Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pelek Standar vs Aftermarket, Mana yang Lebih Cepat Rusak?

Kompas.com, 1 Maret 2026, 09:01 WIB
Gilang Satria,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Banyak pemilik mobil kerap bertanya, mana yang lebih cepat rusak, pelek standar bawaan pabrikan atau pelek aftermarket.

Sebagian orang menilai pelek aftermarket lebih ringkih karena desainnya beragam dan sering dipilih demi menunjang tampilan. Di sisi lain, ada pula yang beranggapan pelek bawaan mobil pasti lebih kuat karena sudah melalui berbagai pengujian dari pabrikan.

Baca juga: Radiator Bermasalah Bisa Bikin Mobil Matik Tak Kuat Nanjak? Ini Penjelasannya

Menanggapi hal tersebut, Runang dari HWS Wheel, Car Part & Accessories di kawasan H. Nawi, Jakarta Selatan, menegaskan bahwa keduanya pada dasarnya memiliki risiko kerusakan yang sama.

Toko dan servis pelek mobil HWS WheelKOMPAS.com/Gilang Toko dan servis pelek mobil HWS Wheel

“Nah, pelek standar pabrikan maupun pelek aftermarket sebenarnya sama-sama rentan rusak," kata Runang yang ditemui di Jakarta, belum lama ini.

"Karena pelek itu kontak langsung dengan jalan dan sangat dipengaruhi cara kita berkendara. Jadi pada dasarnya semua pelek bisa saja mudah rusak, tetapi ada cara untuk mencegahnya," kata Runang.

Menurut dia, pelek standar maupun aftermarket sama-sama bisa awet atau cepat rusak, tergantung cara pemakaian dan perawatannya. Karena itu, pemilik mobil perlu lebih memperhatikan faktor pendukung, terutama kondisi ban.

Baca juga: Pembatasan Operasional Truk Lebaran 2026 di Semarang: Ini Rute yang Terdampak

Runang mengatakan, kunci utamanya adalah rutin mengecek tekanan angin ban serta menghindari benturan keras saat melintasi jalan berlubang atau tidak rata.

pelek mobil retakAnantyo Herlambang pelek mobil retak

"Paling penting untuk diingat, pelek biasanya rusak ketika kita lupa mengecek tekanan angin ban. Saat tekanan angin kurang dan kemudian bertemu impact di jalan, kerusakan bisa terjadi lebih cepat. Itu yang harus dihindari supaya pelek tidak cepat rusak," ujarnya.

"Tekanan angin ban yang kurang membuat ban tidak mampu meredam benturan secara optimal saat menghantam lubang atau permukaan jalan rusak. Akibatnya, beban benturan langsung diteruskan ke pelek," katanya.

Karena itu, tekanan angin ban harus selalu dijaga sesuai rekomendasi.

Baca juga: Cara Yamaha Racing Indonesia Melahirkan Penerus Aldi Satya Mahendra

"Tekanan angin harus rutin dicek dan dijaga, biasanya di kisaran 34–35 psi. Kalau ban tipis, bisa 40–42 psi, umumnya seperti itu," ujar Runang.

Pelek New Pajero SportKOMPAS.com/DIO DANANJAYA Pelek New Pajero Sport

Baca juga: Hasil Klasemen Usai Sprint Race MotoGP Thailand 2026: Acosta Memimpin

Mengenai kualitas produk, Runang mengatakan ada harga ada rupa, khususnya untuk pelek aftermarket yang tersedia dalam berbagai merek dan rentang harga.

"Kalau memilih pelek aftermarket, sebaiknya pastikan membeli merek yang sudah punya nama atau sudah terkenal. Bukan soal garansi, tetapi reputasi merek tersebut biasanya dijaga, sehingga kualitasnya lebih baik," ujarnya.

"Sementara pelek bawaan mobil pada dasarnya sudah bagus, karena sebelumnya sudah melalui berbagai pengujian dari pabrikan,” kata Runang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau