Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lonjakan Campak di Lampung Tembus 591 Suspek, Dinkes Ingatkan Risiko Komplikasi

Kompas.com, 1 April 2026, 14:06 WIB
Inten Esti Pratiwi

Penulis

LAMPUNG, KOMPAS.com - Kasus campak tengah naik di beberapa wilayah, termasuk di Provinsi Lampung.

Menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung hingga 30 Maret 2026, kasus suspek campak tercatat 591 orang dengan 52 kasus positif.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan data selama setahun pada tahun 2025 sebanyak 500 kasus suspek campak dengan 28 di antaranya positif. Kemudian pada tahun 2024, sebanyak 347 kasus campak dengan 24 kasus positif.

Kelapa Dinas Kesehatan (Kadiskes) Lampung dr Edwin Rusli menyayangkan soal masih banyak yang mengira campak sebagai penyakit ringan.

“Campak sering dianggap penyakit yang bisa sembuh sendiri, sehingga masyarakat menjadi abai,” ujarnya. 

Padahal, penyakit ini dapat menyebabkan diare berat, radang paru, radang otak, kebutaan, hingga kematian.

Kasus kematian karena campak baru-baru ini terjadi di Cianjur, Jawa Barat, yang menimpa seorang dokter muda berinisial AMW (25). 

Dokter AMW meninggal dunia setelah terinfeksi campak yang menyebabkan gangguan pada jantung dan otak.

Baca juga: Sering Tak Disadari, Gejala Awal Campak Disebut Tiga C, Apa Itu?

Lonjakan kasus di Lampung

Dinkes Lampung meminta orangtua dan masyarakat waspada terhadap gejala awal campak dan memastikan imunisasi lengkap guna mencegah penyebaran penyakit dan komplikasi serius.

Tingginya suspek campak di Provinsi Lampung dalam kurun waktu tiga bulan pertama pada 2026 mendapat sorotan tajam dari kalangan akademisi.

Akademisi sekaligus dosen epidemiologi Universitas Malahayati, Agung Aji Perdana, menegaskan bahwa lonjakan ini harus disikapi dengan serius karena peningkatannya lebih dari dua kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Penyebab utama daripada campak ini adalah virus. Virus campak ini bisa menyebar kepada kelompok-kelompok masyarakat yang memang tidak diimunisasi campak," ujar Agung, Selasa (31/3/2026).

Penyebab lonjakan kasus lainnya adalah karena rendahnya angka cakupan anak yang telah diimunisasi campak di Lampung.

"Data yang saya ketahui, bahwa cakupan imunisasi dasar lengkap kita di Provinsi Lampung itu mencapai 81 persen tahun 2025, di mana targetnya itu seharusnya 95 persen," jelasnya.

Gap atau jarak 14 persen itulah yang menyebabkan meningkatnya kasus campak di Provinsi Lampung karena kekebalan imun kelompok tidak terbentuk dengan baik.

Halaman:


Terkini Lainnya
Selama Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas di Sumatera
Selama Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan 600 Paket Fidyah untuk Penyintas di Sumatera
Regional
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Kasus Mahasiswanya Diduga Dilecehkan Alumni, Unissula Klaim Sudah Damai
Regional
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
9 Jabatan Kepala Dinas Kosong di Lhokseumawe, Diisi Pelaksana Tugas
Regional
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
84.457 Kendaraan Lintasi Tol IKN Selama Libur Lebaran 2026
Regional
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Tak Pilih Mobil Listrik, Pemkot Malang Andalkan WFH dan Sepeda Demi Hemat BBM
Regional
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
ASN WFH Setiap Jumat, Gubernur Sumsel: Saya Pelajari Dulu
Regional
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Bertemu Dubes Iran untuk Indonesia di Solo, Jokowi: Saya Menyampaikan Banyak Hal
Regional
Sertu Ichwan asal Magelang Gugur di Lebanon, Megawati hingga Menteri Kirim Karangan Bunga
Sertu Ichwan asal Magelang Gugur di Lebanon, Megawati hingga Menteri Kirim Karangan Bunga
Regional
Duduk Perkara Kasus Musa, Bantu Lunasi Utang Rp 198 Juta Berujung Vonis 5 Bulan Penjara
Duduk Perkara Kasus Musa, Bantu Lunasi Utang Rp 198 Juta Berujung Vonis 5 Bulan Penjara
Regional
Farhan Janjikan Bonus Sarapan untuk ASN Bandung yang Tak WFH dan Bersepeda di Hari Jumat
Farhan Janjikan Bonus Sarapan untuk ASN Bandung yang Tak WFH dan Bersepeda di Hari Jumat
Regional
Ayah Ditahan Usai Bantu Lunasi Utang Teman, Anak Sampai Utang Sana-sini Demi Hidup Keluarga
Ayah Ditahan Usai Bantu Lunasi Utang Teman, Anak Sampai Utang Sana-sini Demi Hidup Keluarga
Regional
Pemkot Madiun Tetap Wajibkan Eselon II dan III Masuk, Meski Ada WFH Setiap Jumat
Pemkot Madiun Tetap Wajibkan Eselon II dan III Masuk, Meski Ada WFH Setiap Jumat
Regional
Ayah di Kebumen Jadi Predator Anak Kandung Selama 2 Tahun, Korban Diancam Dibunuh
Ayah di Kebumen Jadi Predator Anak Kandung Selama 2 Tahun, Korban Diancam Dibunuh
Regional
Air Embung di Nunukan Menyusut Akibat Cuaca Panas, Penjual Air Keliling Banjir Pesanan
Air Embung di Nunukan Menyusut Akibat Cuaca Panas, Penjual Air Keliling Banjir Pesanan
Regional
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Sampaikan Belasungkawa Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon
Dubes Iran untuk Indonesia Boroujerdi Sampaikan Belasungkawa Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Lonjakan Campak di Lampung Tembus 591 Suspek, Dinkes Ingatkan Risiko Komplikasi
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat