Penulis
KOMPAS.com - Rabies merupakan salah satu penyakit menular yang paling berbahaya pada hewan, khususnya anjing.
Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat berakibat fatal, baik bagi hewan maupun manusia.
Karena sifatnya yang mematikan, pemahaman tentang penyakit rabies pada anjing menjadi hal yang sangat penting, terutama bagi pemilik hewan peliharaan dan masyarakat yang hidup di wilayah dengan risiko tinggi.
Baca juga: Cara Mencegah Anjing dan Kucing Terinfeksi Rabies Menurut Dokter Hewan
Ilustrasi anjing sakitMenurut drh. Lavinta Viena, anjing yang terinfeksi rabies tidak bisa disembuhkan dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya.
"Setelah gejala klinis rabies muncul pada anjing, penyakit ini dianggap fatal, dan tidak ada pengobatan efektif yang dapat menyembuhkan penyakit ini," ujar drh. Lavinta Viena, Co-founder Vet Furries House Call Vet, kepada Kompas.com, Kamis (2/10/2025).
Oleh karena itu, drh. Lavinta mengingatkan akan pentingnya vaksin rabies guna melindungi anjing dan juga manusia di sekitarnya, mengingat rabies merupakan penyakit zoonosis yang bisa menular ke manusia.
"Vaksin pertama sebaiknya diberikan pada anjing usia 4 bulan," ujarnya.
"Umumnya, vaksin rabies perlu diulang setiap 1 tahun sekali atau sesuai rekomendasi dokter hewan dan jenis vaksin yang digunakan," imbuh drh. Lavinta.
Baca juga: Hari Rabies Sedunia, Ketahui Ini Bahaya, Penularan, dan Gejalanya
Ilustrasi anjing sakit.Menurut drh. Lavinta, berikut adalah beberapa gejala awal rabies pada anjing yang perlu diwaspadai pemilik:
Masa inkubasi penyakit rabies biasanya memakan waktu 2-8 minggu, namun gejala klinisnya dapat muncul lebih cepat atau lebih lama, bergantung lokasi gigitan dan jumlah virus yang masuk.
"Biasanya, dokter hewan akan observasi selama 10-14 hari untuk melihat perkembangan gejala klinis anjing yang dicurigai terinfeksi rabies," ucap drh. Lavinta.
Baca juga: Tanda dan Penyebab Kucing Terkena Rabies, Ini Kata Dokter Hewan
Meski demikian, drh. Lavinta mengatakan, pada hewan hidup, diagnosis rabies hanya bisa “dugaan kuat” berdasarkan gejala dan riwayat gigitan atau kontak.
"Diagnosis pasti rabies hanya bisa dilakukan melalui uji laboratorium pada jaringan otak hewan yang sudah mati," katanya.