Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Intip Megahnya Instalasi "Serene Crescent", Sulap Bandara Soetta Jadi Oase Ramadan

Kompas.com, 7 Maret 2026, 18:42 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

TANGERANG, KOMPAS.com – Wajah kaku terminal bandara yang biasanya didominasi beton dan kaca, kini berubah drastis.

Menyambut gelombang mudik Lebaran 2026 yang tinggal menghitung hari, PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) melakukan transformasi estetika besar-besaran dengan menghadirkan instalasi Ramadan tematik di pintu-pintu gerbang udara nusantara.

Langkah ini merupakan strategi untuk mereduksi stres penumpang di tengah puncak trafik penerbangan tertinggi sepanjang tahun.

Baca juga: Bandara dan Hotel Mewah di Dubai Rusak Akibat Serangan Iran

Sebagai bandara tersibuk di Indonesia yang melayani rata-rata 150.000 penumpang per hari, Bandara Soekarno-Hatta menjadi panggung utama instalasi ini.

Di Terminal 3, InJourney Airports mengusung tema Serene Crescent, sebuah perpaduan desain yang mencoba mengawinkan keanggunan motif lokal dengan aura sakral Timur Tengah.

Direktur Utama InJourney Airports, Mohammad R. Pahlevi, menjelaskan bahwa pengalaman pemudik dimulai sejak mereka menginjakkan kaki di pintu masuk.

“Di setiap pintu masuk Terminal 3, terdapat tunnel gate yang didominasi palet warna biru menenangkan berpadu dengan deretan lentera artistik. Tunnel gate ini seakan mengantarkan travelers untuk bersiap melakukan perjalanan dan merasakan seamless journey experience,” ujar Pahlevi dalam keterangan yang dikutip Kompas.com, Sabtu (7/3/2026).

Baca juga: Ajaib, Flyover Pesing dan Tol Bandara Banjir, Kok Bisa?

Titik pusat perhatian (focal point) di Terminal 3 adalah instalasi kubah ornamen raksasa berukuran 9x9 meter.

Di bawah kubah ini, penumpang disambut tanaman hidup dan panggung aktivasi yang dibalut motif batik, menciptakan suasana teduh di tengah hiruk-pikuk antrean check-in.

Terminal 1 dan 2 mengadopsi tema Desert HarmonyInJourney Terminal 1 dan 2 mengadopsi tema Desert Harmony
Sentuhan Terakota di Terminal 1 dan 2

Berbeda dengan Terminal 3, Terminal 1 dan 2 mengadopsi tema Desert Harmony. Instalasi di sini lebih menonjolkan kehangatan warna terakota dengan elemen material alami seperti rotan, kayu jati, dan anyaman nusantara.

Penggunaan palet warna bumi ini sengaja dipilih untuk memberikan kesan "pulang ke rumah" bagi para pemudik.

Baca juga: Mengurai Benang Kusut Penyebab Banjir di Tol Bandara

Pahlevi menekankan bahwa tradisi mudik adalah momen emosional yang istimewa. Oleh karena itu, bandara tidak boleh hanya menjadi tempat transit yang dingin, tetapi harus menjadi bagian dari kehangatan silaturahmi itu sendiri.

“Tradisi mudik yang akan dimulai minggu depan adalah momen istimewa bagi masyarakat Indonesia. InJourney Airports menghadirkan hangatnya nuansa Ramadan di bandara untuk melengkapi perjalanan pemudik,” tambahnya.

Dari Jakarta hingga Bali

Selain Soekarno-Hatta, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali juga menjadi pilot project instalasi tematik ini.

Sejak 5 Maret 2026, ornamen Ramadan mulai menghiasi terminal internasional dan domestik di Bali, disusul dengan pemasangan focal point pada 9 Maret mendatang.

Baca juga: Wamen PU Ungkap Biang Kerok Tol Bandara Banjir

Area ini didesain secara fungsional, tidak hanya sebagai pemanis mata, tetapi juga sebagai titik temu (meeting point) dan spot foto bagi penumpang yang ingin mengabadikan momen mudik mereka.

Meski dua bandara besar tersebut menjadi sorotan utama, desain serupa juga diimplementasikan secara proporsional di seluruh bandara di bawah naungan InJourney Airports.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau