Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warna Pisang Menentukan Rasa dan Gizinya, Mana yang Paling Baik?

Kompas.com, 28 Maret 2026, 07:41 WIB
Anggara Wikan Prasetya

Penulis

KOMPAS.com - Pisang adalah salah satu buah paling populer dan terjangkau di pasaran. Selain praktis dan lezat, buah tropis ini juga kaya nutrisi, mulai dari kalium, fosfor, magnesium, vitamin C, vitamin B6, hingga beragam senyawa nabati penting.

Semua kandungan ini berperan dalam menjaga kesehatan jantung, imun, tulang, hingga metabolisme tubuh.

Namun, siapa sangka warna pisang yang kamu pilih (hijau, kuning, atau kecokelatan), sebenarnya mencerminkan perbedaan rasa sekaligus manfaat kesehatannya?

Baca juga: Resep Bolu Pisang Lembut Rumahan, Pakai Bahan Dapur yang Simple Ini

Para ahli gizi Wan Na Chun (One Pot Wellness), Melissa Jaeger (MyFitnessPal), serta ahli pangan Abbey Thiel menjelaskan bagaimana perubahan warna pisang membawa perubahan nutrisi.

Tahapan kematangan pisang dan pengaruhnya

Walau secara ilmiah pisang memiliki tujuh tingkat kematangan, ada tiga fase utama yang paling mudah dikenali:

1. Pisang hijau (belum matang): Tinggi pati dan kaya serat

Pada tahap ini, pisang masih mentah dengan kulit berwarna hijau akibat kandungan klorofil. Teksturnya keras dan rasanya kurang manis karena sebagian besar karbohidratnya masih berupa pati, bukan gula.

Ilustrasi pisang, pohon pisang.SHUTTERSTOCK/BOKEH BLUR BACKGROUND Ilustrasi pisang, pohon pisang.

Menurut penelitian tahun 2021, pisang hijau mengandung:

  • Serat lebih tinggi, terutama resistant starch
  • Kadar gula lebih rendah

Baca juga: Cara Kembalikan Santan yang Pecah saat Masak Opor Ayam, Bisa Pakai Daun Pisang?

Resistant starch adalah jenis serat yang bermanfaat bagi:

  • kesehatan mikrobioma usus,
  • pengelolaan gula darah,
  • dan membantu kenyang lebih lama.

Namun, pisang hijau bisa terasa lebih “berat” bagi sebagian orang yang memiliki sensitivitas pencernaan.

2. Pisang kuning (matang): Seimbang, manis, dan mudah dicerna

Ini adalah tahap yang paling dikenal: kuning cerah tanpa bercak. Pada fase ini, enzim mulai memecah klorofil dan mengubah pati menjadi gula sederhana seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa.

Ilustrasi pisang.  Pisang dikenal sebagai buah yang kaya manfaat dan dapat dikonsumsi kapan saja. Namun, waktu makan pisang ternyata dapat memengaruhi energi, pencernaan, hingga nafsu makan seseorang.Pixabay/Security Ilustrasi pisang. Pisang dikenal sebagai buah yang kaya manfaat dan dapat dikonsumsi kapan saja. Namun, waktu makan pisang ternyata dapat memengaruhi energi, pencernaan, hingga nafsu makan seseorang.

Akibatnya:

  • Rasanya lebih manis
  • Teksturnya lebih lembut
  • Lebih mudah dicerna
  • Namun dapat memicu respons gula darah sedikit lebih tinggi

Baca juga: Tips Mengolah Pisang Hampir Busuk Jadi Bolu dan Camilan yang Lezat

Meski begitu, pisang kuning tetap menjadi sumber nutrisi penting, seperti:

  • serat,
  • kalium,
  • vitamin B6,
  • vitamin C.

Menurut Wan Na Chun, pisang pada tahap ini adalah pilihan yang lezat, mudah dimakan, dan bernutrisi tinggi.

3. Pisang cokelat (terlalu matang): Sangat manis dan cocok untuk roti

Pada tahap ini, hampir semua pati telah berubah menjadi gula, sehingga rasa pisang menjadi sangat manis dan teksturnya lembek.

Ilustrasi pisang sangat matang. Pisang terlalu matang sebaiknya dihindari penderita PCOS karena lebih tinggi GI.SHUTTERSTOCK/ENLIGHTENED MEDIA Ilustrasi pisang sangat matang. Pisang terlalu matang sebaiknya dihindari penderita PCOS karena lebih tinggi GI.

Ciri khas:

  • kadar resistant starch menurun drastis,
  • manis alami meningkat,
  • mudah diolah dalam kue, smoothies, atau banana bread.

Karena tingginya gula, pisang cokelat dapat menyebabkan kenaikan gula darah lebih cepat dibanding pisang yang kurang matang.

Jadi, kapan waktu terbaik untuk makan pisang?

Jawabannya tergantung tujuan kesehatan Anda:

  • Ingin gula darah lebih stabil? Pilih pisang hijau atau sedikit hijau karena lebih tinggi pati dan serat, lebih rendah gula.
  • Butuh energi cepat sebelum olahraga? Pilih pisang kuning atau cokelat karena gula sederhana cepat diserap tubuh.
  • Ingin mendukung kesehatan usus? Pilih pisang hijau karena kaya resistant starch.
  • Ingin camilan mudah dicerna? Pilih pisang kuning atau sedikit berbintik karena lembut, manis, dan nyaman di perut.

Kesimpulan: Tidak ada pisang yang paling baik

Semua pisang pada dasarnya sama-sama bernutrisi. Perbedaan warna hanyalah tanda kematangan yang memengaruhi:

  • rasa,
  • tekstur,
  • kadar gula,
  • dan jenis serat.

Pilih warna pisang sesuai selera dan kebutuhan tubuhmu. Apa pun tahapnya, pisang tetap menjadi camilan natural yang praktis, higienis, dan menyehatkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau