KOMPAS.COM - Siapa sih yang nggak kenal Warteg?
Warung makan dengan ciri khas etalase kaca berisi puluhan piring lauk-pauk ini sudah jadi "penyelamat" perut lapar di berbagai sudut kota Indonesia.
Tapi, tahukah kamu kalau di balik kepopulerannya, Warteg punya sejarah panjang yang sangat lekat dengan perjuangan kuli bangunan di ibu kota?
Mengutip dari Kompas.com, begini asal-usul Warung Tegal alias Warteg yang kini sudah naik kelas dan punya komunitas solid!
Baca juga: Menu yang Hampir Selalu Ada di Warteg, Lengkap dengan Daftar Harganya
Fenomena Warteg mulai menjamur sekitar tahun 1950-an hingga 1960-an.
Saat itu, Jakarta sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan infrastruktur besar-besaran di bawah pemerintahan Presiden Soekarno.
Gelombang urbanisasi dari daerah, termasuk dari Tegal, Jawa Tengah, pun tak terbendung.
Banyak warga Tegal yang merantau ke Jakarta untuk menjadi pekerja kasar atau kuli bangunan.
Nah, keluarga para pekerja ini kemudian berinisiatif mendirikan warung makan sederhana di sekitar lokasi proyek untuk menyediakan makanan murah, mengenyangkan, dan sesuai dengan kantong para kuli.
Tujuannya satu, menyediakan makanan murah, mengenyangkan, dan sesuai dengan kantong para pekerja kasar.
Warteg punya identitas visual yang sangat kuat. Kamu pasti sering melihat bangunan warteg yang dicat mencolok dengan dua pintu di sisi kanan dan kiri.
Ternyata, desain ini ada sejarahnya! Pintu ganda tersebut awalnya dibuat untuk memudahkan akses keluar masuk pelanggan yang biasanya sangat ramai dan berdesakan di jam makan siang proyek.
Warteg Bina Bahari, Duri Kepa, Jakarta BaratBaca juga: Ini Bumbu Sayur Lodeh yang Bikin Kuah Gurih dan Wangi, Andalan Warteg
Dulu, Warteg mungkin identik dengan tempat makan yang panas di pinggir jalan. Namun, seiring berjalannya waktu, Warteg terus berevolusi.
Kini, muncul konsep "Warteg Bahari" yang lebih bersih, bahkan beberapa sudah menggunakan AC dan merambah ke aplikasi ojek online.
Hebatnya lagi, para pengusaha Warteg punya komunitas solid bernama Kowarteg (Koperasi Warung Tegal).
Komunitas ini menjadi wadah untuk saling membantu sesama perantau Tegal di Jakarta, sehingga bisnis ini tetap eksis dan bahkan mulai merambah ke mancanegara.
Ternyata dari sekadar melayani pekerja proyek, sekarang Warteg jadi ikon kuliner nasional.
Baca juga: Cara Masak Semur Jengkol Empuk dan Tidak Bau ala Warteg
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangView this post on Instagram