Penulis
BEIRUT, KOMPAS.com - Tiga prajurit TNI anggota pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gugur pekan ini di Lebanon selatan.
Insiden itu menjadikan konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah sebagai salah satu episode paling mematikan bagi misi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Misi Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) pertama kali dikerahkan pada 1978 dan tetap bertahan melalui berbagai konflik, termasuk perang pada 2024 ketika sejumlah pos mereka berulang kali terkena serangan.
Baca juga: PBB Ungkap Temuan Awal soal Penyebab Gugurnya TNI Pasukan UNIFIL di Lebanon
Sesuai keputusan Dewan Keamanan PBB, UNIFIL akan mengakhiri operasinya pada akhir 2026 dan ditarik sepenuhnya pada 2027. Hingga Maret, UNIFIL memiliki 7.505 personel dari 47 negara.
Tiga penjaga perdamaian yang tewas, seluruhnya berasal dari Indonesia, meninggal dalam dua insiden terpisah.
Dua di antaranya tewas akibat ledakan di pinggir jalan yang menghantam konvoi mereka di dekat Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026). Temuan awal investigasi menunjukkan adanya bahan peledak yang memicu insiden tersebut.
Dikutip dari BBC, Duta Besar Israel untuk PBB menyebut ledakan itu berasal dari perangkat peledak milik Hizbullah. Namun, juru bicara UNIFIL Kandice Ardiel meminta Israel untuk memberikan bukti.
Ia mengatakan, "Israel kami undang untuk membagikan bukti mereka kepada tim investigasi kami".
Hizbullah belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.
Sementara itu, satu penjaga perdamaian lainnya tewas sehari sebelumnya atau pada Minggu (29/3/2026), setelah sebuah proyektil menghantam markas UNIFIL di dekat desa Adchit al-Qusayr. Insiden ini juga masih dalam penyelidikan.
Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon dalam 24 Jam, Ini Daftar Korban UNIFIL sejak 1978
Juru bicara UNIFIL Kandice Ardiel menggambarkan situasi di sekitar posisi UNIFIL sangat berbahaya, dengan kekerasan yang terus meningkat di sekitar area penugasan pasukan penjaga perdamaian.
Ia mengatakan, "banyak sekali kekerasan" terjadi di dekat posisi UNIFIL.
Menurutnya, situasi di lapangan ditandai dengan aksi saling serang yang intens antara kedua pihak yang bertikai.
"Ada proyektil yang diluncurkan bolak-balik antara Pasukan Pertahanan Israel dan aktor non-negara, yang kemungkinan adalah Hizbullah," ujar Ardiel, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (31/3/2026).
Kondisi tersebut membuat ruang gerak UNIFIL semakin terbatas. Ia menambahkan, "konflik aktif telah mengubah apa yang bisa kami lakukan karena kami tidak lagi dapat keluar untuk berpatroli."