Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Aznil Tan
Direktur Eksekutif Migrant Watch

Direktur Eksekutif Migrant Watch

Lebaran Berbayar di Ruang Publik

Kompas.com, 22 Maret 2026, 07:24 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

LEBARAN selalu identik dengan kemenangan dan pulang kampung (mudik). Jutaan orang bergerak membelah pulau demi satu tujuan: merayakan kebersamaan.

Lebaran bukan sekadar hari libur. Ia adalah momentum rekonsiliasi, pertemuan keluarga, dan perayaan kolektif setelah sebulan berpuasa.

Dalam arus besar mudik, jutaan orang kembali ke kampung halaman, mencari ruang untuk berkumpul, berbagi cerita, dan menghidupkan kembali ikatan sosial yang lama terpisah. Dalam konteks ini, ruang publik menjadi kebutuhan sosial yang sangat mendasar.

Namun, di balik narasi suci “kembali ke fitrah”, terselip ironi yang menyesakkan. Ketika keluarga-keluarga ini mencoba mencari kebahagiaan sederhana di ruang terbuka—di pantai, pegunungan, atau kawasan wisata alam—mereka justru dihadapkan pada realitas yang kaku dan dingin.

Di gerbang masuk, bukan sambutan hangat yang mereka temui, melainkan loket tiket yang menuntut bayaran. Momen yang seharusnya menjadi milik bersama berubah menjadi transaksi.

Ruang publik pun bergeser makna: dari ruang kebersamaan menjadi ruang berbayar, bahkan di hari yang paling sakral sekalipun.

Status berbayar di kawasan ini sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Model pengelolaannya berubah dari milik negara sepenuhnya menjadi dikelola korporasi atau swasta yang lebih profit-oriented.

Alam yang Diprivatisasi

Ada paradoks besar ketika kita menyebut pantai atau gunung sebagai "ruang publik". Secara filosofis, ruang publik adalah area inklusif, tempat di mana status sosial lebur.

Namun, saat Ancol atau Tangkuban Parahu mematok tarif masuk yang terus merangkak naik, ruang tersebut berubah menjadi ruang komersial eksklusif.

Bagi keluarga kecil dengan penghasilan UMR yang ingin membawa anak-istri melihat laut saat Lebaran, biaya tiket masuk individu, biaya kendaraan, hingga harga makanan di dalam kawasan bisa memakan porsi signifikan dari uang THR mereka.

Di titik ini, diskriminasi ekonomi terlihat nyata: mereka yang mampu dapat masuk dan menikmati, sementara yang tidak mampu hanya menjadi penonton dari luar pagar.

Alasan klasik seperti “biaya perawatan dan konservasi” kerap dikemukakan. Namun, dalam praktiknya, alasan tersebut sering kali berubah menjadi legitimasi untuk mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) atau dividen perusahaan, bukan untuk pelayanan publik.

Kita dapat melihatnya pada kasus Ancol yang dikelola BUMD, serta Tangkuban Parahu yang merupakan aset negara, tapi pengelolaannya diserahkan kepada swasta.

Sejak dibangun pada era 1960-an oleh Soemarno Sosroatmodjo dan dilanjutkan Ali Sadikin, Ancol dirancang sebagai kawasan rekreasi publik.

Namun sejak berubah menjadi perseroan pada 1992 dan melantai di bursa pada 2004, orientasinya bergeser ke arah bisnis.

Tiket masuk bukan lagi sekadar alat pengelolaan, melainkan sumber utama pendapatan, sehingga kenaikan tarif menjadi sulit dihindari.

Pola serupa terjadi di Tangkuban Parahu. Kawasan ini sebelumnya dikelola pemerintah dengan tarif yang relatif terjangkau. Namun, setelah dialihkan kepada pihak swasta pada 2009, lonjakan harga terjadi secara signifikan.

Hal ini memicu kritik karena dianggap tidak lagi mencerminkan akses publik terhadap aset negara.

Sementara itu, kawasan seperti Kawah Putih di Ciwidey mulai dikelola secara lebih profesional sejak akhir 1980-an.

Sejak saat itu, sistem tiket masuk diterapkan dengan tarif yang awalnya sederhana. Namun, seiring bertambahnya fasilitas dan layanan, harga terus disesuaikan hingga mencapai tingkat saat ini.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Tren
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Tren
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Tren
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Tren
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau