Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Skor PISA Siswa Indonesia di Bawah Rata-rata, Pendidikan STEM Bisa Jadi Solusi

Kompas.com, 17 September 2025, 16:30 WIB
Melvina Tionardus,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Penasihat Ahli Kemendikdasmen, Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., Ed.D. membagikan pandangannya tentang STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) dalam perayaan HUT Ke-30 Kompas.com bertajuk Jagat Literasi, Senin (15/9/2025).

Stephanie mengangkat topik Pendidikan STEM Sejak Dini: Siapkan Generasi Kaya Inovasi. Menurut wanita yang juga merupakan Executive Director Pelita Harapan Group ini, revolusi industri 4.0 dengan kecerdasan buatan dan disrupsi teknologi telah mengubah wajah dunia.

STEM adalah literasi abad ini yang akan menentukan daya saing generasi kita di masa depan. Maka itu, pendidikan STEM sejak dini perlu diterapkan ke generasi penerus bangsa.

Baca juga: Riady Foundation Gelontorkan Rp 500 Milyar untuk Pendidikan AI-STEM

"Lebih dari sekedar keterampilan teknis, STEM menanamkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah kompleks, membaca pola, dan juga mengambil keputusan berbasis data," kata Stephanie di Menara Kompas, Jakarta Pusat.

Menurut hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, Indonesia berada di peringkat 72 dari 79 negara OECD dalam pencapaian sains dengan rata-rata 366 poin, jauh di bawah rata-rata OECD yaitu 472 poin.

Nilai sains Indonesia termasuk yang terendah di ASEAN. Sementara negara-negara seperti Singapura, Vietnam, dan Malaysia jauh lebih unggul dibandingkan Indonesia.

"STEM bukan saja sebuah rumus, robot, atau laboratorium. STEM adalah pola pikir, STEM mengajarkan anak-anak kita untuk berani bertanya sebelum menjawab, dan berani mencari solusi sebelum menyerah, dan berkolaborasi sebelum berkompetisi," jelasnya.

Ia mengajak pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat untuk bergerak bersama menyiapkan generasi masa depan untuk menciptakan perubahan.

Baca juga: Kuota Beasiswa LPDP 2025-2026 Terbatas, Tahun Ini Hanya 4.000 Awardee

Menurutnya pemerintah perlu merancang kurikulum STEM yang kontekstual dan relevan dengan masa depan. Sekaligus melatih guru agar memiliki kompetensi untuk mengajar yang kreatif, yang interaktif, dan juga inspiratif.

"Industri harus membuka akses terhadap teknologi, memberikan peluang magang, dan menyediakan laboratorium inovasi. Orangtua dan masyarakat perlu menciptakan budaya bertanya, mendukung eksperimen, dan memberi ruang bagi anak-anak untuk berimajinasi," ujarnya.

Guru perlu dukungan

Stephanie setuju bahwa guru-guru memerlukan dukungan masif untuk mengajarkan STEM ke murid.

Pasalnya umumnya guru menempuh pendidikan prodi Pendidikan Dasar namun belum mendapat pelatihan tentang STEM secara spesifik.

Stephanie mengambil contoh dari hasil studi bandingnya dengan sekolah-sekolah swasta di India yang sangat sistematis membantu guru.

"Jadi setiap guru sudah dibekali dengan materi, dengan kurikulum, dan juga dengan tools. Jadi ada box yang mereka bisa unbox, dan mereka bisa mengajar modul-modul dasar dalam sains teknologi dan lain-lain," ungkapnya.

Baca juga: TKA Jadi Syarat Seleksi PTN 2026, Perhimpunan Guru: Hadirkan Persoalan Zaman UN

"Karena gimana pun juga, walaupun sains teknologi itu interdisipliner, tetapi fondasi pembelajaran sains dan matematika itu sangat penting. Pembelajaran matematika pun enggak selalu equal dari berbagai approach," tambah Stephanie.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau