Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 20 Februari 2026, 20:43 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Mengingat selimut digunakan hampir setiap hari, wajar jika muncul kekhawatiran soal kebersihan dan dampaknya terhadap kesehatan.

Di satu sisi, mencuci selimut terlalu sering terasa merepotkan, apalagi jika ukurannya besar. Di sisi lain, selimut yang jarang dicuci bisa menyimpan kotoran tak terlihat.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, jawabannya tidak bisa hitam-putih. Mencuci selimut sebulan sekali bisa saja diperbolehkan, tetapi hanya dalam kondisi tertentu. 

Kapan mencuci selimut sebulan sekali masih aman?

Mencuci selimut sebulan sekali umumnya masih dianggap wajar jika selimut digunakan bersama sarung atau penutup selimut. 

Baca juga: Betulkah Bola Tenis Efektif Mengeringkan Selimut Tebal?

Penutup ini berfungsi sebagai lapisan pelindung utama yang menahan keringat, minyak tubuh, dan debu agar tidak langsung menempel pada selimut. Selama sarung selimut rutin dicuci, biasanya seminggu sekali, selimut utama tidak cepat kotor.

Selain itu, kebiasaan tidur juga berpengaruh. Jika kamu tidur dengan pakaian tidur bersih, tidak banyak berkeringat, dan kamar tidur memiliki sirkulasi udara yang baik, risiko penumpukan kotoran pada selimut menjadi lebih kecil. Dalam kondisi seperti ini, mencuci selimut setiap satu bulan sekali masih tergolong wajar.

Lingkungan tempat tinggal yang relatif bersih dan minim debu juga mendukung jadwal pencucian yang lebih jarang. Selimut yang jarang terpapar polusi, asap rokok, atau bulu hewan cenderung lebih lama tetap bersih.

Kapan mencuci selimut sebulan sekali jadi kurang ideal?

Sebaliknya, mencuci selimut sebulan sekali bisa menjadi kurang disarankan jika selimut digunakan tanpa sarung. 

Baca juga: 5 Kesalahan Membeli Selimut yang Dapat Merusak Tidur

Kontak langsung dengan kulit membuat selimut lebih cepat menyerap keringat, minyak alami tubuh, dan sel kulit mati. Dalam dua hingga tiga minggu saja, kotoran ini sudah bisa menumpuk.

Faktor lain adalah keberadaan hewan peliharaan atau anak kecil di tempat tidur. Hewan peliharaan dapat membawa bulu, debu, dan mikroorganisme dari luar, sementara anak-anak lebih rentan menumpahkan makanan atau minuman. Dalam kondisi ini, mencuci selimut setiap dua minggu sekali jauh lebih dianjurkan.

Orang dengan alergi, asma, atau kulit sensitif juga sebaiknya tidak menunggu hingga satu bulan. Selimut yang jarang dicuci bisa menjadi sarang tungau debu, yang kerap memicu gatal, bersin, hingga gangguan pernapasan saat tidur.

Apa risiko selimut terlalu jarang dicuci?

Selimut yang jarang dicuci dapat menampung berbagai partikel tak terlihat, mulai dari debu halus, serbuk sari, hingga bakteri.

Baca juga: Jangan Asal, Ini Cara Mencuci Selimut Berdasarkan Materialnya

Keringat yang mengering di dalam serat selimut juga menciptakan lingkungan lembap yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memengaruhi kualitas tidur. Bau apek, rasa gatal, atau kulit yang terasa tidak nyaman sering kali berawal dari perlengkapan tidur yang kurang bersih.

Meski tidak selalu langsung menimbulkan penyakit, kebiasaan ini tetap berisiko bagi kenyamanan dan kesehatan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau