Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asal-usul Warteg dari Santapan Kuli Bangunan Kini Dinikmati Semua Kalangan

Kompas.com, 10 Maret 2026, 11:12 WIB
Afif Khoirul Muttaqin,
Anggara Wikan Prasetya

Tim Redaksi

KOMPAS.COM - Siapa sih yang nggak kenal Warteg? 

Warung makan dengan ciri khas etalase kaca berisi puluhan piring lauk-pauk ini sudah jadi "penyelamat" perut lapar di berbagai sudut kota Indonesia.

Tapi, tahukah kamu kalau di balik kepopulerannya, Warteg punya sejarah panjang yang sangat lekat dengan perjuangan kuli bangunan di ibu kota?

Mengutip dari Kompas.com, begini asal-usul Warung Tegal alias Warteg yang kini sudah naik kelas dan punya komunitas solid!

Baca juga: Menu yang Hampir Selalu Ada di Warteg, Lengkap dengan Daftar Harganya

Berawal dari Proyek Besar Ibu Kota

Fenomena Warteg mulai menjamur sekitar tahun 1950-an hingga 1960-an. 

Saat itu, Jakarta sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan infrastruktur besar-besaran di bawah pemerintahan Presiden Soekarno. 

Gelombang urbanisasi dari daerah, termasuk dari Tegal, Jawa Tengah, pun tak terbendung.

Banyak warga Tegal yang merantau ke Jakarta untuk menjadi pekerja kasar atau kuli bangunan.

Nah, keluarga para pekerja ini kemudian berinisiatif mendirikan warung makan sederhana di sekitar lokasi proyek untuk menyediakan makanan murah, mengenyangkan, dan sesuai dengan kantong para kuli.

Tujuannya satu, menyediakan makanan murah, mengenyangkan, dan sesuai dengan kantong para pekerja kasar.

Warteg punya identitas visual yang sangat kuat. Kamu pasti sering melihat bangunan warteg yang dicat mencolok dengan dua pintu di sisi kanan dan kiri. 

Ternyata, desain ini ada sejarahnya! Pintu ganda tersebut awalnya dibuat untuk memudahkan akses keluar masuk pelanggan yang biasanya sangat ramai dan berdesakan di jam makan siang proyek.

Warteg Bina Bahari, Duri Kepa, Jakarta BaratSandiago/KOMPAS.com Warteg Bina Bahari, Duri Kepa, Jakarta Barat

Baca juga: Ini Bumbu Sayur Lodeh yang Bikin Kuah Gurih dan Wangi, Andalan Warteg

Naik Kelas, Dari Pinggiran ke Digital

Dulu, Warteg mungkin identik dengan tempat makan yang panas di pinggir jalan. Namun, seiring berjalannya waktu, Warteg terus berevolusi. 

Kini, muncul konsep "Warteg Bahari" yang lebih bersih, bahkan beberapa sudah menggunakan AC dan merambah ke aplikasi ojek online.

Hebatnya lagi, para pengusaha Warteg punya komunitas solid bernama Kowarteg (Koperasi Warung Tegal). 

Komunitas ini menjadi wadah untuk saling membantu sesama perantau Tegal di Jakarta, sehingga bisnis ini tetap eksis dan bahkan mulai merambah ke mancanegara.

Ternyata dari sekadar melayani pekerja proyek, sekarang Warteg jadi ikon kuliner nasional. 

Baca juga: Cara Masak Semur Jengkol Empuk dan Tidak Bau ala Warteg

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Foodplace (@my.foodplace)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau