Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Darurat Banjir 2026, Rekor 263 Bencana dalam 3 Bulan, Apa Pemicunya?

Kompas.com, 31 Maret 2026, 21:34 WIB
Mannisa Elfira Putri Aji Suharno,
Tri Indriawati

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia mengawali tahun 2026 dengan catatan merah bencana hidrometeorologi.

Tahun 2026 baru berjalan tiga bulan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mencatat 263 kejadian banjir di seluruh penjuru negeri.

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan alarm keras atas meningkatnya frekuensi banjir bandang hingga rob yang kian ekstrem.

Dr. Emilya Nurjani, pakar klimatologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), mengungkapkan bahwa lonjakan ini merupakan dampak nyata dari akumulasi energi atmosfer akibat pemanasan global.

Lantas, mengapa wilayah seperti Semarang terus tenggelam oleh rob, dan apa hubungannya penemuan mesin uap abad ke-18 dengan banjir bandang di Jawa Barat hari ini? Simak analisis lengkapnya.

Banjir jadi bencana yang paling sering terjadi di Indonesia

Jika dilihat dari waktu yang lebih panjang, peningkatan bencana banjir di Indonesia terlihat jelas.

Pada 2025 tercatat 2009 kejadian banjir, 2024 ada 1420 kejadian, dan tahun 2023 sebanyak 1255 kejadian.

"Data ini memperlihatkan peningkatan kejadian banjir (untuk seluruh jenis bencana banjir: rob, bandang, kenaikan muka air Sungai) di seluruh Indonesia," sebut Emilya kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).

Dengan data itu, tak heran jika banjir menjadi jenis bencana yang sering terjadi dibandingkan dengan semua jenis bencana di Indonesia.

"Bencana banjir menempati peringkat pertama jumlah kejadian bencana dibandingkan jenis bencana lainnya diikuti oleh cuaca ekstrem," lanjut Emilya.

Fenomena alam seperti hujan ekstrem hingga siklon tropis menjadi salah satu faktor yang memicu banjir di berbagai wilayah tanah air.

Catatan menunjukkan, lanjut Emilya, ada sejumlah kejadian siklon tropis terbesar dalam 10 tahun terakhir. Ada Campaka (2017), Seroja (2021) dan Senyar (2025). 

"Dua siklon pertama terjadi di wilayah Indonesia bagian Selatan. Cempaka terjadi di Selatan Jawa dan Seroja di Selatan Nusa Tenggara Timur (NTT)," katanya.

Selanjutnya, Emilya mengatakan Siklon Senyar terjadi di wilayah Laut China Selatan yang menimbulkan dampak banjir di wilayah Sumatera bagian Utara, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Baca juga: Pemerintah Afrika Selatan Deklarasikan Bencana Nasional Usai 30 Orang Tewas karena Banjir Bandang

Faktor penyebab banjir bandang

Salah satu jenis banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah Indonesia adalah banjir bandang.

Emilya menjelaskan, fenomena banjir bandang didukung oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Faktor cuaca (hujan)
  • Faktor fisik wilayah (lahan terbuka di wilayah pegunungan atau perbukitan serta tekstur tanah yang jenuh air), sehingga memicu proses overland flow dan gulley erosion sehingga menimbulkan banjir bandang. 

Artinya, lanjut Emilya, selain curah hujan, kondisi fisik wilayah memegang peran penting dalam menentukan dampak banjir.

Sebagai contoh, curah hujan yang tinggi di atas 100 mm per hari di wilayah yang bagus, maka dampak banjir mungkin berupa genangan akibat luapan Sungai.

"Tetapi curah hujan di bawah 100 mm per hari juga akan menimbulkan banjir jika fisik lingkungan wilayah sudah rusak," jelasnya.

Halaman:


Terkini Lainnya
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Daftar Sektor Pekerjaan yang Tak Ikut Kebijakan WFH Pemerintah, Apa Saja?
Tren
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Ilmuwan Berhasil Ubah Limbah Plastik Jadi Obat Parkinson, Bagaimana Caranya?
Tren
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Harga Emas Hari Ini 1 April 2026: Antam Melejit, Galeri24 dan UBS Naik Rp 11.000
Tren
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Di Balik Gugurnya 3 TNI, UNIFIL Ungkap Kondisi Mencekam di Zona Misi
Tren
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Cara Mencairkan Saldo JHT 100 Persen Tanpa Paklaring, Ini Syarat dan Langkahnya
Tren
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Harga Elpiji dan Tarif Listrik Per 1 April 2026, Ini Rinciannya
Tren
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Bisa Diakhiri 2–3 Pekan Lagi Tanpa Perlu Kesepakatan
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Bisa Diakhiri 2–3 Pekan Lagi Tanpa Perlu Kesepakatan
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau