Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Tuang Kopi ke Saluran Air! Ini Alasannya dan Cara Aman Membuangnya

Kompas.com, 27 Oktober 2025, 18:32 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Baru-baru ini, seorang wanita di London didenda 150 poundsterling karena menuangkan kopi ke saluran air sebelum naik bus. Meski kemudian dendanya dibatalkan oleh Dewan Richmond, kejadian ini memicu perbincangan menarik: apakah membuang kopi ke selokan benar-benar berbahaya bagi lingkungan?

Menurut Kevin Collins, Dosen Senior Lingkungan dan Sistem di The Open University, sekitar 98 juta cangkir kopi diminum setiap hari di Inggris, dan 2 miliar di seluruh dunia. Semua cairan sisa kopi itu harus berakhir di suatu tempat—baik di rumah, kantor, maupun di jalan.

Sekilas, satu cangkir sisa kopi tampak sepele. Tapi bayangkan jika jutaan orang menuangkannya ke saluran air setiap hari. Jumlah itu bisa meningkatkan kadar kafein di air limbah yang akhirnya masuk ke sungai dan laut.

“Cangkir kopi mengandung ratusan senyawa kimia,” jelas Collins. “Bukan hanya kafein, tapi juga susu, gula, bahkan cokelat atau rempah yang sulit terurai di alam.”

Baca juga: Menaburkan Ampas Kopi di Teras Rumah, Apa Manfaatnya?

Kafein: Kontaminan yang Tak Mudah Hilang

Kafein tergolong “emerging contaminant”, yaitu zat pencemar baru yang belum selalu dipantau dalam sistem pengolahan air. Zat ini tidak mudah terurai secara alami. Bahkan sejak tahun 2003, kafein sudah ditemukan mencemari danau dan sungai di Swiss.

Dan bukan hanya kopi berkafein yang berbahaya. Kopi tanpa kafein (decaf) pun bisa menurunkan pH air dan mengandung senyawa organik yang mengurangi kadar oksigen di air ketika terurai. Akibatnya, ekosistem sungai dan danau terganggu: pertumbuhan alga meningkat, hewan air kekurangan oksigen, dan kualitas air menurun.

“Kafein memengaruhi metabolisme, pertumbuhan, dan gerakan organisme air, bahkan dalam jumlah kecil,” tulis laporan penelitian internasional yang meneliti 258 sungai di 104 negara. Hasilnya, lebih dari 50% di antaranya mengandung kafein.

Baca juga: Stop Buang Ampas Kopi ke Wastafel, Ini Bahayanya!

Ketika Air Limbah Tak Mampu Menyaring Kafein

Sistem pengolahan limbah berbeda-beda dalam menangani kafein. Menurut penelitian, tingkat pembersihannya bervariasi antara 60–100%, tergantung pada desain pabrik, suhu, dan musim. Itu artinya, bahkan air limbah yang telah diolah pun masih bisa mengandung kafein ketika dibuang ke sungai.

Masalah makin parah saat hujan deras turun. Ketika kapasitas saluran air meluap, air limbah mentah (belum diolah) akan langsung dialirkan ke sungai untuk mencegah banjir di rumah dan fasilitas pengolahan. Di titik inilah, kafein dan senyawa kimia lain langsung masuk ke ekosistem alami.

Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Masuk ke Saluran Air

Saluran air di jalanan bukan tempat pembuangan limbah rumah tangga. Air dari saluran ini langsung terhubung ke sungai, danau, atau laut tanpa proses penyaringan. Jadi, jangan menuangkan:

  • Kopi atau ampas kopi
  • Minyak goreng dan lemak panas
  • Sabun, deterjen, dan pemutih
  • Sisa cat, semen, atau cairan bangunan

Semua cairan ini sebaiknya dibuang ke tempat sampah rumah tangga atau pusat daur ulang, bukan ke saluran air.

“Apa pun yang kamu tuang ke saluran air, akan berakhir di sungai atau laut,” tulis Collins. “Biarkan saluran air bekerja sebagaimana mestinya—mengalirkan air hujan, bukan limbah.”

Baca juga: Jangan Dibuang, Ini Menggunakan Ampas Kopi di Kebun

Jadi, Apa yang Harus Kita Lakukan dengan Sisa Kopi?

Daripada menuangkan kopi ke wastafel atau selokan, cobalah beberapa cara berikut:

  • Kurangi pemborosan. Seduh kopi secukupnya agar tidak ada sisa.
  • Gunakan untuk tanaman. Air kopi bisa diencerkan dan dipakai sebagai pupuk alami dalam jumlah kecil.
  • Buat kompos. Ampas kopi sangat cocok untuk tumpukan kompos karena menambah kandungan organik tanah.
  • Buang dengan benar. Jika tidak punya lahan atau komposter, masukkan sisa kopi ke wadah tertutup lalu buang ke tempat sampah organik.

Namun, hindari menumpuk ampas kopi di satu tempat terlalu sering, karena penumpukan kafein dan padatan bisa merusak struktur tanah dan menghambat pertumbuhan tanaman.

Pemerintah Inggris sendiri sedang mengkaji ulang kebijakan pengelolaan air dan pencemaran sungai. Namun, tanggung jawab tidak hanya di tangan pemerintah. Setiap individu punya peran dalam menjaga kebersihan air.

Mulai sekarang, jangan tuang kopi ke saluran air. Satu kebiasaan kecil bisa membantu mengurangi pencemaran sungai, menjaga kehidupan air, dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat.

Baca juga: Peneliti Temukan Manfaat Ampas Kopi yang Tak Terduga, Apa Itu?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau