Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

6 Kesalahan Menggunakan Pot Terakota yang Bikin Tanaman Cepat Kering

Kompas.com, 17 Maret 2026, 20:00 WIB
Elma Pinkan Yulianti,
Esra Dopita Maret

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pot terakota atau tanah liat kerap menjadi pilihan favorit untuk menanam tanaman karena tampilannya yang natural sekaligus ramah lingkungan. 

Namun, pot terakota memiliki karakteristik yang dapat merugikan tanaman jika tidak digunakan dengan tepat, di antaranya cepat menyerap air dan rentan retak dalam kondisi tertentu sehingga penggunaan pot terakota memerlukan perhatian ekstra. 

Baca juga: 7 Cara Merawat Tanaman Bunga di Dalam Pot agar Tumbuh Subur 

Selain itu, tanpa disadari, beberapa kesalahan sederhana dapat menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan membuatnya kering dan mati.

Dikutip dari Martha Stewart, Selasa (17/3/2026), berikut beberapa kesalahan menggunakan pot terakota yang bikin tanaman cepat kering. 

Lupa merendam pot sebelum digunakan

Ilustrasi pot tanah liat.PIXABAY/NILE Ilustrasi pot tanah liat.
Pot terakota memiliki material sangat berpori dan menyerap kelembapan dari tanah pot yang baru dengan cepat.

“Penurunan kelembapan ini dapat memberi tekanan pada tanaman baru selama proses pemindahan. Karena itu, penting merendam pot baru dalam air sebelum digunakan untuk mencegah syok pada tanaman,” kata Adrian Aviles, pemilik Athletic Club Flower Shop. 

Tidak melapisi pot

Selanjutnya, kesalahan menggunakan pot terakota yang bikin tanaman cepat kering adalah tidak melapisi bagian dalam pot. Lapisan tersebut berfungsi mencegah media tanam dalam pot cepat mengering. 

“Gunakan kantong plastik, pelapis kolam, atau kain lanskap untuk menjaga kelembapan tanah lebih lama,” ujar Angelika Zaber, spesialis perawatan rumput dan ahli berkebun dari Online Turf. 

Baca juga: Cara Menanam Bawang Bombai di Pot agar Tumbuh Subur 

Jika tidak ingin menggunakan kantong atau kain, sebagai pencegahan, gunakan plastik pada tanaman sebelum memasukannya ke pot terakota. Pastikan lapisan tersebut memiliki lubang drainase.

Menanam tanaman yang salah

Beberapa tanaman membutuhkan tanah yang selalu lembap agar tumbuh subur. 

“Salah satu kesalahan paling umum menggunakan pot terakota adalah menanam tanaman yang salah. Tanah liat yang tidak dilapisi glasir sangat berpori sehingga menyerap kelembapan langsung dari tanah," imbuh Chris Gravatt, pedagang perlengkapan berkebun di luar ruangan di The Home Depot.

Tanaman yang menyukai kelembapan, misalnya, pakis dapat cepat kering dan mengalami stres pada akarnya. Sebagai gantinya, tanam tanaman yang tahan kekeringan, seperti sukulen dan kaktus.

Selain itu, selalu periksa pot terakota, terutama saat cuaca sangat panas. Varietas tanaman yang tahan kekeringan pun membutuhkan lebih banyak air jika ditanam di pot terakota. 

Baca juga: 5 Sayuran yang Dapat Ditanam di Pot Gantung, Cocok untuk Rumah Kecil 

Meninggalkan di luar dalam cuaca dingin

Pot terakota rentan retak pada suhu beku. Zaber menyarankan mencegahnya dengan memindahkan pot terakota ke dalam ruangan atau ke rumah kaca saat cuaca dingin atau emben beku. 

“Lindungi pot dengan membungkusnya menggunakan plastik gelembung, karung goni, atau kain hortikultura,” imbuh Zaber

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau