Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Proses Isi Daya Motor Listrik Melambat 80 ke 100 Persen?

Kompas.com, 16 Maret 2026, 10:42 WIB
Gilang Satria,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengguna motor listrik kerap menyadari bahwa proses pengisian daya dari 80 persen ke 100 persen terasa lebih lama dibandingkan saat mengisi dari kondisi baterai rendah.

CEO Indomobil Emotor, Pius Wirawan, menjelaskan hal tersebut merupakan mekanisme normal yang berkaitan dengan sistem perlindungan baterai.

Pius menjelaskan bahwa pada tahap akhir pengisian, sistem akan memperlambat proses charging demi menjaga keseimbangan sel baterai.

Baca juga: Arus Mudik Sudah Dimulai, 650.213 Kendaraan Keluar dari Jabodetabek

“Kenapa 80 ke 100 persen itu disebut lambat? Karena di situ baterai akan melakukan slow charging. Jadi begini, kenapa harus lambat? Karena begitu ada salah satu sel yang lebih dulu penuh, sistem akan mendeteksinya,” kata Pius yang ditemui di Jakarta, akhir pekan lalu.

PT Indomobil eMotor Internasional resmi meluncurkan Indomobil eMotor TyrannoDok. Indomobil Emotor PT Indomobil eMotor Internasional resmi meluncurkan Indomobil eMotor Tyranno

Ia menjelaskan, baterai kendaraan listrik terdiri dari banyak sel yang bekerja secara bersamaan.

Setiap sel harus terisi secara seimbang agar performa dan usia pakai baterai tetap terjaga.

"Sel baterai itu jumlahnya banyak, rata-rata sekitar 20 sampai 24 sel. Misalnya kita bicara baterai 72V 30A. Tegangan puncaknya bisa sekitar 76,4 volt. Kalau salah satu sel sudah penuh lebih dulu, saat fast charging sistem akan mendeteksi baterai sudah penuh. Karena itu pengisian dari 80 ke 100 persen biasanya dibuat lebih lambat agar distribusi dayanya bisa merata," katanya.

Baca juga: Pilih Roof Box Mobil yang Tepat untuk Mudik Lebaran 2026

Selain faktor keseimbangan sel, kondisi jaringan listrik juga turut memengaruhi proses pengisian daya.

Indomobil Emotor Luncurkan Motor Listrik TyrannoDIO DANANJAYA/ Kompas.com Indomobil Emotor Luncurkan Motor Listrik Tyranno

Menurut Pius, voltase listrik di Indonesia tidak selalu stabil sehingga sistem charger harus bekerja lebih hati-hati.

"Kedua, terkait kondisi stabilitas voltase listrik di Indonesia yang tidak selalu stabil. Pernah tidak melihat lampu tiba-tiba redup di malam hari? Kalau dipasang voltmeter, akan terlihat bahwa yang seharusnya normal 220 volt kadang bisa turun jadi sekitar 200 volt. Itu sebabnya kadang orang merasa AC atau kulkasnya tidak dingin," ujarnya.

Karena itu, sistem pengisian pada motor listrik dilengkapi mekanisme pengamanan untuk menjaga tegangan tetap berada dalam batas aman.

Baca juga: QJMotor Luncurkan 2 Motor Baru, Ini Harga dan Spesifikasinya

"Jika dibayangkan, ada dua batas, batas atas dan batas bawah, seperti grafik EKG. Ketika voltase terlalu tinggi, sistem akan mendeteksi baterai sudah penuh. Kalau terlalu rendah, itu dianggap berbahaya," katanya.

Motor listrik Indomobil Emotor QTKOMPAS.com/DIO DANANJAYA Motor listrik Indomobil Emotor QT

Ia menambahkan, komunikasi antara baterai, controller, dan charger juga sangat penting dalam proses pengisian daya.

Baca juga: Arus Kendaraan di Tol Trans Jawa Ruas Jateng Mulai Padat

Sebab tanpa koordinasi yang baik, arus listrik yang masuk bisa menimbulkan panas berlebih pada baterai.

"Jika tidak ada komunikasi antara baterai, controller, dan charger, arus bisa terus masuk sehingga menimbulkan panas. Ketika panas, sel baterai yang terdiri dari katoda akan memuai. Akibatnya, struktur molekulnya tidak lagi berada dalam kondisi standar.”

Karena itu, jelas Pius, proses pengisian dari 80 persen hingga penuh memang sengaja dibuat lebih lambat.

Tujuannya bukan hanya memastikan semua sel terisi merata, tetapi juga menjaga keamanan dan memperpanjang usia baterai kendaraan listrik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau