Penulis
KOMPAS.com - Mengingat selimut digunakan hampir setiap hari, wajar jika muncul kekhawatiran soal kebersihan dan dampaknya terhadap kesehatan.
Di satu sisi, mencuci selimut terlalu sering terasa merepotkan, apalagi jika ukurannya besar. Di sisi lain, selimut yang jarang dicuci bisa menyimpan kotoran tak terlihat.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, jawabannya tidak bisa hitam-putih. Mencuci selimut sebulan sekali bisa saja diperbolehkan, tetapi hanya dalam kondisi tertentu.
Mencuci selimut sebulan sekali umumnya masih dianggap wajar jika selimut digunakan bersama sarung atau penutup selimut.
Baca juga: Betulkah Bola Tenis Efektif Mengeringkan Selimut Tebal?
Penutup ini berfungsi sebagai lapisan pelindung utama yang menahan keringat, minyak tubuh, dan debu agar tidak langsung menempel pada selimut. Selama sarung selimut rutin dicuci, biasanya seminggu sekali, selimut utama tidak cepat kotor.
Selain itu, kebiasaan tidur juga berpengaruh. Jika kamu tidur dengan pakaian tidur bersih, tidak banyak berkeringat, dan kamar tidur memiliki sirkulasi udara yang baik, risiko penumpukan kotoran pada selimut menjadi lebih kecil. Dalam kondisi seperti ini, mencuci selimut setiap satu bulan sekali masih tergolong wajar.
Lingkungan tempat tinggal yang relatif bersih dan minim debu juga mendukung jadwal pencucian yang lebih jarang. Selimut yang jarang terpapar polusi, asap rokok, atau bulu hewan cenderung lebih lama tetap bersih.
Sebaliknya, mencuci selimut sebulan sekali bisa menjadi kurang disarankan jika selimut digunakan tanpa sarung.
Baca juga: 5 Kesalahan Membeli Selimut yang Dapat Merusak Tidur
Kontak langsung dengan kulit membuat selimut lebih cepat menyerap keringat, minyak alami tubuh, dan sel kulit mati. Dalam dua hingga tiga minggu saja, kotoran ini sudah bisa menumpuk.
Faktor lain adalah keberadaan hewan peliharaan atau anak kecil di tempat tidur. Hewan peliharaan dapat membawa bulu, debu, dan mikroorganisme dari luar, sementara anak-anak lebih rentan menumpahkan makanan atau minuman. Dalam kondisi ini, mencuci selimut setiap dua minggu sekali jauh lebih dianjurkan.
Orang dengan alergi, asma, atau kulit sensitif juga sebaiknya tidak menunggu hingga satu bulan. Selimut yang jarang dicuci bisa menjadi sarang tungau debu, yang kerap memicu gatal, bersin, hingga gangguan pernapasan saat tidur.
Selimut yang jarang dicuci dapat menampung berbagai partikel tak terlihat, mulai dari debu halus, serbuk sari, hingga bakteri.
Baca juga: Jangan Asal, Ini Cara Mencuci Selimut Berdasarkan Materialnya
Keringat yang mengering di dalam serat selimut juga menciptakan lingkungan lembap yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memengaruhi kualitas tidur. Bau apek, rasa gatal, atau kulit yang terasa tidak nyaman sering kali berawal dari perlengkapan tidur yang kurang bersih.
Meski tidak selalu langsung menimbulkan penyakit, kebiasaan ini tetap berisiko bagi kenyamanan dan kesehatan.