PADANG PANJANG, KOMPAS.com - Pagi itu, jalanan di lereng Padangpanjang belum sepenuhnya padat. Kabut tipis masih menggantung, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Namun di balik ketenangan itu, arus mudik Lebaran sudah mulai bergerak—perlahan, lalu menebal.
“Hati-hati, Pak,” ujar Ferdhinal Ashful (55), menirukan ucapan seorang anggota Korps Brigade Mobil kepada saat ia keluar dari kawasan Kampung Teleng menuju jalan utama, Senin (23/3/2026).
Di hadapannya, sejumlah mobil melesat di jalur kanan, menuruni kawasan Silaiang Ateh menuju arah Padang. Mayoritas berpelat BM. Pemandangan itu sempat membuatnya bertanya-tanya.
“Kenapa mobil-mobil ini ambil jalur kanan begitu kencang?” pikir pria yang juga dosen Fakultas Pertanian Universitas Andalas tersebut, sembari tetap memilih melaju di jalur kiri dengan kecepatan sedang.
Pertanyaan itu baru terjawab beberapa waktu kemudian.
Baca juga: Ini 3 Titik Rawan Macet di Jalur Puncak Bogor Saat One Way Diberlakukan
Hari itu, perjalanan mudik Ferdhinal dimulai lebih pagi dari biasanya. Pukul 06.50 WIB, ia bersama keluarga berangkat dari Jorong Piladang, Nagari Batuampa, Kecamatan Akabiluru, Kabupaten Limapuluh Kota, menuju kampung istrinya di Jorong Sawah Parik, Nagari Panyalaian, Kabupaten Tanah Datar.
Ia mengaku sudah lama tidak menempuh jalur tersebut pada momen Lebaran. Dalam ingatannya, ruas jalan itu identik dengan kemacetan panjang—bahkan bisa berlangsung berjam-jam.
Titik-titik rawan sudah ia hafal: simpang Batusangkar, kawasan Ngalau, hingga simpang Koto Baru. Pada hari-hari libur Lebaran, jalur ini biasanya dipadati kendaraan sejak pagi hingga dini hari.
Namun pagi itu, perjalanan relatif lancar. Hanya sedikit hambatan di Pasar Baso, sebelum akhirnya ia memilih jalur alternatif menyusuri kaki Gunung Marapi.
Ferdhinal Ashful (55) bersama keluarga terjebak kemacetan saat melintasi jalur Sungai Pua menuju simpang Koto Baru, Tanah Datar, Senin (23/3/2026). Kepadatan arus kendaraan meningkat pada libur Lebaran, terutama di titik-titik pasar dan persimpangan utama.Rute itu membawanya melewati Nagari Canduang Koto Laweh, Lasi, hingga Sungai Pua. Lanskap hijau terbentang di sepanjang jalan, udara terasa sejuk, dan lalu lintas masih cukup terkendali. Meski demikian, beberapa titik tetap memerlukan kewaspadaan, seperti jembatan bailey di Nagari Bukik Batabuah.
Kemacetan akhirnya tak terhindarkan saat memasuki kawasan Kantor Camat Sungai Pua. Kendaraan nyaris berhenti total, merayap perlahan menuju simpang Koto Baru.
“Sekitar satu jam kami di situ,” ujarnya.
Selain arus mudik, hari pasar di Koto Baru turut menambah kepadatan. Tak ada jalur alternatif yang benar-benar bisa diandalkan. Pengemudi hanya bisa bersabar, menunggu antrean bergerak.
Baca juga: Tol Bocimi Arah Sukabumi Macet, Besok Diprediksi Lebih Padat
Sekitar pukul 10.00 WIB, Ferdhinal dan keluarga tiba di kampung istrinya. Mereka sempat beristirahat, sekaligus menunaikan salat Zuhur.
Dari sana, ia melihat kondisi jalan yang justru semakin padat. Puluhan mobil dari arah Nagari Paninjauan terjebak macet menuju Bukittinggi.