KOMPAS.com – Platform media sosial terdesentralisasi Bluesky memperkenalkan aplikasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) baru bernama Attie.
Aplikasi ini pertama kali diperkenalkan dalam konferensi teknologi “Atmosphere” akhir pekan lalu oleh mantan CEO Bluesky yang kini menjabat sebagai Chief Innovation Officer, Jay Graber.
“Ini adalah produk baru, bukan bagian dari aplikasi Bluesky. Ini juga menjadi produk pertama dari tim baru Jay,” ujar CEO sementara Bluesky, Toni Schneider, kepada TechCrunch.
Berbeda dari aplikasi utamanya, Attie hadir sebagai produk mandiri yang berfungsi sebagai asisten AI untuk membantu pengguna merancang feed (linimasa) dan algoritma mereka sendiri.
Baca juga: Medsos Bluesky Kini Punya Sistem Centang Biru yang Tak Biasa
Aplikasi ini memanfaatkan teknologi AI dari Anthropic, khususnya model Claude, untuk menghadirkan pengalaman sosial berbasis agen AI (agentic AI).
Lewat Attie, pengguna bisa membuat feed kustom hanya dengan mengetikkan perintah dalam bahasa natural, mirip seperti berinteraksi dengan chatbot AI.
Pengguna juga dapat masuk menggunakan akun berbasis AT Protocol (atproto), yaitu teknologi yang menjadi fondasi ekosistem Bluesky.
Karena sifatnya terbuka, Attie dapat memahami preferensi pengguna untuk menyusun feed yang lebih personal dan sesuai minat mereka.
Pengguna juga bisa bertanya kepada Attie, misalnya untuk mendapatkan rekomendasi unggahan yang relevan atau konten yang layak dibagikan ulang (repost).
“Anda mengontrolnya dan bisa menciptakan feed sendiri tanpa harus menulis kode atau memahami cara kerjanya,” jelas Schneider.
Ilustrasi cara kerja Attie.Pada tahap awal, Attie memungkinkan pengguna membuat dan melihat feed kustom, yang nantinya juga bisa digunakan di Bluesky atau aplikasi lain berbasis atproto.
Ke depan, Bluesky berencana menambahkan kemampuan agar pengguna bisa “vibe coding”, yakni membuat aplikasi media sosial mereka sendiri dengan bantuan AI.
Baca juga: TikTok Sempat Diblokir, X Twitter dan BlueSky Aji Mumpung Rilis Fitur Baru
Graber menilai pendekatan ini berbeda dari platform besar lain yang dinilai lebih memanfaatkan AI untuk kepentingan perusahaan.
“Kami percaya AI harus melayani manusia, bukan platform. Protokol terbuka memberi kekuatan kepada pengguna untuk membuat feed maupun aplikasi sesuai keinginan mereka,” kata Graber.