Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja

Kompas.com, 1 April 2026, 12:00 WIB
Mannisa Elfira Putri Aji Suharno,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Untuk menekan pengeluaran energi, pemerintah resmi memberlakukan kebijakan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN).

Kebijakan tersebut diberlakukan satu kali dalam sepekan, yakni setiap hari Jumat.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Airlangga Hartanto menyampaikan kepastian tersebut dalam konferensi pers yang ditayangkan melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (31/3/2026).

"Penerapan work from home bagi ASN di pusat dan daerah yang dilakukan sebanyak satu hari kerja dalam seminggu, yaitu hari Jumat," kata Airlangga. 

Kebijakan ini pun menuai perhatian luas dari publik, tak terkecuali pemilihan hari Jumat sebagai jadwal WFH.

Baca juga: Wacana WFH untuk Hemat BBM, Pakar UGM: Harus Dikalkulasi Efisiensinya

Perspektif psikologi kerja

Psikolog Danti Wulan menilai, kebijakan WFH pada hari Jumat merupakan langkah menarik karena berkaitan erat dengan dinamika psikologi industri dan organisasi.

“Secara psikologis, Jumat sering kali dianggap sebagai ‘hari transisi’, di mana energi mental mulai bergeser dari fokus tugas menuju pemulihan atau recovery,” ujarnya, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (1/4/2026).

Menurutnya, dari sudut pandang psikologi, penempatan WFH di hari Jumat memiliki dua sisi.

Di satu sisi, kebijakan ini dapat meningkatkan rasa otonomi sekaligus membantu menurunkan tingkat stres. Namun di sisi lain, ada potensi penurunan fokus kerja.

Tingkatkan otonomi dan kurangi stres

Danti menjelaskan, kebijakan ini memberi kepercayaan kepada ASN untuk bekerja dari rumah, sehingga meningkatkan rasa otonomi.

“Secara psikologis, ketika seseorang merasa dipercaya dan memiliki kontrol atas lingkungan kerjanya, motivasi intrinsik cenderung meningkat,” tuturnya.

Selain itu, WFH di hari Jumat juga berfungsi sebagai “buffer” atau penyangga stres, terutama dari beban perjalanan (komuter).

“Ini membantu proses unwinding (melepaskan penat) lebih awal tanpa mengurangi jam kerja, sehingga mencegah burnout jangka panjang,” jelasnya.

Risiko turunnya fokus

Meski demikian, Danti mengingatkan adanya potensi risiko, salah satunya munculnya persepsi bahwa Jumat adalah “hari setengah libur”.

“Secara kognitif, otak cenderung melakukan offloading atau melepaskan beban tugas lebih cepat karena lingkungan rumah yang terlalu santai, yang berpotensi menurunkan ketajaman eksekusi tugas,” paparnya.

Baca juga: Tak Hanya Thailand, Pakistan hingga Bangladesh Wajibkan WFH karena Konflik Timur Tengah, Apa Alasannya?

Produktivitas di ambang akhir pekan

WFH di hari Jumat juga memunculkan pertanyaan soal produktivitas.

Danti menjelaskan, produktivitas sangat bergantung pada kemampuan regulasi diri (self-regulation) masing-masing individu.

Ia mengutip konsep dalam psikologi kerja, Parkinson’s Law, yang menyebut bahwa pekerjaan akan berkembang untuk mengisi waktu yang tersedia.

“Pegawai yang mampu menetapkan prioritas dan target akan cenderung lebih produktif,” katanya.

Sebaliknya, tanpa target yang jelas, pekerja berisiko terjebak dalam prokrastinasi.

Namun, ia menambahkan bahwa fleksibilitas di akhir pekan justru sering “dibayar” dengan kerja yang lebih fokus.

“Tujuannya agar mereka bisa benar-benar menikmati Sabtu-Minggu tanpa utang pekerjaan. Ini juga terkait dengan Zeigarnik effect, yaitu kecenderungan otak terus memikirkan tugas yang belum selesai,” ujarnya.

Baca juga: Thailand Wajibkan PNS dan Pegawai BUMN WFH akibat Krisis Energi Timur Tengah

Dampak pada output dan motivasi

Dari sisi kinerja, Danti menilai dampak kebijakan ini bisa beragam.

Secara kuantitas, output kerja kemungkinan tetap stabil jika didukung sistem pelaporan yang jelas.

“Namun secara kualitas, kolaborasi spontan seperti diskusi singkat di kantor bisa berkurang,” ungkapnya.

Sementara dari sisi motivasi, WFH di hari Jumat dinilai mampu menjadi “booster moral” dalam jangka pendek karena pekerja merasa dihargai.

“Namun dalam jangka panjang, jika koordinasi digital buruk, hal ini bisa menyebabkan isolasi sosial atau penurunan engagement terhadap visi organisasi,” tambahnya.

Baca juga: Studi Ungkap WFH Bisa Meningkatkan Kesehatan dan Kurangi Stres

Tips supaya tetap produktif

Agar tetap produktif, Danti membagikan sejumlah strategi yang bisa diterapkan dalam berbagai skema kerja.

Metode WFH/wok from anywhere (WFA) hari Jumat:

  • Metode Eat the Frog

Danti menyarankan pekerja untuk menyelesaikan tugas paling berat dan paling membosankan di pagi hari (pukul 08.00 - 10.00). 

"Jangan biarkan tugas sulit menggantung hingga sore hari saat weekend vibe sudah memuncak," terangnya.

  • Environment priming

Meskipun di rumah, Danti menyarankan pekerja tetap gunakan pakaian yang rapi (minimal atasan formal) dan tentukan satu area khusus untuk bekerja. 

"Secara psikologis, ini memberi sinyal pada otak bahwa "saat ini saya sedang bekerja, bukan bersantai"," jelasnya.

  • Time blocking

Terapkan hari Jumat menjadi blocking waktu yang kaku untuk laporan dan koordinasi, sehingga tidak ada pekerjaan yang "menyeberang" ke hari Sabtu.

Baca juga: Thailand Wajibkan PNS dan Pegawai BUMN WFH akibat Krisis Energi Timur Tengah

Metode work from office (WFO):

  • Batching communication

Danti menyarankan pekerja untuk menggunakan waktu di kantor untuk menyelesaikan semua urusan yang butuh diskusi tatap muka. 

"Jadikan hari kantor sebagai hari kolaborasi, dan hari WFH sebagai hari Deep Work (fokus mandiri)," sebutnya.

  • Social connection

Manfaatkan kehadiran fisik untuk memperkuat hubungan interpersonal, karena dukungan sosial di kantor adalah faktor utama dalam ketahanan mental ASN.

Secara keseluruhan, Danti kunci dari produktivitas WFH di hari Jumat bukan pada lokasinya.

"Melainkan pada kejelasan Target Harian yang ditetapkan oleh atasan dan disiplin pribadi individu," jelasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau