Penulis
Ardiel juga menyebut bahwa meskipun Israel sebelumnya sempat meminta pasukan penjaga perdamaian meninggalkan pos mereka pada 2024, permintaan serupa belum disampaikan dalam konflik terbaru ini.
Namun, Israel tetap menegaskan bahwa situasi sangat berbahaya dan pasukan penjaga perdamaian sebaiknya menjauh dari area konflik.
Militer Israel menyatakan pihaknya tetap berkoordinasi dengan UNIFIL dan telah meminta pihak-pihak yang tidak terlibat untuk menjauh dari zona pertempuran setelah Hizbullah membuka serangan.
Baca juga: Perancis Desak Sidang Darurat DK PBB Buntut 3 Prajurit TNI UNIFIL Gugur di Lebanon
UNIFIL dibentuk pada 1978 setelah Israel menginvasi Lebanon untuk melawan kelompok militan Palestina di wilayah selatan.
Seiring waktu, ancaman dari kelompok Palestina menurun, tetapi Hizbullah muncul sebagai kekuatan baru yang bermusuhan dengan Israel, terutama setelah invasi Israel pada 1982.
Setelah perang pada 2006, mandat UNIFIL diperluas melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, termasuk memantau gencatan senjata, mendukung militer Lebanon di wilayah selatan, serta membantu menegakkan larangan senjata ilegal.
Tetapi, keseimbangan kekuatan di Lebanon berubah drastis setelah perang 2024. Hizbullah dilaporkan melemah, sementara pemerintah Lebanon yang baru mulai menjalankan upaya pelucutan senjata secara damai.
Dengan kondisi keamanan yang dinilai berubah secara signifikan, Amerika Serikat menyetujui resolusi yang disusun Perancis pada Agustus lalu untuk memperpanjang mandat UNIFIL untuk terakhir kalinya.
Di sisi lain, Israel menilai UNIFIL telah gagal menjalankan misinya dan membiarkan Hizbullah berkembang menjadi ancaman regional.
Dalam konflik yang sedang berlangsung, Israel menargetkan penguasaan wilayah antara perbatasan hingga Sungai Litani, yang merupakan area operasi UNIFIL.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang