Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anjing “Designer” Tak Selalu Lebih Baik: Studi Ungkap Masalah Perilaku

Kompas.com, 19 Maret 2026, 12:59 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Physorg

KOMPAS.com - Popularitas anjing “designer” atau hasil persilangan ras murni terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak orang percaya bahwa anjing seperti cockapoo, cavapoo, dan labradoodle memiliki sifat yang lebih ramah, mudah dilatih, serta cocok untuk keluarga—terutama yang memiliki anak.

Namun, sebuah studi terbaru justru mengungkap fakta yang tidak sepenuhnya sejalan dengan anggapan tersebut.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One oleh Gina Bryson dari Royal Veterinary College, Inggris, menunjukkan bahwa beberapa anjing “designer” justru memiliki lebih banyak perilaku bermasalah dibandingkan ras murni asalnya.

Baca juga: 7 Jenis Anjing Ras yang Mudah Dirawat, Sudah Tahu?

Apa Itu Anjing “Designer”?

Anjing “designer” merupakan hasil persilangan dua ras anjing murni. Contohnya:

  • Cockapoo: persilangan poodle dan cocker spaniel
  • Cavapoo: persilangan poodle dan cavalier King Charles spaniel
  • Labradoodle: persilangan poodle dan Labrador retriever

Popularitas jenis ini meningkat pesat secara global, sebagian karena persepsi bahwa mereka memiliki “paket lengkap”—cerdas, ramah, dan minim masalah perilaku.

Namun, menurut penelitian ini, keyakinan tersebut belum banyak diuji secara ilmiah sebelumnya.

Baca juga: 6 Ras Anjing Kecil yang Ramah dan Aman untuk Anak-anak

Studi Besar Libatkan Ribuan Anjing

Untuk menguji anggapan tersebut, para peneliti menganalisis data survei dari 9.402 anjing di Inggris, termasuk anjing persilangan dan ras murni asalnya.

Mereka menggunakan metode C-BARQ (Canine Behavioral Assessment and Research Questionnaire), sebuah alat yang telah teruji untuk menilai berbagai aspek perilaku anjing.

Sebanyak 12 jenis perilaku dianalisis, mulai dari agresivitas hingga kecemasan.

Baca juga: 12 Ras Anjing Berisiko Alami Gangguan Pernapasan, Apa Sebabnya?

Ilustrasi ras anjing cavapooUNSPLASH/FLOUFFY Ilustrasi ras anjing cavapoo

Hasilnya: Tidak Selalu Lebih Baik

Hasil penelitian menunjukkan:

  • 44,4% perbandingan: anjing “designer” memiliki lebih banyak perilaku bermasalah
  • 9,7%: justru lebih sedikit masalah
  • 45,8%: tidak ada perbedaan signifikan

Artinya, secara keseluruhan, tidak ada bukti kuat bahwa anjing persilangan ini lebih unggul secara perilaku dibanding ras murni.

Cockapoo Jadi yang Paling Bermasalah

Dari ketiga jenis yang diteliti, cockapoo muncul sebagai yang paling banyak menunjukkan perilaku tidak diinginkan.

Mereka memiliki skor lebih buruk dalam 16 dari 24 kategori perilaku, termasuk:

  • Agresi terhadap pemilik
  • Agresi terhadap orang asing
  • Tingkat kegembiraan berlebih (excitability)

Sementara itu cavapoo memiliki masalah dalam 11 dari 24 perilaku, seperti:

  • Kecemasan saat ditinggal (separation problems)
  • Ketakutan terhadap anjing lain
  • Mudah terlalu bersemangat

Labradoodle menunjukkan hasil yang lebih seimbang:

  • Lebih buruk dalam 5 perilaku
  • Lebih baik dalam 6 perilaku

Menariknya, labradoodle justru menunjukkan agresi yang lebih rendah terhadap pemilik dan anjing lain dibanding poodle ras murni.

Baca juga: 7 Ras Anjing yang Paling Cocok untuk Anak-anak

Peneliti: Perlu Kesadaran Lebih Luas

Para peneliti menekankan pentingnya pemahaman yang lebih realistis terhadap anjing “designer”.

Mereka menyatakan bahwa temuan ini harus menjadi perhatian bagi calon pemilik anjing:

“Perlu adanya kesadaran yang lebih luas mengenai potensi masalah perilaku pada anjing persilangan untuk mendukung kesejahteraan hewan dan kepemilikan yang aman serta memuaskan.”

Temuan ini tidak berarti anjing “designer” adalah pilihan buruk. Namun, ada beberapa hal penting yang perlu dipahami:

  • Tidak ada jaminan perilaku lebih baik hanya karena anjing adalah hasil persilangan
  • Faktor lingkungan, pelatihan, dan perawatan tetap sangat menentukan
  • Setiap anjing—baik ras murni maupun campuran—memiliki karakter unik

Studi ini juga membantah anggapan umum bahwa anjing “designer” selalu lebih unggul secara perilaku. Dalam banyak kasus, mereka justru menunjukkan lebih banyak masalah dibanding ras murni asalnya.

Dengan meningkatnya popularitas jenis ini, pemahaman berbasis data menjadi penting agar pemilik dapat membuat keputusan yang lebih bijak—demi kesejahteraan hewan dan hubungan yang harmonis antara manusia dan anjing.

Baca juga: Ada Lebih Banyak Ras Anjing daripada Kucing, Apa Alasannya?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau