Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

150 Hektar Lahan Pertanian Padi Sawah di Simalungun Terlantar Akibat Pengalihan Sumber Mata Air

Kompas.com, 31 Maret 2026, 23:00 WIB
Teguh Pribadi,
Novita Rahmawati

Tim Redaksi

SIMALUNGUN, KOMPAS.com - Hamparan lahan pertanian sawah seluas 150 hektar di wilayah Kecamatan Panombeian Panei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara terlantar akibat kekeringan.

Petani menyebut penyebab kekeringan dipicu pengalihan sumber mata air menjadi sumber air minum yang dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Uli Kota Pematangsiantar.

Adapun luas baku sawah seluas 150 hektar yang paling terdampak itu berada di Huta Bah Ruksi, Nagori Pematang Panei, Kecamatan Panombeian Panei.

Sebagian area persawahan di sekitarnya yang mengalami kekeringan berada di wilayah Huta Bombongan, Huta Pamatang, Saba Dua, Bah Kora, Janggir Leto, Permos, Bah Kata, Panei Tongah dan Huta Sibaganding.

Baca juga: Momen Nyepi Sawah di Jatiluwih Bali: Petani Berhenti Beraktivitas, Wisatawan Dilarang Masuk Pematang

Salah seorang petani di Bah Ruksi, Pesta Manutur Sitinjak mengatakan, sejak dulu air persawahan dialiri dari sumber mata air (Mual) Aek Nauli.

Jarak wilayah persawahannya ke titik Mual sekitar 8 kilometer lokasinya di wilayah Kecamatan Panei.

Menurut Pesta, pada masa tanam Oktober 2025, debit air irigasi tidak mencukupi mengairi seluruh persawahan, berakibat periode masa tanam padi gagal.

Para petani kemudian berembuk, lalu mendatangi sumber mata air dan menemukan dua Reservoir (Bak) milik Perumda Tirta Uli Pematangsiantar.

Baca juga: 158 Hektar Sawah di Pasuruan Terendam Banjir, Petani Terancam Gagal Panen

Selama ini, kata dia, petani tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan sumber mata air tersebut. Belakangan sudah didirikan 2 bak yang menampung dua mual.

“Kekeringan air di sini bukan persoalan iklim atau kemarau. Mata air Aek Nauli satu satunya air ke persawahan dari zaman dahulu,” kata Pesta saat ditemui di area persawahan Bah Ruksi, Selasa (31/3/2026) petang.

“Kalau pun musim kemarau, tidak pernah separah ini kondisinya. Air dari umbul itu ke sawah dari dulu cukup,” kata dia.

Petani yang mengelola 150 hektar hamparan lahan di Bah Ruksi tergabung dalam 3 Kelompok Tani (Poktan), yang jumlahnya masing masing 25 orang.

Baca juga: 158 Hektar Sawah di Pasuruan Terendam Banjir, Petani Terancam Gagal Panen

Masa penanaman padi dilakukan estafet, dimulai dari lahan yang di bagian atas mengelola air, baru ke lahan bagian bawah secara bergantian.

“Semua penduduk di Bah Ruksi ini hampir seluruhnya petani. Gara gara kekeringan, kami kehilangan mata pencaharian,” ucap dia.

Anggota Kelompok Tani Rodame ini menambahkan, dampak kekeringan ini mengakibatkan lahan sawah seluas 15 Rante miliknya terlantar.

Halaman:


Terkini Lainnya
Selama Libur Lebaran 360 Ribu Wisatawan Berkunjung ke Sumut, Terbanyak ke Samosir
Selama Libur Lebaran 360 Ribu Wisatawan Berkunjung ke Sumut, Terbanyak ke Samosir
Medan
Tiga Kasus Jual Beli Bayi Terungkap di Sumatera, Terbaru Digagalkan di Tol Marelan
Tiga Kasus Jual Beli Bayi Terungkap di Sumatera, Terbaru Digagalkan di Tol Marelan
Medan
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Tak Ada Lagi Pejuang Ekonomi Kreatif yang Dikriminalisasi
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Tak Ada Lagi Pejuang Ekonomi Kreatif yang Dikriminalisasi
Medan
Tak Terbukti Korupsi, Ini Pertimbangan Hakim PN Medan Bebaskan Videografer Amsal Sitepu
Tak Terbukti Korupsi, Ini Pertimbangan Hakim PN Medan Bebaskan Videografer Amsal Sitepu
Medan
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Terima Kasih Bapak Presiden Prabowo...
Divonis Bebas, Amsal Sitepu: Terima Kasih Bapak Presiden Prabowo...
Medan
Dinyatakan Bebas dari Kasus Korupsi Video Profil Desa, Amsal Sitepu: Ini Air Mata Kemenangan
Dinyatakan Bebas dari Kasus Korupsi Video Profil Desa, Amsal Sitepu: Ini Air Mata Kemenangan
Medan
Tangis Videografer Amsal Sitepu Pecah Usai Divonis Bebas, Tak Terbukti Korupsi Video Profil Desa
Tangis Videografer Amsal Sitepu Pecah Usai Divonis Bebas, Tak Terbukti Korupsi Video Profil Desa
Medan
Puting Beliung Terjang Deli Serdang, 100 Rumah Rusak di 4 Kecamatan
Puting Beliung Terjang Deli Serdang, 100 Rumah Rusak di 4 Kecamatan
Medan
Hakim PN Medan Vonis Bebas Videografer Amsal Sitepu di Kasus Dugaan Korupsi Video Profil Desa
Hakim PN Medan Vonis Bebas Videografer Amsal Sitepu di Kasus Dugaan Korupsi Video Profil Desa
Medan
Terbongkarnya Sindikat Jual-beli Bayi Saat Transaksi di Pintu Tol Marelan, 6 Orang Ditangkap
Terbongkarnya Sindikat Jual-beli Bayi Saat Transaksi di Pintu Tol Marelan, 6 Orang Ditangkap
Medan
Kajari dan Kasi Pidsus Karo Diperiksa Terkait Kasus Videografer Amsal Sitepu
Kajari dan Kasi Pidsus Karo Diperiksa Terkait Kasus Videografer Amsal Sitepu
Medan
Link Live Streaming Sidang Vonis Kasus Dugaan Korupsi Videografer Amsal Sitepu Hari Ini di PN Medan
Link Live Streaming Sidang Vonis Kasus Dugaan Korupsi Videografer Amsal Sitepu Hari Ini di PN Medan
Medan
Topan Ginting, Eks Kadis PUPR Sumut Jalani Sidang Vonis Kasus Korupsi Jalan
Topan Ginting, Eks Kadis PUPR Sumut Jalani Sidang Vonis Kasus Korupsi Jalan
Medan
Jelang Vonis Amsal Sitepu, Puluhan Papan Bunga Berjejer di PN Medan
Jelang Vonis Amsal Sitepu, Puluhan Papan Bunga Berjejer di PN Medan
Medan
Hari Ini Vonis Kasus Amsal Sitepu Dibacakan, Nasib Videografer Karo di Ujung Palu Hakim
Hari Ini Vonis Kasus Amsal Sitepu Dibacakan, Nasib Videografer Karo di Ujung Palu Hakim
Medan
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau