Penulis
KOMPAS.com - Masa depan kopi, terutama varietas Arabika yang banyak digemari, kini terancam oleh perubahan iklim.
Sebuah studi terbaru dari University of Florida yang dipimpin oleh Felipe Ferrao meneliti upaya yang dapat dilakukan oleh lebih dari 100 juta petani kopi di seluruh dunia untuk menyelamatkan bisnis mereka.
Salah satu pilihannya adalah dengan mengembangbiakkan galur Arabika yang lebih tangguh yang dapat bertahan melawan kekeringan dan suhu lingkungan yang lebih tinggi.
Namun, besar kemungkinan, Arabika akan kehilangan dominasinya saat ini dan mungkin akan digantikan oleh Robusta yang lebih adaptif. Hanya dalam beberapa dekade, sebagian besar kopi yang diseduh di seluruh dunia mungkin adalah Robusta.
Biji kopi Arabika terkenal karena cita rasanya yang bernuansa dan kualitas aromatiknya.
Baca juga: Kapan Waktu Terbaik untuk Minum Kopi di Pagi Hari?
Peminum kopi menyukai rasanya yang lebih lembut dan manis, sering kali dengan sedikit rasa buah, bunga, dan kacang.
Tanaman Arabika tumbuh subur di daerah yang lebih dingin dan lebih tinggi, biasanya antara 600 dan 1800 meter di atas permukaan laut.
Namun, preferensi terhadap iklim tertentu ini membuat Arabika lebih rentan terhadap perubahan lingkungan, penyakit, dan hama. Sifat Arabika yang lembut pun menuntut perawatan ekstra, yang menyebabkan biaya produksi lebih tinggi.
Sebaliknya, Robusta dihargai karena ketahanannya. Sesuai namanya, Robusta kuat dan tumbuh dalam berbagai kondisi lingkungan. Khususnya, Robusta dapat tumbuh di dataran rendah dan iklim yang lebih panas.
Robusta juga lebih tahan terhadap penyakit dan hama, tetapi membutuhkan lebih sedikit input untuk tumbuh.
Jadi, ketahanan ini menghasilkan hasil panen yang lebih tinggi dan biaya produksi yang lebih rendah.
Biji Robusta menghasilkan rasa yang lebih kuat dan lebih pahit, dengan kandungan kafein yang lebih tinggi daripada Arabika.
Arabika, dengan profil rasa yang unggul, sering kali digunakan untuk campuran premium dan kopi spesial. Sementara itu, ketahanan dan efektivitas biaya Robusta menjadikannya bahan pokok dalam campuran kopi instan dan espresso.
Baca juga: Seperti Apa Rasa dan Aroma Kopi yang Ditanam di Laboratorium?
Kopi Arabika saat ini mendominasi pasar, dengan pangsa sekitar 60 persen dari penjualan kopi global.
Namun, berbagai penelitian memperkirakan bahwa pada tahun 2050, perubahan iklim akan mengurangi produksi Arabika hingga sekitar 80 perssn. Pada saat yang sama, permintaan diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat.