Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Phantom Traffic: Kemacetan Semu di Jalan Tol Tanpa Sebab

Kompas.com, 25 Maret 2026, 10:02 WIB
Gilang Satria,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Saat melintas di jalan tol, pengemudi kerap menemui kemacetan yang terasa janggal.

Arus tiba-tiba melambat tanpa penyebab jelas seperti kecelakaan atau kendaraan mogok.

Baca juga: Mesin Mobil Tersendat Jangan Diabaikan, Ini Penyebabnya

Fenomena ini dikenal sebagai phantom traffic atau kemacetan semu.

Arus balik mudik Lebaran di ruas tol Purbaleunyi KM 125, Kota Cimahi, Jawa Barat pada Senin (23/3/2026) sore.KOMPAS.com/BAGUS PUJI PANUNTUN Arus balik mudik Lebaran di ruas tol Purbaleunyi KM 125, Kota Cimahi, Jawa Barat pada Senin (23/3/2026) sore.

Kondisi tersebut umumnya terjadi akibat perilaku berkendara yang tidak konsisten.

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa phantom traffic justru bertentangan dengan tujuan jalan tol yang dirancang untuk menjaga kelancaran arus kendaraan.

Phantom traffic adalah perilaku berlalu lintas yang justru menghambat tujuan keberadaan jalan tol itu sendiri. Kemacetan semacam ini bisa terjadi meskipun kondisi jalan terlihat lancar, tanpa ada hambatan fisik di depan," kata Jusri yang dihubungi Kompas.com, belum lama ini.

Baca juga: One Way Nasional Berlaku, Arah Bandung Diimbau Keluar di Km 72

"Padahal, jika dilihat dari atas menggunakan drone, tidak ada hambatan apa pun yang terlihat di depan," ujarnya.

Kendaraan terjebak macet menuju puncak Bogor saat mudik Lebaran 2026KOMPAS.com/ JANLIKA PUTRI Kendaraan terjebak macet menuju puncak Bogor saat mudik Lebaran 2026

Lebih lanjut, Jusri menjelaskan bahwa kemacetan ini biasanya berawal dari hal kecil yang kemudian menimbulkan efek berantai ke kendaraan di belakangnya.

Baca juga: Ulas Struktur Baterai C2C di Leapmotor yang Akan Masuk Indonesia

"Inilah yang disebut sebagai phantom traffic, kemacetan semu yang muncul akibat perilaku berkendara yang tidak konsisten, seperti sering mengerem mendadak atau tidak menjaga jarak aman," katanya.

"Karena itu, menjaga kecepatan tetap stabil, menghindari pengereman yang tidak perlu, serta memberi jarak aman dengan kendaraan di depan menjadi kunci untuk mencegah terjadinya fenomena ini,” ujar Jusri.

Penjelasannya, ungkap Jusri, jika satu mobil melaju sekitar 80 km/jam, maka kendaraan di belakangnya mungkin hanya mampu melaju 70 Km/jam.

Selanjutnya, kendaraan di belakangnya akan melaju lebih lambat lagi, dan kondisi ini terus berlanjut ke kendaraan berikutnya.

Akibatnya, jika kendaraan di depan sering mengerem mendadak dan pengemudi di belakang tidak menjaga jarak aman, maka kendaraan paling belakang bisa melambat drastis bahkan berhenti.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau