Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Sektor properti residensial di Bali terus menunjukkan resiliensi di tengah dinamika ekonomi global, bahkan tercatat mampu melampaui rata-rata pertumbuhan nasional.
Fenomena ini didorong oleh pergeseran tren investasi yang kini tidak lagi sekadar membangun hunian, melainkan mengintegrasikan manajemen resor dengan instrumen investasi.
Salah satu pemain yang tengah memperkuat penetrasinya adalah Seven Sky Villas, yang kini memulai pengembangan proyek OctaSun Residence di kawasan Bali Selatan.
Baca juga: Awal Mula Grup Djarum Mengelola Kawasan Elit Hotel Indonesia
Proyek ini hadir dalam bentuk kompleks klaster yang terdiri dari 26 unit vila dengan standar infrastruktur setara hotel berbintang.
Kehadiran pengembang internasional di Pulau Dewata diyakini membawa dampak signifikan terhadap standar manajemen properti lokal.
Implementasi layanan kelas hotel, integrasi platform digital bagi investor, hingga transparansi model keuangan menjadi nilai tawar baru di pasar.
Co-Founder Seven Sky Villas, Dormidonov Alexander Yurievich, menjelaskan, pengembangan properti saat ini memiliki peran integral dalam ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Proyek-proyek ini tidak hanya menyerap tenaga kerja di sektor konstruksi dan perhotelan, tetapi juga memicu pertumbuhan infrastruktur pendukung di sekitarnya.
Baca juga: Menanti Waldorf Astoria Jakarta, Bakal Hotel Tertinggi di Indonesia
"Pengembangan proyek properti telah merangsang pengembangan infrastruktur lokal seperti jalan, restoran, layanan transportasi, dan juga fasilitas wisata," ungkap Dormidonov, dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Selasa (31/3/2026(.
Secara fundamental, pasar vila berlayanan di Bali menawarkan angka yang cukup atraktif bagi para pemodal.
Berdasarkan laporan pengembang dan manajemen properti, tingkat pengembalian tahunan (annual returns) di Bali diprediksi berada pada rentang 12 persen hingga 15 persen.
Daya tarik ini diperkuat dengan beberapa indikator teknis seperti proyeksi rata-rata okupansi berada di angka 76 persen–78 persen. Sementara di masa-masa puncak bisa menembus 85-90 persen.
Baca juga: Wisatawan Lokal Dorong Kenaikan Okupansi Hotel di Indonesia
Selama fase konstruksi, nilai properti dapat mengalami apresiasi sebesar 25 persen hingga 30 persen.
Dengan dinamika tersebut, periode pengembalian rata-rata diestimasi hanya memakan waktu sekitar 6 hingga 7 tahun.
"Konsep ini memadukan pengalaman hidup yang berorientasi gaya hidup dengan instrumen investasi yang kuat," tambah Dormidonov.