Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beda Petis Madura dan Petis Surabaya, dari Bahan Baku, Tekstur, hingga Sejarahnya

Kompas.com, 1 April 2026, 10:38 WIB
Rachmawati

Editor

SURABAYA, KOMPAS.com – Bagi masyarakat di pesisir Jawa Timur, khususnya di sekitar Selat Madura, petis bukan sekadar bumbu pelengkap. Saus kental ini adalah "jantung" dari berbagai kuliner populer seperti tahu tek, rujak cingur, lontong balap, hingga lontong kupang.

Meski sekilas tampak serupa, petis memiliki variasi yang berbeda-beda tergantung daerah asalnya. Jika berkunjung ke toko oleh-oleh, akan menemukan dua jenis yang paling dominan: Petis Surabaya dan Petis Madura. Agar tidak salah pilih, penting untuk mengenali perbedaan keduanya dari sisi bahan baku, warna, hingga profil rasa.

Baca juga: Petis Bumbon, Kuliner Legendaris Semarang yang Hanya Ada Saat Ramadan

Bahan Baku: Sari Udang vs Sari Ikan

Perbedaan paling fundamental terletak pada bahan dasar pembuatannya. Pemilik usaha Petis Maju Tresno di Gresik, Faizul Mubarok, menjelaskan bahwa perbedaan utama ada pada jenis ekstrak yang digunakan.

"Kalau Surabaya itu petis udang ya, terbuat dari sari udang. Tapi kalau petis Madura itu dari sari ikan," tutur Faizul saat dihubungi Kompas.com, Rabu (09/02/2022).

Meski begitu, Faizul menambahkan bahwa ada pula varian petis Surabaya yang menggunakan sari ikan namun dimasak dengan gula hingga menghitam. Sementara itu, Petis Madura asli umumnya berasal dari sari ikan laut seperti ikan pindang atau ikan cakalang yang direbus hingga kaldunya mengental, lalu ditambah garam.

Baca juga: Petis Bumbon Semarang, Menu Buka Puasa Semarang yang Hanya Muncul Setahun Sekali

Warna dan Tekstur: Hitam Pasta vs Merah Karamel

Secara visual, Anda bisa membedakan kedua bumbu ini dengan mudah:

  • Petis Surabaya (Petis Udang): Umumnya berwarna hitam pekat dengan tekstur menyerupai pasta yang liat.
  • Petis Madura: Memiliki warna yang lebih terang, yakni cokelat kemerahan. Teksturnya lebih mirip dengan saus karamel atau gula yang dilelehkan.

Profil Rasa dan Penggunaan

Soal rasa, keduanya memiliki karakter yang bertolak belakang. Petis Udang Surabaya cenderung memiliki rasa manis gurih karena penggunaan gula merah atau gula pasir yang cukup dominan. Bumbu ini menjadi kunci kelezatan tahu tek dan tahu campur.

Di sisi lain, Petis Madura memiliki rasa yang cenderung asin dengan aroma laut (ikan) yang sangat tajam. Karena rasa asinnya yang kuat, petis ini sering digunakan sebagai bumbu utama rujak buah atau rujak lontong khas Madura.

Baca juga: 10 Resep Seafood Khas Jawa Timur, dari Kepiting Kluwek hingga Cumi Petis yang Bikin Ketagihan

Sejarah Panjang Petis: Warisan Sejak Abad Ke-7

Ilustrasi sate kerang dan lontong kupang, kuliner khas Sidoarjo.DOK.SHUTTERSTOCK/Andre firnandy Ilustrasi sate kerang dan lontong kupang, kuliner khas Sidoarjo.
Petis bukan sekadar hasil olahan dapur modern. Merujuk pada buku Kisah Tentang Petis, bumbu ini disinyalir sudah dikenal sejak abad ke-7 di pesisir utara Jawa. Berawal dari kreativitas nelayan yang melimpah hasil tangkapannya, mereka mengawetkan sari rebusan ikan dan udang hingga menjadi cairan kental.

Catatan sejarah juga ditemukan dalam tulisan Thomas Stamford Raffles (1811–1816) yang menyinggung petis sebagai olahan sisa rebusan udang di Jawa. Bahkan, dalam Babad Cirebon, petis dikaitkan dengan masa Kerajaan Pajajaran.

"Petis bahkan berinteraksi dengan beragam sajian yang berakar pada tradisi kuliner lain. Tahun 1900, petis buatan Nyonya Siok sudah memasang iklan di koran," kata Dukut Imam Widodo, penulis buku Monggo Dipun Badhog.

Baca juga: Resep Tahu Telur Khas Surabaya dengan Sambal Kacang Petis Medok, Bikinnya Cuma 10 Menit!

Teknologi Pengawetan Rasa

Antropolog Dr. Abdul Latif Bustami dari Universitas Negeri Malang menyebutkan bahwa bagi masyarakat Madura, petis adalah bentuk teknologi pangan.

"Ikan adalah sumber lauk utama. Ketika ikan berlimpah, mereka mengolahnya menjadi petis agar tahan lama. Petis bukan sekadar bumbu, melainkan teknologi pengawetan rasa," jelasnya dalam buku Seri Budaya Kuliner: Madura dan Petis.

Hal senada diungkapkan pakar bisnis kuliner Universitas Ciputra, Bambang Hermanto. Ia menyamakan prinsip petis dengan saus steak modern.

"Bumbu steak daging sapi itu sebenarnya juga sari pati kaldu yang diolah menjadi saus. Bedanya, petis diolah apa adanya hanya mengentalkan air rebusan hasil laut," pungkas Bambang.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul Petis Madura, Bumbu Laut Legendaris Identitas Kuliner Pesisir Jawa Timur dan Apa Bedanya Petis Surabaya dan Petis Madura?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Surabaya
Beda Petis Madura dan Petis Surabaya, dari Bahan Baku, Tekstur, hingga Sejarahnya
Beda Petis Madura dan Petis Surabaya, dari Bahan Baku, Tekstur, hingga Sejarahnya
Surabaya
Tabrak Truk Parkir, Ibu dan Balita di Jombang Tewas
Tabrak Truk Parkir, Ibu dan Balita di Jombang Tewas
Surabaya
7 ASN Kota Pasuruan Bolos Hari Pertama Kerja, Ancaman Sanksi Menanti
7 ASN Kota Pasuruan Bolos Hari Pertama Kerja, Ancaman Sanksi Menanti
Surabaya
Hemat BBM, ASN Pamekasan Diminta Bersepeda, Model WFH Masih Dibahas
Hemat BBM, ASN Pamekasan Diminta Bersepeda, Model WFH Masih Dibahas
Surabaya
Unair Terima 2.506 Mahasiswa SNBP 2026, Kuota Naik Jadi 23 Persen
Unair Terima 2.506 Mahasiswa SNBP 2026, Kuota Naik Jadi 23 Persen
Surabaya
SNBP 2026 Unair: 75,5 Persen Mahasiswa Baru Perempuan, Termuda Usia 14 Tahun
SNBP 2026 Unair: 75,5 Persen Mahasiswa Baru Perempuan, Termuda Usia 14 Tahun
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau