Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Ungkap Temuan Awal soal Penyebab Gugurnya TNI Pasukan UNIFIL di Lebanon

Kompas.com, 1 April 2026, 07:45 WIB
Irawan Sapto Adhi

Penulis

Sumber CNN, Reuters

KOMPAS.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap temuan awal terkait insiden yang menewaskan prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian di Lebanon selatan.

Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, menyatakan ledakan di pinggir jalan diduga menjadi penyebab utama serangan terhadap konvoi pasukan penjaga perdamaian tersebut.

UNIFIL tengah melakukan investigasi untuk memastikan kronologi dari perkembangan yang sangat memprihatinkan ini,” ujar Lacroix dalam rapat Dewan Keamanan PBB, Selasa (31/3/2026), dikutip dari Reuters.

Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon dalam 24 Jam, Ini Daftar Korban UNIFIL sejak 1978

Dua prajurit TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon dilaporkan gugur pada Senin (31/3/2026) di dekat wilayah Bani Hayyan, Lebanon selatan. Dua prajurit lainnya mengalami luka-luka.

Selain itu, satu prajurit Indonesia lainnya juga dilaporkan tewas dalam insiden terpisah, setelah proyektil meledak di dekat salah satu posisi pasukan pada Minggu (29/3/2026) malam hingga Senin (30/3/2026) dini hari.

Diduga akibat bom rakitan

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menjelaskan ledakan tersebut kemungkinan besar berasal dari bom rakitan atau improvised explosive device (IED).

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras serangan tersebut.

Ia menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.

“Harus ada pertanggungjawaban atas kejadian ini,” tegas Guterres.

Baca juga: Israel Respons Gugurnya 3 TNI Pasukan UNIFIL di Lebanon, Apa Kata Mereka?

Israel bantah terlibat, tuding Hizbullah

Di sisi lain, militer Israel menyatakan hasil peninjauan internal mereka menunjukkan tidak ada keterlibatan pasukan Israel dalam insiden tersebut.

Mereka menegaskan tidak menempatkan bahan peledak di lokasi kejadian dan tidak memiliki personel di area tersebut saat insiden berlangsung.

Israel juga meminta UNIFIL untuk menghindari wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona pertempuran dan area evakuasi sipil.

Reuters melaporkan, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, justru menuding kelompok bersenjata Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab.

Menurut Danon, kelompok tersebut kerap meluncurkan roket dari wilayah permukiman yang berdekatan dengan posisi pasukan PBB, sehingga menempatkan penjaga perdamaian dalam risiko tinggi.

Namun, pihak Hizbullah belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.

Halaman:
Baca tentang


Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau