KOMPAS.com - Para ilmuwan berhasil memanfaatkan limbah plastik dan mengolahnya menjadi obat Parkinson.
Plastik yang digunakan adalah polyethylene terephthalate (PET), yang umum dipakai pada botol plastik dan kemasan, serta banyak mencemari lingkungan.
Obat yang dihasilkan adalah levodopa, yang sering disebut sebagai “standar emas” dalam menangani gangguan kontrol gerak pada penderita Parkinson.
Tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan dari University of Edinburgh, Skotlandia, menggunakan bakteri Escherichia coli yang telah direkayasa secara khusus untuk mengubah plastik menjadi obat secara berkelanjutan.
Metode baru ini tidak hanya berpotensi mengurangi, meski sedikit, krisis polusi plastik, tetapi juga membuka peluang pengembangan obat yang lebih ramah lingkungan.
Saat ini, produksi levodopa masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Baca juga: Banyak Obat dan Makanan Berbahaya dari AS-China Dijual Online, BPOM Ungkap Daftarnya
Dilansir dari Science Alert, Minggu (29/3/2026), penelitian ini didanai sebagian oleh Engineering and Physical Sciences Research Council (EPSRC) di Inggris, yang merupakan bagian dari UK Research and Innovation (UKRI).
Publikasinya telah diunggah dalam jurnal Nature Sustainability tahun ini.
“Penelitian ini menunjukkan bagaimana rekayasa biologi dapat mengubah monomer aromatik yang berasal dari plastik menjadi obat bernilai tinggi untuk pengobatan penyakit neurologis pada manusia,” tulis para peneliti dalam jurnal mereka.
Baca juga: Kisah Dokter di India Angkat Plastik Stang Motor dari Rahim Pasien
Sementara itu, proses pembuatannya tidaklah sesederhana memasukkan botol plastik dan langsung menghasilkan obat.
Langkah pertama, PET harus diurai menjadi komponen dasarnya, termasuk asam tereftalat (TPA) yang kemudian akan diolah lebih lanjut.
Para peneliti kemudian menciptakan jalur metabolisme baru pada bakteri E. coli, yakni semacam reaksi kimia yang digerakkan oleh enzim.
Dengan cara ini, bakteri bisa menyerap zat TPA lalu mengolahnya secara bertahap hingga berubah menjadi levodopa.
Dua jenis bakteri terlibat dalam proses tersebut dan bekerja secara berurutan.
Untuk saat ini, penelitian masih sebatas pembuktian konsep di laboratorium dan membutuhkan pengembangan lebih lanjut agar dapat diterapkan secara industri.