Editor
SURABAYA, KOMPAS.com - Gelombang kekecewaan menyelimuti komunitas seni setelah rencana pengosongan Galeri Dewan Kesenian Surabaya (DKS) bergullir.
Keputusan mengosongkan DKS yang berada di kompleks cagar budaya Balai Pemuda tersebut dinilai mengabaikan memori kolektif serta sejarah panjang pergerakan seni di Surabaya.
Sebagai bentuk penolakan dan rasa duka yang mendalam, pelukis sekaligus penulis Hamid Nabhan melayangkan surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi.
Baca juga: Antrean Terjadi di Sejumlah SPBU Surabaya, Khawatir Harga BBM Naik
Bagi Hamid dan rekan-rekan seprofesinya, kompleks tersebut bukan sekadar ruang pameran, melainkan sebuah 'rumah' yang telah membesarkan proses kreatif mereka selama berpuluh-puluh tahun.
"Saya menulis surat ini dengan hati yang berat dan suara yang penuh harapan, sebagai seorang pelaku seni yang telah menghabiskan sebagian besar masa kreatif saya di ruang-ruang yang kini akan dikosongkan, dan sebagai bagian dari komunitas yang merasa seperti kehilangan rumah yang penuh kenangan," ujar Hamid dikutip dari Tribun Jatim, Rabu (1/4/2026).
Kabar pengosongan ruang-ruang kreatif ini menimbulkan kebingungan dan kesedihan yang mendalam di kalangan seniman.
Muncul anggapan kuat bahwa kebijakan tersebut diambil oleh pihak-pihak yang kurang memahami jejak sejarah serta kontribusi vital insan seni Surabaya yang telah terbangun selama lebih dari setengah abad.
Menurut Hamid, entitas seperti Dewan Kesenian Surabaya (DKS), Galeri DKS, dan Galeri Merah Putih memiliki makna yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar tumpukan batu bata dan semen.
Begitu pula dengan Balai Pemuda Surabaya secara keseluruhan. Bangunan tersebut adalah cagar budaya resmi yang napas sejarahnya mengalir layaknya nadi yang menghidupkan Kota Surabaya.
Baca juga: Kebijakan WFH ASN Pemkot Surabaya, Eri Cahyadi Tunggu Arahan Presiden
Kompleks Balai Pemuda memiliki nilai historis yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam lanskap cagar budaya nasional.
"Gedung ini dibangun lebih dari 110 tahun lalu tepatnya tahun 1907 oleh arsitek Belanda Westmaes, awalnya bernama 'De Simpangsche Societeit' setelah kemerdekaan pada tanggal 12 Desember 1957 gedung ini diserahkan kepada Pemerintah Kota Surabaya dan diberi nama Balai Pemuda, dengan fungsi sebagai balai pertemuan umum dan markas gerakan pemuda," paparnya.
Berikut isi surat terbuka yang disampaikan seniman:
Setiap sudut ruangan itu menyimpan cerita dari ungkapan karya yang terlukis di kanvas, hingga nyanyian yang menyuarakan harapan rakyat serta puisi-puisi yang mengabadikan jiwa kota.
Bahkan lezatnya masakan Mak Ning yang selalu mengisi hari-hari yang penuh tawa telah menjadi bagian dari kenangan tentang rumah kita.
Di mana kita akan bertemu? Di mana karya arek-arak Suroboyo akan bisa dilihat oleh masyarakat? Di mana para seniman itu akan hidup dan tumbuh? Dan di mana Mak Ning yang selalu melayani makanan hangatnya yang sudah menjadi bagian dari kehidupan para seniman?