

Baca juga: Efektifkah Tawas Menjernihkan Air Keruh?

Mengutip Water Daily, ketika tawas ditambahkan ke dalam air, partikel-partikel tersebut akan saling menempel dan membentuk gumpalan yang lebih besar.

Gumpalan ini kemudian akan tenggelam ke dasar atau dapat disaring dengan mudah, sehingga air di bagian atas menjadi lebih jernih.

Dalam instalasi pengolahan air modern, penggunaan tawas untuk menjernihkan air dilakukan melalui beberapa tahap yang terkontrol agar proses penjernihan berlangsung optimal. Proses ini juga bisa dilakukan dalam skala rumah tangga:

Penambahan tawas: Tawas ditambahkan saat air baku pertama kali masuk ke instalasi pengolahan. Operator menentukan dosis yang tepat berdasarkan tingkat kekeruhan air.

Baca juga: Efektifkah Soda Api Mengatasi Saluran Air yang Mampet?

Pengadukan cepat: Setelah tawas dimasukkan, air dialirkan ke ruang pencampuran cepat. Pada tahap ini, air diaduk dengan kecepatan tinggi untuk menyebarkan tawas secara merata dalam waktu singkat.

Flokulasi: Di sini air diaduk secara perlahan agar partikel kecil yang sudah bereaksi dengan tawas saling bertabrakan dan membentuk gumpalan yang lebih besar.

Sedimentasi: Gumpalan yang terbentuk. Endapan ini kemudian dikumpulkan sebagai lumpur.

Filtrasi: Meski telah melalui proses pengendapan, air masih mengandung partikel sangat halus dan mikroorganisme. Karena itu, air disaring menggunakan lapisan pasir, kerikil, atau karbon aktif.

Walaupun efektif menjernihkan air dengan tawas, penggunaan tawas tetap harus diperhatikan dengan baik. Dalam proses pengolahan air, beberapa faktor perlu dikendalikan agar hasilnya optimal.

Salah satu efek penggunaan tawas adalah perubahan pH air. Tawas dapat menurunkan pH.

Baca juga: Soda Api Buat WC Mampet, Apakah Efektif?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau