KOMPAS.com - Langit di Shark Bay, Australia Barat, berubah menjadi merah darah menjelang pendaratan Topan Tropis Narelle pada Jumat (27/3/2026).
Fenomena langka ini terjadi saat sistem badai tersebut bergerak menuju pesisir dan akhirnya menghantam wilayah sekitar 900 kilometer di utara Perth, yang merupakan salah satu kawasan penghasil pangan utama.
Video yang direkam di Shark Bay Caravan Park di Denham menunjukkan adanya badai debu pekat menyelimuti kota, mengubah warna langit menjadi merah gelap yang dramatis.
Salah satu warga, Kerrie Shepherd, mengaku belum pernah menyaksikan fenomena serupa sebelumnya. Ia menggambarkan perubahan warna langit terjadi secara bertahap.
“Langit semakin lama semakin berwarna oranye seiring berjalannya sore, dan sekitar pukul 15.30 waktu setempat, ketika kami keluar, warnanya sudah seperti itu,” ujarnya, dikutip dari ABC, Senin (30/3/2026).
“Semua tampak merah, ke mana pun kami memandang. Debunya terasa masuk ke tenggorokan dan mulut, bahkan terasa kasar di gigi dan mata,” tambahnya.
Baca juga: BMKG: 7 Wilayah Mulai Masuk Musim Kemarau April 2026, Didominasi Jawa dan Nusa Tenggara
Menurut para ahli, fenomena langit merah tersebut disebabkan oleh badai debu yang mengandung partikel kaya zat besi.
Jessica Lingard dari Biro Meteorologi Australia menjelaskan bahwa kombinasi angin kencang dan kondisi tanah di wilayah tersebut menjadi faktor utama munculnya warna ekstrem itu.
Wilayah Pilbara, yang dikenal sebagai pusat industri bijih besi Australia, berjarak kurang dari 400 kilometer di timur laut Denham.
Tanah di kawasan tersebut berwarna merah karat karena kandungan besinya yang tinggi, sehingga mudah terangkat ke udara saat diterpa angin kencang.
“Narelle bertiup cukup kuat untuk mengangkat debu dari lanskap dan mendorongnya ke wilayah seperti Shark Bay, bahkan sebelum siklon tiba,” jelas Lingard, dilansir dari The Guardian, Senin.
Ia menambahkan, fenomena ini tidak terjadi setiap saat karena membutuhkan kombinasi kondisi yang sangat spesifik, seperti angin kencang, tanah kering, serta jumlah partikel debu yang cukup di atmosfer.
Selain itu, partikel debu di udara memengaruhi cara cahaya Matahari tersebar.
Baca juga: Indonesia Pamerkan Inovasi Kopi Nusantara di Australia, Dorong Ekspor dan Keberlanjutan
Dalam kondisi tertentu, terutama saat pagi atau sore hari, warna merah menjadi lebih dominan karena panjang gelombangnya lebih mampu menembus partikel debu dibandingkan warna lainnya.
Sebelumnya, fenomena serupa sebelumnya juga pernah terjadi di Onslow pada Januari lalu.
Saat itu, badai petir di wilayah pedalaman menghasilkan angin kencang yang mendorong debu merah hingga ke garis pantai.
Dalam kasus ini, Topan Tropis Narelle berperan sebagai pemicu utama. Angin kuat yang dibawanya mampu mengangkat debu dalam jumlah besar dan menyebarkannya hingga ke kawasan pesisir.
Meski terlihat dramatis, fenomena langit merah ini tidak berbahaya secara langsung.
Namun, debu yang terbawa angin dapat menurunkan kualitas udara dan mengurangi jarak pandang.
Tak hanya itu, partikel halus di udara juga berpotensi berdampak pada kesehatan, terutama bagi penderita gangguan pernapasan.
Topan Tropis Narelle sendiri tergolong unik karena jalurnya yang tidak biasa serta intensitasnya yang cukup kuat.
Badai ini bahkan menjadi salah satu sistem cuaca langka yang melintasi beberapa wilayah Australia dalam satu perjalanan.
Narelle tercatat sebagai badai pertama dalam lebih dari dua dekade yang mendarat di tiga negara bagian dan wilayah Australia, menjadikannya peristiwa meteorologi yang cukup bersejarah.
Baca juga: Daftar Wilayah yang Masuk Musim Kemarau April 2026, Mana Saja?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang