Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Mudik Ferdhinal: Jalur Alternatif Kaki Gunung Marapi hingga Menyusuri One Way di Lembah Anai

Kompas.com, 24 Maret 2026, 14:41 WIB
Dharma Harisa,
Novita Rahmawati

Tim Redaksi

PADANG PANJANG, KOMPAS.com - Pagi itu, jalanan di lereng Padangpanjang belum sepenuhnya padat. Kabut tipis masih menggantung, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Namun di balik ketenangan itu, arus mudik Lebaran sudah mulai bergerak—perlahan, lalu menebal.

“Hati-hati, Pak,” ujar Ferdhinal Ashful (55), menirukan ucapan seorang anggota Korps Brigade Mobil kepada saat ia keluar dari kawasan Kampung Teleng menuju jalan utama, Senin (23/3/2026).

Di hadapannya, sejumlah mobil melesat di jalur kanan, menuruni kawasan Silaiang Ateh menuju arah Padang. Mayoritas berpelat BM. Pemandangan itu sempat membuatnya bertanya-tanya.

“Kenapa mobil-mobil ini ambil jalur kanan begitu kencang?” pikir pria yang juga dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas tersebut, sembari tetap memilih melaju di jalur kiri dengan kecepatan sedang.

Pertanyaan itu baru terjawab beberapa waktu kemudian.

Baca juga: Ini 3 Titik Rawan Macet di Jalur Puncak Bogor Saat One Way Diberlakukan

Hari itu, perjalanan mudik Ferdhinal dimulai lebih pagi dari biasanya. Pukul 06.50 WIB, ia bersama keluarga berangkat dari Jorong Piladang, Nagari Batuampa, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, menuju kampung istrinya di Jorong Sawah Parik, Nagari Panyalaian, Kabupaten Tanah Datar.

Ia mengaku sudah lama tidak menempuh jalur tersebut pada momen Lebaran. Dalam ingatannya, ruas jalan itu identik dengan kemacetan panjang—bahkan bisa berlangsung berjam-jam.

Titik-titik rawan sudah ia hafal: simpang Batusangkar, kawasan Ngalau, hingga simpang Koto Baru. Pada hari-hari libur Lebaran, jalur ini biasanya dipadati kendaraan sejak pagi hingga dini hari.

Namun pagi itu, perjalanan relatif lancar. Hanya sedikit hambatan di Pasar Baso, sebelum akhirnya ia memilih jalur alternatif menyusuri kaki Gunung Marapi.

Ferdhinal Ashful (55) bersama keluarga terjebak kemacetan saat melintasi jalur Sungai Pua menuju simpang Koto Baru, Tanah Datar, Senin (23/3/2026). Kepadatan arus kendaraan meningkat pada libur Lebaran, terutama di titik-titik pasar dan persimpangan utama.Dharma Harisa Ferdhinal Ashful (55) bersama keluarga terjebak kemacetan saat melintasi jalur Sungai Pua menuju simpang Koto Baru, Tanah Datar, Senin (23/3/2026). Kepadatan arus kendaraan meningkat pada libur Lebaran, terutama di titik-titik pasar dan persimpangan utama.

Rute itu membawanya melewati Nagari Canduang Koto Laweh, Lasi, hingga Sungai Pua. Lanskap hijau terbentang di sepanjang jalan, udara terasa sejuk, dan lalu lintas masih cukup terkendali. Meski demikian, beberapa titik tetap memerlukan kewaspadaan, seperti jembatan bailey di Nagari Bukik Batabuah.

Kemacetan akhirnya tak terhindarkan saat memasuki kawasan Kantor Camat Sungai Pua. Kendaraan nyaris berhenti total, merayap perlahan menuju simpang Koto Baru.

“Sekitar satu jam kami di situ,” ujarnya.

Selain arus mudik, hari pasar di Koto Baru turut menambah kepadatan. Tak ada jalur alternatif yang benar-benar bisa diandalkan. Pengemudi hanya bisa bersabar, menunggu antrean bergerak.

Baca juga: Tol Bocimi Arah Sukabumi Macet, Besok Diprediksi Lebih Padat

Sekitar pukul 10.00 WIB, Ferdhinal dan keluarga tiba di kampung istrinya. Mereka sempat beristirahat, sekaligus menunaikan salat Zuhur.

Dari sana, ia melihat kondisi jalan yang justru semakin padat. Puluhan mobil dari arah Nagari Paninjauan terjebak macet menuju Bukittinggi.

Halaman:


Terkini Lainnya
Ingatkan WFH Bukan Libur, Pemprov Kaltim Atur Ketat Disiplin ASN hingga Sanksi Potong TPP
Ingatkan WFH Bukan Libur, Pemprov Kaltim Atur Ketat Disiplin ASN hingga Sanksi Potong TPP
Regional
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Puji Sosok Jokowi: Mantan Presiden yang Sukses Jalankan Pemerintahan
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Puji Sosok Jokowi: Mantan Presiden yang Sukses Jalankan Pemerintahan
Regional
Dubes Iran Temui Jokowi di Solo, Ini Topik yang Dibahas
Dubes Iran Temui Jokowi di Solo, Ini Topik yang Dibahas
Regional
Aktivis Perempuan: Mediasi Kasus Kekerasan Seksual Unissula Langgar UU TPKS
Aktivis Perempuan: Mediasi Kasus Kekerasan Seksual Unissula Langgar UU TPKS
Regional
BKPSDM Nunukan Belum Putuskan Nasib Oknum PPPK Pemerkosa Balita dan ASN Satpol PP Pecandu Narkoba
BKPSDM Nunukan Belum Putuskan Nasib Oknum PPPK Pemerkosa Balita dan ASN Satpol PP Pecandu Narkoba
Regional
PT KAI Laporkan Warga Bandar Lampung yang Blokir Rel Kereta ke Polisi
PT KAI Laporkan Warga Bandar Lampung yang Blokir Rel Kereta ke Polisi
Regional
Grebeg Gethuk di Magelang Digelar April, Ini Rangkaian Acaranya
Grebeg Gethuk di Magelang Digelar April, Ini Rangkaian Acaranya
Regional
Mapolres Dogiyai Diserang Sekelompok Warga, Toko Bangunan Terimbas dan Terbakar
Mapolres Dogiyai Diserang Sekelompok Warga, Toko Bangunan Terimbas dan Terbakar
Regional
Selama Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas di Sumatera
Selama Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas di Sumatera
Regional
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Regional
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
Regional
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
Regional
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Regional
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
Regional
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Kisah Mudik Ferdhinal: Jalur Alternatif Kaki Gunung Marapi hingga Menyusuri One Way di Lembah Anai
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat