Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi

Kompas.com, 1 April 2026, 10:15 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber BBC, Reuters

BEIRUT, KOMPAS.com - Tiga prajurit TNI anggota pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gugur pekan ini di Lebanon selatan.

Insiden itu menjadikan konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah sebagai salah satu episode paling mematikan bagi misi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

Misi Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) pertama kali dikerahkan pada 1978 dan tetap bertahan melalui berbagai konflik, termasuk perang pada 2024 ketika sejumlah pos mereka berulang kali terkena serangan.

Baca juga: PBB Ungkap Temuan Awal soal Penyebab Gugurnya TNI Pasukan UNIFIL di Lebanon

Sesuai keputusan Dewan Keamanan PBB, UNIFIL akan mengakhiri operasinya pada akhir 2026 dan ditarik sepenuhnya pada 2027. Hingga Maret, UNIFIL memiliki 7.505 personel dari 47 negara.

Kronologi kematian penjaga perdamaian

Tiga penjaga perdamaian yang tewas, seluruhnya berasal dari Indonesia, meninggal dalam dua insiden terpisah.

Dua di antaranya tewas akibat ledakan di pinggir jalan yang menghantam konvoi mereka di dekat Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026). Temuan awal investigasi menunjukkan adanya bahan peledak yang memicu insiden tersebut.

Dikutip dari BBC, Duta Besar Israel untuk PBB menyebut ledakan itu berasal dari perangkat peledak milik Hizbullah. Namun, juru bicara UNIFIL Kandice Ardiel meminta Israel untuk memberikan bukti.

Ia mengatakan, "Israel kami undang untuk membagikan bukti mereka kepada tim investigasi kami".

Hizbullah belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Sementara itu, satu penjaga perdamaian lainnya tewas sehari sebelumnya atau pada Minggu (29/3/2026), setelah sebuah proyektil menghantam markas UNIFIL di dekat desa Adchit al-Qusayr. Insiden ini juga masih dalam penyelidikan.

Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon dalam 24 Jam, Ini Daftar Korban UNIFIL sejak 1978

Situasi di lapangan semakin berbahaya

Juru bicara UNIFIL Kandice Ardiel menggambarkan situasi di sekitar posisi UNIFIL sangat berbahaya, dengan kekerasan yang terus meningkat di sekitar area penugasan pasukan penjaga perdamaian.

Ia mengatakan, "banyak sekali kekerasan" terjadi di dekat posisi UNIFIL.

Menurutnya, situasi di lapangan ditandai dengan aksi saling serang yang intens antara kedua pihak yang bertikai.

"Ada proyektil yang diluncurkan bolak-balik antara Pasukan Pertahanan Israel dan aktor non-negara, yang kemungkinan adalah Hizbullah," ujar Ardiel, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (31/3/2026).

Kondisi tersebut membuat ruang gerak UNIFIL semakin terbatas. Ia menambahkan, "konflik aktif telah mengubah apa yang bisa kami lakukan karena kami tidak lagi dapat keluar untuk berpatroli."

Halaman:
Baca tentang


Terkini Lainnya
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Tren
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Tren
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Tren
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Tren
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Tren
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Bisa Diakhiri 2–3 Pekan Lagi Tanpa Perlu Kesepakatan
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Bisa Diakhiri 2–3 Pekan Lagi Tanpa Perlu Kesepakatan
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau