Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mitos Kebakaran Baterai Masih Hambat Adopsi Mobil Listrik

Kompas.com, 24 Januari 2026, 20:39 WIB
Donny Dwisatryo Priyantoro,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kekhawatiran soal potensi kebakaran baterai dan keamanan pengisian daya di rumah masih menjadi ganjalan utama dalam adopsi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia. Padahal, sebagian besar ketakutan tersebut dipicu oleh mitos yang beredar luas tanpa penjelasan teknis yang memadai.

Survei Global EV Alliance (GEVA) 2025 mencatat, 77 persen dari 26.071 pengemudi EV di 30 negara menilai berbagai mitos, termasuk isu kebakaran, sebagai hambatan terbesar adopsi kendaraan listrik. Temuan ini menegaskan bahwa transisi menuju elektrifikasi tidak hanya soal kesiapan teknologi, tetapi juga edukasi publik yang berkelanjutan.

Baca juga: Risiko Banjir pada Mobil Listrik dan ICE: Apa yang Perlu Diketahui?

Isu keselamatan ini turut diangkat Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) dalam kegiatan bertajuk “Zero Emission and Zero Accident” yang digelar di Museum Listrik Energi Baru, TMII, Jakarta, Sabtu (24/1/2026). Forum tersebut menjadi wadah berbagi pengalaman langsung para pengguna kendaraan listrik, sekaligus upaya meluruskan informasi yang selama ini keliru di masyarakat.

Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI)Dok. KOLEKSI Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI)

“Pengalaman pengguna membuktikan bahwa kendaraan listrik aman bila instalasi mengikuti standar,” kata Arwani Hidayat, Ketua KOLEKSI, dalam keterangan resminya.

Menurut Arwani, risiko teknis memang tetap ada, terutama terkait instalasi listrik rumah yang tidak sesuai standar maupun potensi thermal runaway pada baterai. Namun, ia menegaskan bahwa risiko tersebut bukan sesuatu yang tak bisa diatasi.

Baca juga: Bagaimana Prosedur Darurat jika Mobil Listrik Terendam Air?

“Namun risiko ini dapat dicegah, dikelola, dan distandarisasi. Pemerintah perlu menetapkan aturan keselamatan yang jelas agar publik percaya dan berani beralih,” kata Arwani.

Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI)Dok. KOLEKSI Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI)

Lebih lanjut, Arwani menekankan pentingnya kehadiran standar nasional untuk instalasi home charging, sertifikasi teknisi, ketersediaan peralatan pemadam khusus baterai, serta SOP penanganan thermal runaway. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, pemerintah daerah dan masyarakat akan terus berada dalam ketidakpastian, sementara mitos seputar EV semakin berkembang.

Pada sisi lain, PLN menilai kolaborasi dengan komunitas pengguna kendaraan listrik sebagai elemen penting dalam membangun kepercayaan publik.

“PLN telah mengoperasikan lebih dari 4.672 SPKLU di seluruh Indonesia dan terus meningkatkan standar keselamatan,” ujar Ronny Afrianto, Vice President VP Komersialisasi Produk Niaga, Divisi Pengembangan Produk Niaga (PPN) PLN.

Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI)Dok. KOLEKSI Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI)

Ronny menambahkan, masukan dari komunitas seperti KOLEKSI membantu PLN memastikan bahwa infrastruktur pengisian daya yang dibangun tidak hanya memadai secara jumlah, tetapi juga aman dan andal. Hal ini dinilai krusial dalam mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih dan hijau.

Pada akhirnya, percepatan adopsi kendaraan listrik tidak cukup mengandalkan kecanggihan teknologi semata. Diperlukan komunikasi publik berbasis data serta pelibatan aktif komunitas pengguna untuk melawan misinformasi dengan pengalaman nyata.

“Transisi energi membutuhkan kepercayaan. Adapun Kepercayaan tumbuh saat keselamatan diatur dengan jelas dan risiko dikelola secara profesional,” kata Arwani.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau