KOMPAS.com – Kabar gembira bagi para pencinta sejarah dan wisata vintage! Salah satu bangunan paling ikonik di kawasan Malioboro, Grand Hotel De Djokja, dikabarkan akan segera diresmikan dan beroperasi kembali pada tahun 2026 ini.
Hotel legendaris yang telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia sejak zaman kolonial ini akan dihidupkan kembali dengan konsep restorasi yang tetap mempertahankan kemegahan arsitektur aslinya.
Mengutip laporan dari Kompas.com, hotel ini bukan sekadar tempat menginap biasa. Berdiri megah sejak tahun 1911, gedung ini menyimpan ribuan cerita, mulai dari masa keemasan kolonial Belanda hingga peran pentingnya dalam masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Baca juga: Hotel di Thailand Diskon Besar, Dampak Krisis Perjalanan
Grand Hotel De Djokja pertama kali membuka pintunya bagi para turis kelas atas dan pejabat kolonial di awal abad ke-20.
Pada masanya, hotel ini adalah simbol kemewahan di Yogyakarta. Dengan gaya arsitektur Indische Empire yang megah, hotel ini menjadi pusat gravitasi sosial bagi kalangan elit yang berkunjung ke kota pelajar.
Dikutip dari catatan sejarah dari laman Kompas Travel, bangunan ini telah beberapa kali berganti nama seiring dengan perubahan zaman.
Mulai dari masa pendudukan Jepang hingga akhirnya dinasionalisasi setelah Indonesia merdeka. Namun, pesona klasiknya tidak pernah pudar, menjadikannya salah satu bangunan cagar budaya yang paling dilindungi di Yogyakarta.
Salah satu daya tarik utama dari Grand Hotel De Djokja adalah nilai sejarahnya yang sangat patriotik.
Hotel Grand Inna Malioboro di Yogyakarta resmi bertransformasi menjadi Grand Hotel De Djokja, menandai babak baru dalam sejarah perhotelan di kawasan Malioboro.Baca juga: Okupansi Hotel di Yogya Selama Libur Lebaran Cenderung Turun
Mengutip data dari Kompas.com, hotel ini tercatat pernah menjadi kediaman atau tempat singgah bagi tokoh-tokoh besar bangsa, termasuk sang Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Pada masa revolusi fisik, hotel ini sempat beralih fungsi menjadi markas besar militer dan tempat pertemuan penting para petinggi negara.
Bayangkan, kamu bisa menginap di kamar yang dulunya mungkin pernah menjadi tempat para pahlawan menyusun strategi kemerdekaan. Nilai historis inilah yang membuat restorasi hotel ini begitu dinantikan oleh masyarakat luas.
Menurut ANTARA, pada Senin (19/1/2026) langkah menghidupkan kembali hotel ini merupakan bagian dari proyek strategis nasional.
Holding BUMN Pariwisata dan Pendukungnya, InJourney, akan meluncurkan transformasi Grand Hotel De Djokja pada tahun ini. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem pariwisata di Yogyakarta melalui pengelolaan aset bersejarah yang profesional.
Direktur Utama InJourney dalam keterangannya di ANTARA menjelaskan bahwa transformasi ini bukan hanya soal perbaikan fisik, tetapi juga penataan manajemen dan layanan yang berstandar internasional tanpa menghilangkan nilai heritagenya.
Baca juga: Harga Hotel Uni Emirat Arab Terjun Bebas, Imbas Konflik Timur Tengah
“Tahun ini kami akan meluncurkan Grand Hotel De Djokja. Ini adalah hotel heritage di Malioboro yang memang sangat ikonik,” ujar Direktur Utama InJourney Maya Watono dalam Press Conference bertajuk “4 Tahun InJourney: Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia.”
InJourney berkomitmen menjadikan hotel ini sebagai destinasi Heritage & Luxury yang mampu menarik wisatawan mancanegara maupun domestik yang mencari pengalaman menginap otentik.
Setelah melalui proses renovasi dan konservasi yang cukup panjang untuk memastikan setiap detail bangunannya tetap terjaga, Grand Hotel De Djokja dijadwalkan akan diresmikan tahun ini.
Pihak pengelola memastikan bahwa meskipun fasilitas yang ditawarkan sudah modern dan mewah, nuansa Old Djokja tetap menjadi jualan utama.
Integrasi hotel ini ke dalam jaringan manajemen InJourney diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas layanan secara berkelanjutan.
Wisatawan nantinya tidak hanya mendapatkan fasilitas penginapan kelas satu, tetapi juga pengalaman "melintasi waktu" melalui setiap sudut bangunannya yang kokoh sejak seabad.
Karena hotel ini diprediksi akan menjadi spot paling populer di Yogyakarta setelah diresmikan nanti, pastikan kamu terus memantau informasi terkait pembukaan resminya.
Menginap di sini bukan hanya soal tidur di kasur yang empuk, melainkan soal merasakan detak jantung sejarah Indonesia yang pernah berdenyut di dalam tembok-temboknya yang ikonik.
Baca juga: Harga Hotel Uni Emirat Arab Terjun Bebas, Imbas Konflik Timur Tengah
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang