Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintahan Donald Trump berada di bawah tekanan besar, terutama akibat lonjakan harga bensin di dalam negeri yang berdampak signifikan pada tingkat persetujuan dan popularitasnya.
Dilansir dari The Guardian, Jumat (27/3/2026), rencana perdamaian yang digagas Donald Trump dinilai tidak berjalan sesuai harapan, karena ia mengeklaim konflik hampir berakhir, namun di saat yang sama justru meningkatkan pengerahan pasukan.
Sikap ini membuat Teheran meragukan keseriusan tawaran tersebut, terutama karena persiapan operasi darat terus dilakukan.
Dalam pekan ini, Donald Trump kembali meluncurkan inisiatif perdamaian dengan pendekatan ultimatum yang menurutnya harus diterima.
Ia bahkan menegaskan, jika tidak disepakati maka “kita akan terus membom sesuka hati,” meski tanpa rincian jelas atau tanda Iran bersedia merespons.
Baca juga: Jelang Pemilu AS 2026, Perang AS-Israel dan Iran Bikin Publik Makin Tak Percaya pada Trump
Proposal itu disebut “maksimalis” oleh Iran dan dianggap tidak realistis oleh sejumlah analis serta mantan pejabat.
Respons Teheran terhadap rencana 15 poin itu cenderung berupa penolakan tegas, bahkan menuntut kedaulatan atas Selat Hormuz, yang berarti kendali atau hak veto atas jalur perdagangan energi global.
Perbedaan posisi yang tajam ini justru diikuti reaksi pasar yang relatif positif, dengan kenaikan saham dan turunnya harga minyak mentah Brent di bawah 100 dolar per barel.
Fenomena ini oleh analis dikaitkan dengan kemampuan Trump memengaruhi persepsi pasar.
Trump sendiri tetap optimistis. Saat bertemu Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, ia mencoba menenangkan.
“Ini tidak buruk, dan akan segera berakhir,” katanya.
Namun di lapangan, dalam sepekan terakhir, AS mulai memindahkan elemen unit elit dari berbagai wilayah ke Timur Tengah sebagai persiapan kemungkinan operasi darat untuk merebut kendali Selat Hormuz dari Iran.
Baca juga: Tolak Proposal Trump, Iran Punya 5 Syarat untuk Akhiri Perang
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya