Penulis
KOMPAS.com – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap temuan awal terkait insiden yang menewaskan prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian di Lebanon selatan.
Kepala Operasi Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, menyatakan ledakan di pinggir jalan diduga menjadi penyebab utama serangan terhadap konvoi pasukan penjaga perdamaian tersebut.
“UNIFIL tengah melakukan investigasi untuk memastikan kronologi dari perkembangan yang sangat memprihatinkan ini,” ujar Lacroix dalam rapat Dewan Keamanan PBB, Selasa (31/3/2026), dikutip dari Reuters.
Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon dalam 24 Jam, Ini Daftar Korban UNIFIL sejak 1978
Dua prajurit TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon dilaporkan gugur pada Senin (31/3/2026) di dekat wilayah Bani Hayyan, Lebanon selatan. Dua prajurit lainnya mengalami luka-luka.
Selain itu, satu prajurit Indonesia lainnya juga dilaporkan tewas dalam insiden terpisah, setelah proyektil meledak di dekat salah satu posisi pasukan pada Minggu (29/3/2026) malam hingga Senin (30/3/2026) dini hari.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menjelaskan ledakan tersebut kemungkinan besar berasal dari bom rakitan atau improvised explosive device (IED).
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengecam keras serangan tersebut.
Ia menegaskan bahwa serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang.
“Harus ada pertanggungjawaban atas kejadian ini,” tegas Guterres.
Baca juga: Israel Respons Gugurnya 3 TNI Pasukan UNIFIL di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Di sisi lain, militer Israel menyatakan hasil peninjauan internal mereka menunjukkan tidak ada keterlibatan pasukan Israel dalam insiden tersebut.
Mereka menegaskan tidak menempatkan bahan peledak di lokasi kejadian dan tidak memiliki personel di area tersebut saat insiden berlangsung.
Israel juga meminta UNIFIL untuk menghindari wilayah yang telah ditetapkan sebagai zona pertempuran dan area evakuasi sipil.
Reuters melaporkan, Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, justru menuding kelompok bersenjata Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Menurut Danon, kelompok tersebut kerap meluncurkan roket dari wilayah permukiman yang berdekatan dengan posisi pasukan PBB, sehingga menempatkan penjaga perdamaian dalam risiko tinggi.
Namun, pihak Hizbullah belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.