Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nakhoda Kapal RI Dipenjara di Australia, Nyaris 2 Ton Teripang Ilegal Disita

Kompas.com, 29 Maret 2026, 18:40 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Editor

CANBERRA, KOMPAS.com - Kapten kapal penangkap ikan asal Indonesia dipenjara setelah pihak berwenang menemukan hampir dua ton teripang hasil tangkapan ilegal di Australia.

Kapal yang tersembunyi di hutan bakau sebuah anak sungai di dekat Sungai Escape, di Semenanjung Cape York awal bulan ini ditemukan oleh Petugas Pasukan Perbatasan Australia.

Pihak berwenang menyita sekitar 1.950 kilogram teripang, sekaligus berbagai peralatan penangkapan ikan.

Baca juga: 6 WNI Ditangkap Saat Masuki Singapura secara Ilegal, Hendak Cari Kerja Tanpa Izin

Sang kapten dijatuhi hukuman dua bulan penjara setelah mengaku bersalah di Pengadilan Lokal Darwin atas penangkapan ikan ilegal di perairan Australia.

Ia pernah terdeteksi masuk secara ilegal ke perairan Australia sekali sebelumnya, kata Komando Perbatasan Maritim dalam sebuah pernyataan.

Enam awak kapal lainnya juga mengaku bersalah atas pelanggaran Undang-Undang Pengelolaan Perikanan federal dan diberi jaminan untuk berperilaku baik.

Mereka semua akan dipulangkan ke Indonesia oleh Pasukan Perbatasan, dengan kapten kapal akan dikeluarkan dari negara itu setelah menjalani hukuman penjara.

Peternak mutiara Rusty Tully memberi tahu pihak berwenang tentang kapal asing tersebut setelah melihat para nelayan "berdiri dengan air setinggi lutut, mencari teripang, seperti yang dikenal sebagai beche-de-mer."

Hasil tangkapan yang menguntungkan

Nelayan veteran Cairns, Dave McAtamney, mengatakan, teripang bisa dijual hingga 50.000 dollar Australia (sekitar Rp 550 juta) per ton.

"Apakah mereka mendapatkan sebanyak itu, siapa yang tahu?" katanya.

"Mereka tidak akan mendapatkan harga pasar.

"Pada akhirnya, mereka hanya mencoba untuk bertahan hidup."

Baca juga: Genosida dan Arogansi Anarkis Tak Lagi Ilegal: Gaza, Venezuela, dan Akhir Tata Dunia

McAtamney, yang telah berkecimpung dalam bisnis perikanan komersial selama lebih dari 40 tahun, mengatakan bahwa teripang, atau beche-de-mer, adalah "makanan tradisional" yang sangat dicari di China.

"(Ini) salah satu dari lima besar, atau tujuh besar, di piring bersama dengan abalone, lobster hidup, dan sirip hiu," katanya.

"Jika ada makan malam spesial atau jamuan makan spesial, inilah yang akan muncul di menu."

Halaman:

Terkini Lainnya
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Dihantam Krisis, PM Malaysia Ajak Rakyat Fokus Hadapi Tekanan Ekonomi
Global
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Geopolitik Global Kini: Menutup Luka Perang, Membuka Jalan Damai
Global
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Baru Lolos Piala Dunia, Negara Ini Langsung Libur Nasional, Pesta Saat Hujan
Global
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Tak Dibantu Perang Lawan Iran, AS Mau Tinjau Hubungan NATO
Internasional
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Potret Warga Iran Saat Perang, Kafe Jadi Pelarian, Risaukan Masa Depan
Internasional
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
AS Sebut Akhir Perang Iran Sudah Terlihat, Sinyal Damai Sebentar Lagi?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Nakhoda Kapal RI Dipenjara di Australia, Nyaris 2 Ton Teripang Ilegal Disita
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat