SIMALUNGUN, KOMPAS.com - Hamparan lahan pertanian sawah seluas 150 hektar di wilayah Kecamatan Panombeian Panei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara terlantar akibat kekeringan.
Petani menyebut penyebab kekeringan dipicu pengalihan sumber mata air menjadi sumber air minum yang dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Uli Kota Pematangsiantar.
Adapun luas baku sawah seluas 150 hektar yang paling terdampak itu berada di Huta Bah Ruksi, Nagori Pematang Panei, Kecamatan Panombeian Panei.
Sebagian area persawahan di sekitarnya yang mengalami kekeringan berada di wilayah Huta Bombongan, Huta Pamatang, Saba Dua, Bah Kora, Janggir Leto, Permos, Bah Kata, Panei Tongah dan Huta Sibaganding.
Baca juga: Momen Nyepi Sawah di Jatiluwih Bali: Petani Berhenti Beraktivitas, Wisatawan Dilarang Masuk Pematang
Salah seorang petani di Bah Ruksi, Pesta Manutur Sitinjak mengatakan, sejak dulu air persawahan dialiri dari sumber mata air (Mual) Aek Nauli.
Jarak wilayah persawahannya ke titik Mual sekitar 8 kilometer lokasinya di wilayah Kecamatan Panei.
Menurut Pesta, pada masa tanam Oktober 2025, debit air irigasi tidak mencukupi mengairi seluruh persawahan, berakibat periode masa tanam padi gagal.
Para petani kemudian berembuk, lalu mendatangi sumber mata air dan menemukan dua Reservoir (Bak) milik Perumda Tirta Uli Pematangsiantar.
Baca juga: 158 Hektar Sawah di Pasuruan Terendam Banjir, Petani Terancam Gagal Panen
Selama ini, kata dia, petani tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan sumber mata air tersebut. Belakangan sudah didirikan 2 bak yang menampung dua mual.
“Kekeringan air di sini bukan persoalan iklim atau kemarau. Mata air Aek Nauli satu satunya air ke persawahan dari zaman dahulu,” kata Pesta saat ditemui di area persawahan Bah Ruksi, Selasa (31/3/2026) petang.
“Kalau pun musim kemarau, tidak pernah separah ini kondisinya. Air dari umbul itu ke sawah dari dulu cukup,” kata dia.
Petani yang mengelola 150 hektar hamparan lahan di Bah Ruksi tergabung dalam 3 Kelompok Tani (Poktan), yang jumlahnya masing masing 25 orang.
Baca juga: 158 Hektar Sawah di Pasuruan Terendam Banjir, Petani Terancam Gagal Panen
Masa penanaman padi dilakukan estafet, dimulai dari lahan yang di bagian atas mengelola air, baru ke lahan bagian bawah secara bergantian.
“Semua penduduk di Bah Ruksi ini hampir seluruhnya petani. Gara gara kekeringan, kami kehilangan mata pencaharian,” ucap dia.
Anggota Kelompok Tani Rodame ini menambahkan, dampak kekeringan ini mengakibatkan lahan sawah seluas 15 Rante miliknya terlantar.